Kamis, 5 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

OJK: Stabilitas Sektor Keuangan RI Kokoh di Tengah Badai Geopolitik dan Inflasi Global

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Market & Saham
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

OJK: Stabilitas Sektor Keuangan RI Kokoh di Tengah Badai Geopolitik dan Inflasi Global
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Friderica, akrab Kik, menyampaikan pandangan ini dalam konferensi press RDK OJK secara virtual pada Kamis (5/11/2026).
  • Ia menambahkan bahwa keterbatasan ruang fiskal di berbagai negara menghambat kemampuan pemerintah untuk memberikan subsidi, pada gilirannya memicu ketegangan anggaran secara luas.
  • Tren Risk-Off dan Kekuatan Fundamental Domestik Ekspektasi suku bunga tinggi dan gelombang ketidakstabilan global tersebut telah mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan internasional.

Di tengah eskalasi konflik geopolitik dan tekanan inflasi global yang kian mengkhawatirkan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga dengan baik. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa dinamika inflasi global saat ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga energi, yang memicu lonjakan harga di sejumlah negara maju seperti Jepang dan Inggris, bahkan melampaui rentang target inflasi masing-masing negara.

Kondisi makroekonomi global yang bergejolak ini mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga, sehingga pengetatan kebijakan moneter diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2027 (sejalan dengan target akselarator pertumbuhan ekonomi Indonesia). Friderica, akrab Kik, menyampaikan pandangan ini dalam konferensi press RDK OJK secara virtual pada Kamis (5/11/2026). Ia menambahkan bahwa keterbatasan ruang fiskal di berbagai negara menghambat kemampuan pemerintah untuk memberikan subsidi, pada gilirannya memicu ketegangan anggaran secara luas.

Tren Risk-Off dan Kekuatan Fundamental Domestik

Ekspektasi suku bunga tinggi dan gelombang ketidakstabilan global tersebut telah mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan internasional. Meskipun demikian, kinerja bursa global masih ditopang oleh saham-saham teknologi yang terus bergerak naik. Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat. Permintaan domestik meningkat, pertumbuhan uang beredar tercatat positif, inflasi inti stabil, serta penjualan kendaraan yang solid.

  • Indeks Manufaktur (PMI) Oktober naik ke level 54, tertinggi sejak Maret 2024.
  • Pertumbuhan ekonomi nasional triwulan III 2026 terjaga di level 5,4%.
  • Seluruh lapangan usaha mencatat pertumbuhan positif.

Data-data tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas manufaktur dan konsumsi domestik menjadi penopang utama perekonomian nasional, menjaga Indonesia tetap stabil di tengah gejolak eksternal. Data resmi BPS mengonfirmasi bahwa sektor perdagangan dan pengolahan menjadi penopang utama, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,47 persen.

Implikasi Kebijakan dan Prospek Ke Depan

Stabilitas yang dijaga OJK ini menjadi sinyal positif bagi investor domestik maupun asing bahwa Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk menghadapi volatilitas global. Dengan pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas 5% dan inflasi yang terkendali, pemerintah dan bank sentral memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan yang pro-pertumbuhan tanpa mengorbankan stabilitas harga. Keberhasilan menjaga sentimen pasar di tengah tekanan global menunjukkan efektivitas koordinasi kebijakan moneter dan fiskal yang telah diterapkan. Lonjakan jumlah investor yang mencapai 1,38 juta orang per Oktober 2026, seperti dicatatkan dalam laporan OJK, semakin memperkuat optimisme terhadap prospek pasar modal nasional.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ