Gangguan Teknis Saat Water Bombing Picu Jatuhnya Helikopter MI-17 Penerbad di Seruyan, 1 Kru Meninggal Dunia
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Helikopter MI 17V5 milik Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) jatuh di perairan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, pada Rabu (4/11) saat menjalankan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
- Sesuai siaran resmi Kadispenad Brigjen TNI Donny Pramono , insiden tersebut mengakibatkan satu kru meninggal dunia dengan jenazah telah dievakuasi ke RS Kuala Pembuang.
- Sementara itu, lima personel lainnya ditemukan dalam kondisi selamat dan tengah dirawat di rumah sakit yang sama, disisakan dua kru yang masih dalam proses evakuasi oleh tim gabungan.
Helikopter MI 17V5 milik Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) jatuh di perairan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, pada Rabu (4/11) saat menjalankan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sesuai siaran resmi Kadispenad Brigjen TNI Donny Pramono, insiden tersebut mengakibatkan satu kru meninggal dunia dengan jenazah telah dievakuasi ke RS Kuala Pembuang. Sementara itu, lima personel lainnya ditemukan dalam kondisi selamat dan tengah dirawat di rumah sakit yang sama, disisakan dua kru yang masih dalam proses evakuasi oleh tim gabungan.
Kabid Humas Polda Kalteng, Kombes Pol Budi Rachmat, menjelaskan bahwa jatuhnya helikopter registrasi PK-DAP tersebut diduga kuat disebabkan oleh gangguan teknis. Gangguan ini terjadi saat penerbang helikopter tengah melaksanakan manuver pengambilan air untuk mendukung operasi water bombing. Secara spesifik, kecelakaan tersebut terjadi di wilayah perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, saat helikopter menjalankan misi pengisian air secara rutin.
Kronologi Kecelakaan dan Data Personel
Helikopter MI-17 ini sebelumnya meluncur dari Kuala Pembuang pada pukul 09.55 WIB dengan rute operasi Kuala Pembuang-Telaga Pulang-Kuala Pembuang. Informasi awal terkait kecelakaan diterima oleh tim penyelamat saat helikopter PK-DAP dari Kementerian Kehutanan menerima komunikasi radio darurat dari helikopter Bell 412 Penerbad. Terdapat delapan personel yang terdata berada di dalam kabin, terdiri dari Mayor Cpn Dudi, Kapten Cpn Febri, Lettu Cpn Hafiz, Kapten Cpn Suganda, Lettu Cpn Fercis, Pratu Gilang, Serda Sardi, dan Serka Kadiya. Pada tahap penyelamatan awal, empat kru pertama berhasil diangkat menggunakan bucket dari helikopter PK-DAP. Setelah itu, para korban dipindahkan menggunakan helikopter Bell 412 menuju Bandara Kuala Pembuang untuk penanganan medis, sementara helikopter PK-DAP kembali ke pangkalan karena bahan bakarnya menipis.
Respons Lanjutan dan Kendala Lapangan
Menyadari minimnya persediaan bahan bakar, informasi penyelamatan diteruskan kepada tim darat di Kuala Pembuang yang kini bekerja sama dengan jalur laut dan udara. Tim gabungan saat ini mengerahkan dukungan tambahan berupa helikopter Kamov untuk menyelamatkan dua kru yang masih belum ditemukan. Terkait terbatasnya jaringan komunikasi di sekitar lokasi perairan diakui sebagai salah satu kendala utama dalam pelaporan real-time perkembangan pencarian. Meski demikian, semua upaya diarahkan pada prioritas keselamatan kru, dan tim gabungan tidak akan berhenti hingga seluruh personel yang tersisa berhasil dievakuasi dengan aman.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

M. Kafrawy Saenong: Kehadiran Wapres di Peringatan 100 Tahun Injil Sulbar Wujudkan Toleransi Inklusif

Pakar Hukum Buka Jalan: Suket Pendidikan Gibran Bisa Diajukan Ulang Setelah Dibatalkan MA

Satgas PKH Dalami Keterkaitan Afiliasi Perusahaan AK dengan Oknum Jenderal Polri
