Tegang! China Tuduh AS Rusak Stabilitas Dagang Lewat Sanksi Terkait Kuba

- Pernyataan tegas ini dirilis pada Sabtu, menyusul langkah Departemen Keuangan AS yang memperluas daftar hitam entitas asing.
- Beijing menilai tindakan Washington tersebut melanggar hukum internasional dan norma dasar hubungan antarnegara, sekaligus mengancam konsensus penting yang telah dicapai oleh para pemimpin kedua negara.
- Rincian Sanksi AS Terhadap Entitas Pihak Ketiga Departemen Keuangan AS sebelumnya mengumumkan penambahan total 47 entitas dan tujuh individu ke dalam daftar sanksi terkait Kuba.
Kementerian Perdagangan China secara resmi menuduh Amerika Serikat (AS) mengganggu stabilitas hubungan perdagangan bilateral melalui penjatuhan sanksi sepihak terhadap perusahaan-perusahaan Beijing yang dituduh terlibat dengan Kuba. Pernyataan tegas ini dirilis pada Sabtu, menyusul langkah Departemen Keuangan AS yang memperluas daftar hitam entitas asing. Beijing menilai tindakan Washington tersebut melanggar hukum internasional dan norma dasar hubungan antarnegara, sekaligus mengancam konsensus penting yang telah dicapai oleh para pemimpin kedua negara.
Rincian Sanksi AS Terhadap Entitas Pihak Ketiga
Departemen Keuangan AS sebelumnya mengumumkan penambahan total 47 entitas dan tujuh individu ke dalam daftar sanksi terkait Kuba. Langkah ini mencakup berbagai yurisdiksi, termasuk Kamboja, Panama, dan China. Selain itu, dua kapal tanker berbendera Kuba juga turut dimasukkan ke dalam daftar pembatasan tersebut. Kementerian Perdagangan China menegaskan bahwa AS menggunakan dalih "keterlibatan pihak ketiga" untuk membenarkan tekanan sanksi yang dinilai diskriminatif dan merugikan hak serta kepentingan sah perusahaan-perusahaan China.
Tanggapan Tegas Beijing dan Ancaman Balasan
Dalam responsnya, China menyatakan keprihatinan serius atas peningkatan tekanan sanksi terbaru dari Washington. Berikut adalah poin-poin utama dari pernyataan resmi Beijing:
- Sanksi tersebut dianggap merusak stabilitas hubungan perdagangan dan ekonomi China-AS.
- Tindakan AS bertentangan dengan komitmen diplomatik tingkat tinggi antar pemimpin negara.
- Beijing mendesak AS untuk segera menghentikan praktik yang dinilai keliru tersebut.
Pemerintah China memperingatkan bahwa mereka tetap memiliki hak penuh untuk mengambil langkah-langkah diperlukan guna melindungi kedaulatan ekonominya. Ketegangan ini menambah lapisan kompleksitas baru dalam dinamika geopolitik global, di mana isu-isu regional seperti situasi di Kuba kini menjadi alat pemecah belah dalam hubungan dagang raksasa dunia.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Tekanan Finansial Bersejarah UNRWA: Guterres Dorong Pendanaan Penuh, Defisit US$80 Jadi Ancaman Nyata

Gagasan Revolusioner Menlu Qatar: Membentuk Blok 'Negara-Negara Berkembang Pesat' untuk Mampu Tawar Global

Aktivis Terobos Lokasi Data Center Microsoft di Amsterdam, Protes Dampak AI Lingkungan
