Menekraf Dorong Penguatan Jakarta Vision Lewat Riset Akademisi untuk Basis Kebijakan Ekraf
Mengamati dinamika politik nasional dan kebijakan pemerintah secara kritis.
Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah dan institusi pendidikan tinggi merupakan kunci strategis dalam memastikan pembangunan ekonomi kreatif di ibu kota berjalan berpijak pada data, bukan asumsi. Menteri Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) tersebut menilai bahwa keterlibatan akademisi bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi utama untuk memvalidasi arah kebijakan Jakarta Vision agar tetap relevan dengan dinamika lapangan.
Penekanan ini disampaikan dalam konteks upaya memperkuat basis riset sebagai penopang perencanaan jangka panjang. Harsya melihat bahwa sektor ekonomi kreatif memiliki ekosistem yang kompleks, di mana keputusan kebijakan sering kali berisiko tinggi jika tidak didukung oleh analisis mendalam dari pakar yang independen dan berbasis studi empiris.
Dari sisi institusi, peran akademisi diharapkan dapat mengisi celah pengetahuan yang tidak dapat sepenuhnya dicover oleh data statistik resmi semata. Mereka bertugas mengolah fakta mentah menjadi insight yang dapat dieksekusi, khususnya dalam mendeteksi potensi-potensi baru yang belum terpetakan oleh perangkat daerah maupun kementerian terkait.
Latar belakang penguatan ini muncul di tengah percepatan transformasi digital yang mengubah pola konsumsi produk kreatif secara fundamental. Tanpa landasan riset yang kuat, kebijakan yang diambil berisiko tidak efektif atau malah kontraproduktif, mengingat karakteristik masyarakat urban Jakarta yang dinamis dan sangat responsif terhadap inovasi teknologi serta perubahan tren global.
Langkah ini juga merupakan bentuk komitmen tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) di sektor ekonomi kreatif. Dengan melibatkan akademisi, proses perumusan kebijakan menjadi lebih transparan dan akuntabel, serta membuka ruang diskusi ilmiah yang sehat antara pemangku kepentingan, dari pelaku industri hingga masyarakat umum yang terdampak.
Analisis Redaksi
Gerakan ini merupakan pengakuan jujur bahwa kecepatan industri kreatif seringkali melampaui kemampuan regulasi jika tidak diimbangi dengan kedalaman studi. Melibatkan akademisi adalah upaya preventif untuk menghindari kebijakan yang reaktif dan tidak berbasis data. Ini adalah langkah korektif yang diperlukan agar visi jangka panjang tidak sekadar menjadi slogan politik, tetapi instrumen pembangunan yang terukur.
Yang perlu diwaspadai adalah potensi inkonsistensi jika output riset tidak segera diintegrasikan ke dalam mekanisme perencanaan anggaran. Tanpa follow-up yang konkret, kolaborasi ini bisa terjebak dalam seremonial belaka. Keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada kemampuan birokrasi untuk menerjemahkan temuan akademis menjadi program kerja yang nyata dan terimplementasi di tingkat lapangan.
Sekedar logika jurnalistik, langkah ini membuka pintu bagi pengawasan publik yang lebih ketat. Masyarakat dan media kini memiliki tolok ukur baru: seberapa besar kontribusi riset dalam memvalidasi klaim-klaim kebijakan? Jika tren ini berlanjut, akan ada standar kualitas lebih tinggi dalam setiap deklrasi program ekraf di masa depan.