Percepatan Proyek: Trenggono Dorong Tambak Udang Raksasa di NTT Selesai Operasional 2028
Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

- Hingga awal November 2026, progres fisik proyek ini telah mencapai hampir 20%, dengan target lonjakan signifikan menjadi 50% pada Desember 2026 berbasis basis material di lokasi.
- Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, TB Haeru Rahayu , menjelaskan bahwa percepatan ini mengubah skenario operasional yang semula ditargetkan untuk beberapa tahun ke depan.
- "Kalau sebenarnya, kontraknya itu 3 tahun, tapi Pak Presiden minta kepada Pak Menteri (Trenggono) percepatan menjadi 2 tahun.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengakselerasi pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan target penyelesaian konstruksi pada akhir 2027. Langkah strategis ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono untuk memangkas durasi proyek dari rencana awal tiga tahun menjadi hanya dua tahun. Hingga awal November 2026, progres fisik proyek ini telah mencapai hampir 20%, dengan target lonjakan signifikan menjadi 50% pada Desember 2026 berbasis basis material di lokasi.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, TB Haeru Rahayu, menjelaskan bahwa percepatan ini mengubah skenario operasional yang semula ditargetkan untuk beberapa tahun ke depan. "Kalau sebenarnya, kontraknya itu 3 tahun, tapi Pak Presiden minta kepada Pak Menteri (Trenggono) percepatan menjadi 2 tahun. Kalau begitu, maka akhir 2027 konstruksi harus sudah selesai semua. Berarti awal 2028 itu sudah mulai operasional," ujar Haeru kepada CNBC Indonesia. Perhitungan progres 50% pada Desember ini menggunakan metode Material On Site (MOS), yang mengukur volume material yang sudah berada di lokasi proyek, bukan sekadar persentase selesai secara struktural.
Metode Konstruksi Paralel di 12 Klaster
Dalam menjalankan percepatan target tersebut, KKP menerapkan strategi pembangunan simultan atau paralel. Haeru menjelaskan bahwa pengerjaan tidak dilakukan secara sekuensial (menyelesaikan satu klaster terlebih dahulu), melainkan di seluruh bagian proyek secara bersamaan. "Kita sekaligus membangunnya, jadi progres keseluruhan. Ibarat bangunan, nggak satu dulu jadi gitu, jadi kita ada yang di intake, ada yang di ini, semua gitu dihitungnya secara keseluruhan," jelasnya. Pendekatan ini memastikan bahwa seluruh komponen infrastruktur pendukung berjalan beriringan untuk mengejar ketertinggalan waktu akibat percepatan durasi kontrak.
Kapasitas Produksi dan Dampak Ekonomi Lokal
Proyek tambak udang terintegrasi (ISF) Waingapu ini berskala raksasa, menempati lahan seluas 2.150 hektare di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawai. Kawasan ini dirancang dengan konfigurasi teknis yang masif untuk mendukung budidaya industri modern. Berikut rincian kapasitas infrastruktur yang dibangun:
- 12 Klaster pembudidaya yang terintegrasi sebagai satu kesatuan sistem.
- 1.536 Kolam Budidaya udang untuk produksi massal.
- 192 Kolam Tandon sebagai penampung dan pengendali kualitas air.
- 48 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) klaster untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Pendekatan pembangunan paralel dan percepatan kontrak ini tidak hanya bertujuan untuk memangkas waktu, tetapi juga mempercepat injecksi dampak ekonomi ke daerah. Dengan target operasional pada awal 2028, proyek ini diharapkan menjadi motor penggerak devisa devisa ekspor udang Indonesia serta menciptakan lapangan kerja luas di Sumba Timur. Keberhasilan pencapaian target 50% pada akhir 2026 menjadi tolok ukur krusial bagi kelancaran fase konstruksi berikutnya.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Petaka Water Bombing di Kalsel: Yayan, Kru Heli yang Turun untuk Bertugas, Ditemukan Meninggal

Sugiono: Program Gentengisasi Picu Dampak Beruntun Positif bagi Ekonomi Rakyat

Madiun Kerek Produksi Padi 9,79 Persen dengan Peran Strategis KTNA dalam Perkuat Ketahanan Pangan
