Sabtu, 7 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Psikolog Ingatkan Risiko 'Learned Helplessness' Akibat Banjir Berita Buruk, Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Mental?

KesehatanSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: Detik Health
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Psikolog Ingatkan Risiko 'Learned Helplessness' Akibat Banjir Berita Buruk, Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Mental?
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Paparan terus-menerus terhadap berita bencana dan peristiwa memilukan di media sosial kini menjadi pemicu serius bagi kesehatan mental masyarakat.
  • Dampak psikologis ini tidak berhenti pada kecemasan individual.
  • Pamela Andari Priyudha , M.Si., Psikolog, dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menekankan bahwa kondisi tersebut dapat berujung pada ketegangan psikologis kronis dan kolektif.

Paparan terus-menerus terhadap berita bencana dan peristiwa memilukan di media sosial kini menjadi pemicu serius bagi kesehatan mental masyarakat. Meity Arianty, seorang psikolog, menjelaskan bahwa konsumsi informasi negatif secara berlebihan dapat memicu kelelahan emosional di mana otak merasa seolah bahaya berada di sekitar, sehingga tidak hanya menimbulkan kecemasan namun juga membuat seseorang menjadi apatis terhadap lingkungan.

Dampak psikologis ini tidak berhenti pada kecemasan individual. Pamela Andari Priyudha, M.Si., Psikolog, dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menekankan bahwa kondisi tersebut dapat berujung pada ketegangan psikologis kronis dan kolektif. Ia memperingatkan munculnya fenomena learned helplessness, yaitu kondisi di mana seseorang merasa tidak berdaya mengubah situasi meski sebenarnya ada peluang, yang berakibat pada apatisme, frustrasi, hingga depresi kolektif.

Strategi Memfilter Informasi dan Meningkatkan Literasi Digital

Para ahli menyarankan agar masyarakat tidak hanya sekadar mengabaikan berita, tetapi menerapkan batasan sehat dalam konsumsi informasi. Hal ini meliputi kesadaran untuk membatasi konten yang memicu kecemasan, terutama saat kondisi psikologis tidak stabil, serta mencari informasi pembanding dari berbagai sumber kredibel demi sudut pandang yang objektif dan seimbang.

Pamela mengingatkan pentingnya tidak reaktif terhadap informasi yang belum terverifikasi. Ia menekankan urgensi literasi digital, yaitu kemampuan mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis dan etis. "Penting untuk mengedepankan logika dan bersikap objektif. Selalu cari tahu dari berbagai sumber, jangan hanya mengandalkan satu sudut pandang," tegasnya. Membiasakan diri menelusuri informasi secara utuh, bukan sekadar membaca judul atau komentar, adalah langkah kunci untuk mencegah kesimpuln sepihak yang memperparah stres.

Menjaga Keseimbangan Emosi Melalui Kendali Diri dan Waktu Istirahat

Untuk menjaga suasana hati tetap stabil, disarankan memperbanyak konsumsi konten positif dan inspiratif yang berkaitan erat dengan self-control. Masyarakat perlu menyadari batasan antara hal-hal yang bisa dikendalikan dan yang tidak, dengan fokus pada tanggung jawab yang dapat dijalankan untuk mempertahankan optimisme.

Meity menyarankan pemilihan waktu yang nyaman untuk membaca berita, seperti pagi hari, dan mematikan notifikasi yang tidak penting agar tidak mengganggu istirahat. "Kita tidak harus ikut hancur untuk membuktikan bahwa kita peduli. Justru dengan menjaga diri, tetap tenang, kita bisa hadir sepenuhnya untuk membantu orang lain," tutup Meity. Menenangkan diri terlebih dahulu merupakan prasyarat agar seseorang dapat membantu sesama secara efektif, bukan sekadar mengikuti rasa frustrasi yang ada.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ