Liliana Gandi: Siswi SMAN 37 Jakarta Ubah Sampah Anorganik Jadi Karpet, 89% Siswa Ikut Gerakan Pilah-Olah
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.

- Liliana Nur Gandi , siswi kelas 2 SMAN 37 Jakarta , membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi motor utama pengelolaan sampah lingkungan.
- Inisiatif ini bukan sekadar keaktifan ekstrakurikuler, melainkan representasi aksi nyata yang memantik inovasi lokal berbasis lingkungan.
- Liliana mengawali geraknya setelah menyaksikan dampak langsung dari buruknya pengelolaan sampah di daerahnya.
Liliana Nur Gandi, siswi kelas 2 SMAN 37 Jakarta, membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi motor utama pengelolaan sampah lingkungan. Melalui inisiatif Duta Bank Sampah, remaja asal Kelurahan Kebon Baru ini berhasil mengubah kebiasaan sekolahnya yang semula apatis menjadi terorganisir, dengan tingkat partisipasi siswa yang kini mencapai 89 persen. Inisiatif ini bukan sekadar keaktifan ekstrakurikuler, melainkan representasi aksi nyata yang memantik inovasi lokal berbasis lingkungan.
Liliana mengawali geraknya setelah menyaksikan dampak langsung dari buruknya pengelolaan sampah di daerahnya. Ia kerap menyaksikan banjir yang terjadi bukan karena sampah anorganik, melainkan akibat sumbatan dari daun kering. Dari pengamatan tersebut, ia berinisiatif membuat kompos dari daun kering. Ia menjelaskan, "Saya sering banget melihat banjir itu kadang muncul tersumbat oleh daun kering, bukan dari sampah anorganik. Makanya, dari situ saya menginisiasikan untuk membuat kompos dari daun kering."
Transformasi Sampah Organik Menjadi Maggot dan Eco-Enzyme
Proses pilah-olah di Duta Bank Sampah memiliki alur kerja yang sistematis. Sampah organik yang terkumpul tidak langsung dibuang, melainkan diolah menjadi eco-enzyme atau digunakan untuk budidaya maggot. "Maggot ini kan sedang viral-viralnya ya, karena banyak proteinnya dan tinggi akan proteinnya. Jadi, saya kasih maggot itu sebagai wadah budidaya," ungkap Liliana. Sementara itu, sampah anorganik yang tersisa disulap menjadi karya bernilai guna, seperti karpet yang dirajut dari bungkus kopi dan kemasan lainnya.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari strategi "bukti visual" yang digunakan Liliana. Alih-alih menyuruh teman-temannya bekerja, ia menunjukkan bahwa sampah organik seperti sisa buah bisa diberikan langsung ke maggot yang dipeliharanya. "Mereka tertarik. Mereka langsung mengumpulkan jika mereka punya sampah organik dari rumah," kata Lilia. Saat ini, SMAN 37 telah berpredikat sekolah Adiwiyata, dan Liliana rutin mengadakan workshop bagi siswa yang masih bingung cara mengolah sampah anorganik.
Apresiasi Pemprov DKI: Lolos Verifikasi 'Pilah Olah Sampah Heroes 2026'
Inovasi Liliana kini memasuki tahap final dalam program Pilah Olah Sampah Heroes 2026 yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik). Program ini bertujuan mengapresiasi pahlawan lingkungan dengan aksi nyata. Sebanyak 15 finalis telah melakukan verifikasi lapangan, dan kini tersisa 10 peserta untuk penjurian terakhir.
- Program diinisiasi oleh Diskominfotik DKI Jakarta
- 2 tahap verifkasi lapangan untuk 15 dan 10 finalis
- Rekor partisipasi siswa SMAN 37 mencapai 89 persen
Puncak acara pengumuman pemenang dan penyerahan penghargaan dijadwalkan berlangsung pada Tuesday (10/11). Penghargaan tersebut akan diserahkan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menandai pengakuan pemerintah atas dampak positif gerakan pilah-olah sampah yang diinisiasi oleh generasi muda Jakarta.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Meta-Analisis Global Ungkap: Video Game Cerdas Kan Otak, Asal Tidak Berlebihan

TEP Unair Gandakan Produksi Telur di Parigi Moutong Lewat Pakan Lokal dan Manajemen Modern

Menko Polkam Dudung Abdurachman Angkat Bicara: Kasus Tersangka LSP Jadi Momentum Pembenahan Polri
