Prof Ujang Sumarwan: Kolaborasi Multisektor Wajib untuk Mengubah Pakaian Jadi Ramah Lingkungan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Dorongan ini muncul sebagai respons terhadap tingginya volume limbah tekstil yang kian meresahkan, di mana pakaian menjadi produk yang paling sering dibeli oleh konsumen setelah makanan dan minuman.
- "Edukasi diperlukan agar baju bekas tidak langsung menjadi limbah," tegas Ujang dalam keterangannya di Bogor, Rabu.
- Ia menekankan bahwa kesadaran lingkungan tidak selalu berbanding lurus dengan perilaku konsumsi, sehingga perlu pendekatan strategis untuk menjembatani kesenjangan sikap dan tindakan tersebut.
Bogor, Jawa Barat (ANTARA) - Prof. Dr. Ujang Sumarwan, ahli perilaku konsumen dari IPB University, mendesak seluruh elemen masyarakat, mulai dari perguruan tinggi hingga industri, untuk segera berkolaborasi dalam pengembangan bahan baku pakaian yang lebih ramah lingkungan. Dorongan ini muncul sebagai respons terhadap tingginya volume limbah tekstil yang kian meresahkan, di mana pakaian menjadi produk yang paling sering dibeli oleh konsumen setelah makanan dan minuman. "Edukasi diperlukan agar baju bekas tidak langsung menjadi limbah," tegas Ujang dalam keterangannya di Bogor, Rabu. Ia menekankan bahwa kesadaran lingkungan tidak selalu berbanding lurus dengan perilaku konsumsi, sehingga perlu pendekatan strategis untuk menjembatani kesenjangan sikap dan tindakan tersebut.
Kesimpangsiuran antara niat dan aksi konsumen ini dipicu oleh beberapa hambatan struktural. Ujang menjelaskan bahwa harga pakaian ramah lingkungan cenderung lebih mahal dibandingkan bahan konvensional, sementara varietas produk yang tersedia masih terbatas. Selain itu, kurangnya informasi mengenai jenis dan manfaat pakaian ramah lingkungan juga menjadi faktor penghambat. "Kebiasaan mengikuti tren juga perlu diperhatikan," tambahnya. Kondisi ini menunjukkan belum konsistennya hubungan antara sikap positif terhadap lingkungan dan perilaku sehari-hari, termasuk dalam memilih pakaian. Oleh karena itu, perilaku membeli dan memperlakukan pakaian menjadi kunci penting dalam mewujudkan green lifestyle dan konsep kampus hijau.
Kolaborasi Antar Lembaga dan Strategi Edukasi Konsumen
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Prof. Ujang mengusulkan sebuah ekosistem kolaboratif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Perguruan tinggi, pegiat perlindungan konsumen, Kementerian Lingkungan Hidup, dan perusahaan harus bekerja sama dalam kampanye dampak lingkungan produk pakaian. Desainer juga diminta berpikir lebih jauh, bukan hanya estetika, tetapi bagaimana membuat pakaian ramah lingkungan tetap menarik dan fungsional. Menurut Ujang, pengetahuan tentang pakaian ramah lingkungan beserta jenisnya perlu disebarluaskan secara masif agar konsumen memiliki bahan pertimbangan yang cukup sebelum melakukan pembelian. "Idealnya, sikap positif terhadap lingkungan diterapkan dalam tindakan sehari-hari," ujarnya, menekankan pentingnya perubahan budaya konsumsi yang berkelanjutan.
Ujang memberikan contoh langsung dari perilakunya sendiri sebagai model edukasi, di mana pakaian yang tidak lagi terpakai ia serahkan kepada orang lain yang membutuhkan. "Saya sendiri diberikan kepada yang lain," katanya. Langkah sederhana ini dinilai efektif untuk memperpanjang usia pakai produk tekstil dan memberikan nilai manfaat sosial. Inisiatif ini sejalan dengan upaya mengurangi jejak karbon dari industri mode yang berdampak signifikan terhadap lingkungan.
Transformasi Pasar Preloved dan Perpanjangan Masa Pakai Pakaian
Sebagai solusi praktis bagi pakaian bekas, Ujang menyarankan dua jalur utama: menyumbangkan atau menjual kembali melalui pasar preloved. Istilah "preloved" dipilih oleh pegiat ramah lingkungan untuk barang-barang yang masih dicintai dan memiliki kualitas baik, bukan sekadar sampah. Tujuan utamanya adalah memperpanjang siklus hidup pakaian agar tetap bermanfaat bagi orang lain sebelum akhirnya benar-benar menjadi limbah. Strategi ini dinilai lebih efektif daripada sekadar mengumpulkan pakaian bekas yang akhirnya berakhir di tempat pembuangan akhir. Dengan menggabungkan edukasi, kolaborasi institusi, dan pasar sekunder yang sehat, diharapkan limbah pakaian dapat ditekan secara signifikan.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Danantara Dorong Kemitraan Strategis dengan BlackRock dan KKR di New Asia Forum Bali

DPRKP DKI Dorong Pengembang Rusun Fasilitasi Pembentukan PPPSRS untuk Jaga Tata Kelola Hunian

Johnny Depp Buka Peluang Kembali Lawankan Jack Sparrow, Asalkan Jerry Bruckheimer Menulis Naskah yang Tepat
