Pramono Tekankan Penguatan Infrastruktur dan Penataan Ekonomi di Tanah Abang

- Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo , menegaskan komitmennya untuk memastikan pembangunan infrastruktur tidak mengorbankan fungsi vital lingkungan di wilayah Tanah Abang .
- Dalam rapat koordinasi kecamatan pada Kamis, Pramono secara tegas menolak usulan awal pembangunan trotoar di Jalan Kampung Bali XXV karena struktur tersebut berpotensi dibangun di atas saluran air.
- Ia menekankan bahwa prioritas utama penataan fasilitas pejalan kaki harus menjaga kelancaran drainase, sehingga solusi teknis harus ditemukan tanpa mengorbankan keselamatan air di kawasan padat tersebut.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan komitmennya untuk memastikan pembangunan infrastruktur tidak mengorbankan fungsi vital lingkungan di wilayah Tanah Abang. Dalam rapat koordinasi kecamatan pada Kamis, Pramono secara tegas menolak usulan awal pembangunan trotoar di Jalan Kampung Bali XXV karena struktur tersebut berpotensi dibangun di atas saluran air. Ia menekankan bahwa prioritas utama penataan fasilitas pejalan kaki harus menjaga kelancaran drainase, sehingga solusi teknis harus ditemukan tanpa mengorbankan keselamatan air di kawasan padat tersebut.
Untuk mengatasi kendala teknis ini, Pemprov DKI Jakarta memutuskan untuk melakukan kajian lapangan menyeluruh. Sebagai alternatif, pemerintah menggodok opsi penyesuaian lebar jalan yang berpotensi mengubah konfigurasi lalu lintas menjadi satu arah. Selain itu, penataan pohon pelindung yang dikelola oleh Dinas Pertamanan juga akan dirapikan agar tidak menutupi่ง็บฟ (visibilitas) sekaligus mendukung kenyamanan jalur pedestrian. Pramono menegaskan bahwa segala permintaan dari Camat Tanah Abang dan jajarannya akan ditindaklanjuti secara bertanggung jawab di lapangan.
Pendekatan Bertahap dalam Penataan Kawasan Perdagangan
Persoalan penataan tidak hanya sebatas infrastruktur jalan, tetapi juga mencakup vitalitas ekonomi setempat. Pramono memutuskan bahwa penataan kawasan perdagangan Blok A hingga F Tanah Abang akan dilakukan secara bertahap dengan satu tujuan utama: menjaga mata pencaharian pedagang dan masyarakat setempat tetap hidup. Pendekatan ini menghindari pengusiran massal yang sering terjadi dalam revitalisasi urban lainnya, dengan fokus pada harmonisasi antara ketertiban kota dan keberlanjutan ekonomi warga.
Rencana penataan ini mencakup empat pilar utama perbaikan lingkungan dan ketertiban:
- Pengaturan sistem parkir untuk mengurai kemacetan dan kesemrawutan.
- Penertiban aktivitas ilegal yang mengganggu ketertiban umum.
- Pengelolaan sampah yang lebih terstruktur.
- Pembenahan fasilitas pendukung agar aktivitas ekonomi tetap kondusif.
Fokus Strategis dan Pengelolaan Sampah Modern
Dalam kesempatan yang sama, Pramono membahas tiga persoalan strategis lainnya, yakni pengendalian banjir, keselamatan pejalan kaki, dan pemenuhan fasilitas pendidikan. Langkah konkret dalam pengelolaan lingkungan diwujudkan melalui penerapan fasilitas TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) yang menjadi andalan Pemprov DKI dalam mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA. Dengan sinergi antara penataan fisik, ekonomi, dan lingkungan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap wilayah Tanah Abang dapat menjadi model kawasan urban yang tertata, ramah pejalan kaki, dan tetap produktif secara ekonomi.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Gagal Amankan Kemenangan Ketiga, Isyana/Rinjani Tersingkir di Babak 16 Besar Korea Open 2026

UMKM di Mempawah Ditingkatkan Kapasitasnya Lewat Program Kosabangsa UMP Pontianak

Pemkot Jakarta Barat Tata Kabel Semrawut 3 KM di Kembangan Raya, Target Rampung 3 Minggu
