Pascakecelakaan Helikopter di Kalsel, BNPB Perketat Protokol Keselamatan Operasi Karhutla
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Keputusan ini diambil usai terjadinya kecelakaan sebuah helikopter di Sungai Barito, Kalimantan Selatan, yang berdampak pada logistik pemadaman.
- Peristiwa yang memicu perubahan protokol ini terjadi pada Minggu, 8 November 2026, ketika helikopter Super Puma H-225 dengan registrasi VH-HGM dilaporkan jatuh di perairan Sungai Barito.
- Lokasi kejadian tepatnya berada di Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah melanda sejumlah daerah tetap berjalan tanpa jeda, meski demikian aspek keselamatan operasional udara kini menjadi prioritas ketat. Keputusan ini diambil usai terjadinya kecelakaan sebuah helikopter di Sungai Barito, Kalimantan Selatan, yang berdampak pada logistik pemadaman. Berton SP Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyatakan bahwa tragedi ini tidak mengurangi komitmen pemerintah untuk melanjutkan operasi, namun pelaksanaan di lapangan wajib memperhatikan standar keamanan yang lebih tinggi.
Peristiwa yang memicu perubahan protokol ini terjadi pada Minggu, 8 November 2026, ketika helikopter Super Puma H-225 dengan registrasi VH-HGM dilaporkan jatuh di perairan Sungai Barito. Lokasi kejadian tepatnya berada di Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kejadian ini sempat menimbulkan kekhawatiran akan kelanjutan operasi pemadaman karena keterlibatan armada udara yang vital dalam menangani kebakaran hutan di wilayah rawan.
Status Awak dan Proses Pencarian Korban
Berdasarkan data terbaru yang diterima BNPB, dari tiga awak helikopter tersebut, dua orang berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Kedua orang ini adalah pilot berkewarganegaraan Australia yang kini telah mendapatkan penanganan medis di lokasi. Namun, satu awak lainnya, yaitu Yayan Supyansuri yang bertugas sebagai Helicopter Landing Officer (HLO) dan merupakan warga negara Indonesia, hingga saat ini masih dinyatakan hilang. Proses pencarian terus dipercepat dengan koordinasi lintas instansi guna menemukan keberadaan korban.
- Tim Penyelamat: Basarnas Kantor SAR Banjarmasin telah mengerahkan 18 personel sejak pukul 13.10 WITA.
- Dukungan Unsur: Operasi pencarian melibatkan TNI AU, Polri, Babinsa, dan masyarakat setempat.
- Prioritas Utama: Pencarian korban hilang, pemulihan kesehatan pilot selamat, serta pengamanan bangkai helikopter di tepian sungai.
Evaluasi Keselamatan dan Investigasi Resmi
Selain fokus pada pencarian korban, BNPB berkomitmen untuk memfasilitasi investigasi resmi oleh pihak berwenang guna mengetahui penyebab pasti kecelakaan. Langkah ini bertujuan untuk memastikan transparansi dan menghindari munculnya spekulasi di tengah masyarakat. Sebagai tindak lanjut strategis, lembaga ini akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keselamatan operasi udara yang mencakup berbagai aspek teknis dan prosedural.
Evaluasi tersebut mencakup kesiapan teknis armada, prosedur pengambilan air (water bombing), serta kelaikan awak pesawat. Faktor cuaca dan karakteristik lokasi operasi juga menjadi bagian penting dari tinjauan ulang protokol ini. Dengan diperketatnya seluruh aspek tersebut, BNPB berharap agar penanganan karhutla dapat terus berjalan secara efektif sekaligus meminimalkan risiko insiden serupa di masa depan, memastikan keselamatan personel yang bekerja di medan sulit tetap terjaga.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Petaka Water Bombing di Kalsel: Yayan, Kru Heli yang Turun untuk Bertugas, Ditemukan Meninggal

Sugiono: Program Gentengisasi Picu Dampak Beruntun Positif bagi Ekonomi Rakyat

Madiun Kerek Produksi Padi 9,79 Persen dengan Peran Strategis KTNA dalam Perkuat Ketahanan Pangan
