Warisan Bima Terang: Naskah Bo' Sangaji Kai Resmi Masuk Daftar UNESCO MOWCAP
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Manuskrip kuno Bo' Sangaji Kai milik Kesultanan Bima akhirnya memperoleh pengakuan global setelah ditetapkan dalam Memory of the World Register for Asia and the Pacific (MOWCAP) UNESCO pada 5 November 2026.
- Dokumen berusia ratusan tahun ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bukti kemajuan peradabaan lokal yang merekam tata kelola, hukum, dan peristiwa vulkanik besar dunia jauh sebelum era modern.
- Kepemimpinan dan warisan keilmuan dari Kesultanan Bima di Nusa Tenggara Barat ini kini menjadi bagian dari ingatan kolektif dunia.
Manuskrip kuno Bo' Sangaji Kai milik Kesultanan Bima akhirnya memperoleh pengakuan global setelah ditetapkan dalam Memory of the World Register for Asia and the Pacific (MOWCAP) UNESCO pada 5 November 2026. Dokumen berusia ratusan tahun ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bukti kemajuan peradabaan lokal yang merekam tata kelola, hukum, dan peristiwa vulkanik besar dunia jauh sebelum era modern. Kepemimpinan dan warisan keilmuan dari Kesultanan Bima di Nusa Tenggara Barat ini kini menjadi bagian dari ingatan kolektif dunia.
Dr. Dewi Ratna Muchlisa, Kepala Museum Samparaja Bima yang merupakan keturunan Sultan Bima XIV Muhammad Salahuddin, menyampaikan rasa syukurnya atas terealisasinya mimpi panjang tersebut. Dalam forum MOWCAP di Jakarta pada Rabu (4/11/2026), ia memaparkan bahwa naskah ini menghadirkan perspektif unik masyarakat lokal terhadap sejarah global. Sebagaimana diungkapkannya, "Alhamdulillah, harapan dan mimpi Bo' Sangaji Kai mendapatkan MoW UNESCO akhirnya terwujud." Pengakuan ini menegaskan bahwa leluhur masyarakat Bima memiliki sistem pengetahuan yang maju dan terstruktur.
Jejak Sejarah Tambora dan Evolusi Aksara Kerajaan
Salah satu nilai historiografis tertinggi dari manuskrip ini adalah catatannya mengenai letusan Gunung Tambora pada April 1815. Di saat dunia baru mulai mengenali dampak vulkanik terbesar dalam sejarah, masyarakat Kesultanan Bima telah merekam jejak bencana tersebut secara mendetail, lengkap dengan dampak iklim dan sosialnya. Tradisi pencatatan ini berakar kuat pada era sebelumnya yang menggunakan daun lontar dengan aksara Mbojo. Namun, pada masa pemerintahan Sultan Abil Khair Sirajuddin di tahun 1645, terjadi transisi penting di mana penulisan beralih ke bahasa Melayu dengan aksara Arab. Pergeseran media dan bahasa ini memungkinkan perekaman peristiwa yang lebih luas hingga abad ke-19, menjadikannya saksi sejarah dari pusat peristiwa.
Kontribusi Lintas Disiplin dalam Ingatan Dunia
Konten di dalam Bo' Sangaji Kai sangat kaya dan multidimensi. Selain kronik bencana, naskah ini memuat regulasi strategis kerajaan yang berdampak pada studi hukum dan ekonomi saat ini. Beberapa elemen penting yang terekam di dalamnya meliputi:
- Hukum bandar dan tata kelola maritim, termasuk Undang-Undang Laut Malaka yang menggambarkan dinamika perdagangan internasional masa lampau.
- Hukum adat pertanahan yang mengatur hubungan masyarakat dengan sumber daya alam.
- Rekam jejak perlindungan hak perempuan dan tradisi Hanta Ua Pua yang masih lestari hingga saat ini.
Lebih dari sekadar arsip kerajaan, Bo' Sangaji Kai kini menjadi sumber kajian vital bagi berbagai disiplin ilmu mulai dari sejarah, geografi, hingga astronomi. Dengan masuknya naskah ini ke dalam daftar MOWCAP, Bima tidak hanya mengafirmasi identitas budayanya, tetapi juga menempatkan dirinya sebagai kontributor aktif dalam memelihara ingatan sejarah dunia yang lebih inklusif.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Petaka Water Bombing di Kalsel: Yayan, Kru Heli yang Turun untuk Bertugas, Ditemukan Meninggal

Sugiono: Program Gentengisasi Picu Dampak Beruntun Positif bagi Ekonomi Rakyat

Madiun Kerek Produksi Padi 9,79 Persen dengan Peran Strategis KTNA dalam Perkuat Ketahanan Pangan
