Oona Insurance (ABDA) Catat Laba Naik 20,65%, Pasar Asuransi Mobil Listrik Jadi Penggerak Utama

- (ABDA) atau Oona Insurance Indonesia berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 20,65% pada kuartal III-2026, didorong oleh lonjakan signifikan di segmen asuransi kendaraan listrik (EV).
- Melalui laporan keuangannya, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke entitas induk ABDA tercatat sebesar Rp134,36 miliar , meningkat dari Rp111,36 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
- Kinerja positif ini berbanding terbalik dengan tren industri asuransi umum nasional yang justru mengalami kontraksi GWP sebesar -0,5% pada kuartal kedua.
PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk. (ABDA) atau Oona Insurance Indonesia berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 20,65% pada kuartal III-2026, didorong oleh lonjakan signifikan di segmen asuransi kendaraan listrik (EV). Melalui laporan keuangannya, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke entitas induk ABDA tercatat sebesar Rp134,36 miliar, meningkat dari Rp111,36 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja positif ini berbanding terbalik dengan tren industri asuransi umum nasional yang justru mengalami kontraksi GWP sebesar -0,5% pada kuartal kedua.
Kinerja gemilang Oona ditopang oleh kenaikan premi bruto gabungan (GWP) sebesar 49,7% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp1,1 triliun. President Director & CEO Oona Insurance Indonesia, Vincent C. Soegianto, menjelaskan bahwa peningkatan ini sejalan dengan naiknya pangsa pasar Oona di segmen kendaraan bermotor dari 3,2% menjadi 3,8%, yang berkontribusi pada kenaikan GWP sebesar Rp72,3 miliar. Saat ini, produk asuransi kendaraan mendominasi portofolio Oona dengan porsi lebih dari 50%, di mana asuransi EV menjadi penggerak utama pertumbuhan.
Dominasi Pasar EV dan Strategi Ekspansi Digital
Vincent menegaskan posisi Oona sebagai pemimpin pasar di sektor ini dengan menyatakan, "Sekarang kita punya market share di EV sekitar 8%. Jadi we are the leading EV insurer in Indonesia. Apa yang kita lakukan menjadi benchmark." Untuk mendukung peningkatan volume bisnis yang pesat, Oona terus memperkuat infrastruktur klaim digital serta menyederhanakan alur kerja proses operasional. Langkah strategis ini mencakup penyederhanaan proses klaim, percepatan persetujuan perbaikan melalui workshop atau pelatihan mitra resmi, serta penerapan pengendalian risiko yang ketat untuk menjaga kualitas layanan.
Dari sisi permodalan, jumlah aset perseroan tercatat sebesar Rp2,95 triliun, dengan ekuitas sebesar Rp1,85 triliun dan liabilitas sebesar Rp1,09 triliun. Vincent menambahkan, "Menjelang tahun 2027, fokus kami adalah membangun ekosistem asuransi yang dapat diakses dengan lancar melalui setiap saluran, mulai dari mitra lembaga keuangan dan agen hingga platform digital langsung." Strategi ini diharapkan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
Proyeksi Ekosistem Asuransi Terintegrasi
Langkah Oona untuk mengintegrasikan berbagai saluran distribusi, baik melalui mitra lembaga keuangan, agen, maupun platform digital langsung, menandai pergeseran paradigma dalam industri asuransi Indonesia. Dengan menjadikan asuransi EV sebagai benchmark, Oona tidak hanya mengejar kuantitas premi, tetapi juga kualitas layanan klaim yang responsif. Penguatan infrastruktur digital ini menjadi kunci untuk mengatasi tantangan operasional yang sering kali menghambat pengalaman nasabah dalam industri asuransi kendaraan.
Keberhasilan Oona dalam mencatatkan pertumbuhan GWP yang jauh melampaui rata-rata industri menunjukkan adanya peluang besar di segmen kendaraan listrik yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Dengan pangsa pasar EV yang solid dan strategi ekspansi yang jelas menuju tahun 2027, ABDA diprediksi akan terus menjadi pemain kunci dalam transformasi digital industri asuransi umum, sekaligus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham melalui efisiensi operasional dan diversifikasi produk yang tepat sasaran.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Rupiah Melemah ke Rp18.155 per Dolar AS, BI Tekankan Dampak Eskalasi Geopolitik Timur Tengah

IHSG Rebound Tajam ke 4.918,52: Tiga Saham BUMN Jadi Penopang Utama di Menit Akhir

Pandu Sjahrir Klarifikasi Sanksi OJK ke Supra Sekuritas: Saham Sudah Dilepas Sejak Juni 2026
