Psikolog Anak: Kecerdasan Bukan Hanya Rapor, Orang Tua Wajib Kenali Delapan Tipe Potensi Anak
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Psikolog anak Yuliana Lubis menegaskan bahwa penilaian kecerdasan anak tidak boleh terpaku pada nilai rapor semata.
- Ia mengingatkan orang tua untuk mengenali potensi unik setiap anak sejak dini agar dapat berkembang menjadi keahlian dan kecerdasan yang spesifik.
- Pandangan ini disampaikannya dalam talkshow "Anakku Pintar di Mana Ya?
Psikolog anak Yuliana Lubis menegaskan bahwa penilaian kecerdasan anak tidak boleh terpaku pada nilai rapor semata. Ia mengingatkan orang tua untuk mengenali potensi unik setiap anak sejak dini agar dapat berkembang menjadi keahlian dan kecerdasan yang spesifik. Pandangan ini disampaikannya dalam talkshow "Anakku Pintar di Mana Ya? Kenali Potensinya, Let Them be Children" yang merupakan rangkaian acara Morinaga Door of Future di Mal Deli Park, Medan, pada Jumat (6/11/2026).
Menurut Yuliana, masih banyak orang tua yang keliru karena menggunakan standar tunggal untuk mengukur kemampuan anak. Ia menekankan pentingnya memperluas persepsi tentang kecerdasan agar tidak ada anak yang merasa 'tidak pintar' hanya karena gagal di satu aspek akademik. "Jangan hanya satu tidak bisa, terus dianggap tidak bisa, gitu. Jadi, banyak sebenarnya beberapa model kecerdasan," ujar Yuliana. Ia menekankan bahwa kecerdasan emosional sama krusialnya dengan kecerdasan intelektual dalam membentuk karakter anak yang adaptif.
Delapan Tipe Kecerdasan yang Sering Dilupakan Orang Tua
Yuliana Lubis mengklasifikasikan kecerdasan anak ke dalam delapan tipe majemuk, yaitu kecerdasan bahasa, logika-matematika, visual-spasial, musikal, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, dan naturalis. Dalam skema ini, capaian akademik hanyalah salah satu pintu, sementara kecerdasan emosi dan sosial, seperti kemampuan mengenali perasaan serta bekerja sama, turut menentukan keberhasilan anak dalam beradaptasi di masyarakat. "Jadi, anak-anak memang bukan harus bisa semua, gitu ya. Kalaupun mungkin ada satu keunggulannya dan itu memang mungkin yang bisa kita kembangkan, itu juga harus dikembangkan," ucapnya.
Ia merekomendasikan empat langkah konkret bagi orang tua dalam menstimulasi potensi anak:
- Melihat potensi: Mengidentifikasi kekuatan anak untuk dikembangkan menjadi keahlian.
- Mengatasi kelemahan: Mencari solusi untuk area yang kurang, misalnya memperkuat motorik halus atau taktil pada anak yang lambat dalam menulis.
- Menyediakan nutrisi: Memastikan asupan gizi yang baik sebagai fondasi internal kecerdasan.
- Menghindari label negatif: Stop membandingkan anak dengan orang lain atau memberi stigma, karena setiap anak memiliki ritme tumbuh kembang yang berbeda.
Komitmen Morinaga dan Pentingnya Stimulasi Sejak Dini
Dalam kesempatan yang sama, Senior Brand Manager Morinaga, Kenty Novita Pratiwi, menyatakan bahwa kehadiran Morinaga di Medan adalah bentuk komitmen untuk menjadi partner dalam pendampingan tumbuh kembang anak. Acara Morinaga Door of Future ini berlangsung selama tiga hari, 6-8 November 2026, di Lantai LG Mal Deli Park. Selama gelaran ini, Morinaga menyediakan berbagai booth deteksi potensi, termasuk alat brain wave untuk menguji kecerdasan anak.
"Ini jadi salah satu bentuk komitmen Morinaga. Kami tuh pengin hadir lebih dekat lagi sama parents. Kami mau jadi partner-nya parents untuk bisa mendampingi mereka di tumbuh kembang anak," kata Kenty. Ia menambahkan, selain talkshow, acara ini juga diisi dengan kompetisi seru seperti school dance, story telling, crawling competition, hingga fashion show anak. Yuliana Lubis menutup pembicaraannya dengan pesan kuat kepada para orang tua untuk terus memberikan dukungan dan wadah bagi anak, serta menghentikan segala bentuk labeling negatif yang dapat berdampak buruk pada kesehatan mental anak.
BERITA TERKAIT (Kesehatan)

RS Vall d'Hebron Kembangkan Kembaran Digital Pasien untuk Prediksi Penyakit

Riset NYU Temukan Waktu Tidur Dini Lebih Pengaruhi Penurunan Berat Badan Ketap Durasi

Menguak 'Law of Attraction': Bukan sihir, tapi korelasi antara pola pikir dan tindakan nyata
