Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Rupiah Melemah ke Rp18.155 per Dolar AS, BI Tekankan Dampak Eskalasi Geopolitik Timur Tengah

Ekonomi & PasarSiti AmaliaSiti AmaliaSumber: CNBC Market & Saham
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Rupiah Melemah ke Rp18.155 per Dolar AS, BI Tekankan Dampak Eskalasi Geopolitik Timur Tengah
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Menurut data Refinitiv, pergerakan rupiah sepanjang hari ini relatif terbatas, berfluktuasi dalam rentang sempit antara Rp18.100 hingga Rp18.180 per dolar AS.
  • Kondisi ini menandakan adanya kehati-hatian dari pelaku pasar dalam menentukan arah mata uang, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi aset negara berkembang.
  • Analisis BI: Tekanan Eksternal dari Timur Tengah dan Kebijakan AS Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi bahwa pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir didorong secara dominan oleh faktor eksternal.

Rupiah kembali mencatatkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (4/11/2026), menutup sesi di level Rp18.155/US$ atau turun 0,11% dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp18.135/US$. Meskipun indeks dolar AS (DXY) sempat melemah 0,45% ke posisi 101,405 pada pukul 15.00 WIB, sentimen positif tersebut belum cukup untuk mendorong mata uang Garuda kembali menguat di tengah tekanan pasar yang persisten.

Menurut data Refinitiv, pergerakan rupiah sepanjang hari ini relatif terbatas, berfluktuasi dalam rentang sempit antara Rp18.100 hingga Rp18.180 per dolar AS. Kondisi ini menandakan adanya kehati-hatian dari pelaku pasar dalam menentukan arah mata uang, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi aset negara berkembang.

Analisis BI: Tekanan Eksternal dari Timur Tengah dan Kebijakan AS

Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi bahwa pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir didorong secara dominan oleh faktor eksternal. Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI, menjelaskan bahwa tekanan ini berakar dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta pengetatan kebijakan moneter AS yang mengubah sentimen investor global terhadap aset negara berkembang.

Destry mengungkapkan bahwa rupiah sempat menunjukkan performa lebih baik dengan menguat hingga kisaran Rp17.800/US$ pada akhir September 2026. Namun, memasuki bulan Oktober, mata uang domestik kembali tertekan dan tren negatif tersebut berlanjut hingga awal November. "Pelemahan dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, pengetatan kebijakan moneter AS dan sentimen investor global terhadap aset negara berkembang," ujar Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Selasa (3/11/2026).

Fokus Pasar: Rilis Neraca Perdagangan AS dan Implikasinya

Perhatian investor saat ini tertuju pada rilis data neraca perdagangan AS untuk September 2026 yang dijadwalkan pada malam ini pukul 20.30 WIB. Data ini krusial untuk menentukan apakah defisit perdagangan AS akan kembali melebar atau mulai menyempit, yang pada gilirannya akan memengaruhi pergerakan dolar AS dan rupiah.

Sebagai konteks, defisit perdagangan AS pada Agustus telah melebar menjadi US$105,6 miliar dari US$92,8 miliar pada Juli, menjadikannya yang terbesar sejak Maret 2025. Pelebaran ini terjadi akibat lonjakan impor sebesar US$17,2 miliar ke rekor tertinggi US$420,8 miliar, sementara ekspor hanya naik tipis US$4,5 miliar menjadi US$315,2 miliar. Hasil data malam ini akan menjadi indikator penting bagi pasar untuk memetakan volatilitas mata uang ke depan.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ