Psikolog RS Hermina Ingatkan Orang Tua: Jangan Paksa Anak Penuhi Ekspektasi Akademik

- Psikolog Rumah Sakit (RS) Hermina, Brigitta Tungawi , mengingatkan para orang tua agar tidak memaksakan ekspektasi berlebihan kepada anak.
- Ia menilai kekhawatiran orang tua adalah hal wajar, namun seringkali membuat mereka terlalu fokus pada kekurangan anak ketimbang potensinya.
- Menurut Brigitta, setiap anak memiliki perasaan dan mampu menangkap kecemasan orang tua.
Psikolog Rumah Sakit (RS) Hermina, Brigitta Tungawi, mengingatkan para orang tua agar tidak memaksakan ekspektasi berlebihan kepada anak. Dalam sebuah talkshow yang digelar Morinaga di Atrium Transquare, Trans Studio Mall Makassar, Jumat (06/11/2026), Brigitta menekankan pentingnya memahami kebutuhan dan tahapan perkembangan anak sebelum menuntut pencapaian tertentu. Ia menilai kekhawatiran orang tua adalah hal wajar, namun seringkali membuat mereka terlalu fokus pada kekurangan anak ketimbang potensinya.
Menurut Brigitta, setiap anak memiliki perasaan dan mampu menangkap kecemasan orang tua. Oleh karena itu, pendekatan pengasuhan perlu bergeser dari pertanyaan "apa yang belum bisa dilakukan anak" menjadi "apa yang sudah dimiliki dan bagaimana mengembangkannya". Perubahan cara pandang ini krusial untuk mencegah tekanan psikologis yang dapat menghambat tumbuh kembang optimal si kecil.
Mengenal Sembilan Jenis Kecerdasan Anak
Brigitta menjelaskan bahwa kecerdasan tidak terbatas pada aspek akademik semata. Terdapat sembilan jenis kecerdasan yang harus dikenali oleh orang tua, yaitu naturalistik, musikal, logis, eksistensial, interpersonal, kinestetik, linguistik, intrapersonal, dan spasial. Untuk mengenali potensi dominan anak, orang tua disarankan mengamati minat melalui aktivitas sehari-hari serta menyediakan ruang bagi anak untuk mencoba berbagai kegiatan tanpa paksaan.
- Naturalistik & Spasial: Minat terhadap alam dan bentuk visual.
- Musikal & Linguistik: Bakat dalam nada suara dan bahasa.
- Kinestetik & Interpersonal: Keaktifan fisik dan kemampuan sosial.
- Logis & Intrapersonal: Kemampuan berpikir kritis dan refleksi diri.
Ia juga menyoroti bahaya pemberian label negatif, seperti menyebut anak "nakal" saat mereka aktif bergerak atau mengeksplorasi lingkungan. Label semacam itu dapat membuat anak takut melakukan kesalahan dan merasa tidak mampu. Sebaliknya, perilaku tersebut sering kali merupakan tanda anak sedang kesulitan menyalurkan energi sehingga membutuhkan fasilitasi yang tepat.
Pendampingan Aktif dan Kolaborasi Ahli
Brand Manager Kalbe Nutrition, Betzylia Wahyuningsih, menambahkan bahwa ekspektasi tinggi justru membebani anak. Perilaku yang dianggap nakal belum tentu negatif, melainkan bagian dari proses perkembangan alami. Betzylia mengajak orang tua untuk membiarkan anak berkembang sesuai usianya sambil tetap didampingi, bukan diambil alih pekerjaannya.
Sebagai langkah konkret, Morinaga berkolaborasi dengan psikolog dari Universitas Indonesia untuk membantu orang tua mengenali potensi anak melalui permainan edukatif. Tujuannya adalah menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang kekuatan unik setiap individu muda, sehingga pendampingan orang tua menjadi lebih efektif dan suportif tanpa tekanan eksternal yang tidak perlu.
BERITA TERKAIT (Kesehatan)

RS Vall d'Hebron Kembangkan Kembaran Digital Pasien untuk Prediksi Penyakit

Riset NYU Temukan Waktu Tidur Dini Lebih Pengaruhi Penurunan Berat Badan Ketap Durasi

Menguak 'Law of Attraction': Bukan sihir, tapi korelasi antara pola pikir dan tindakan nyata
