Krisis Ekosistem Drakor: Investasi Raksasa Justru Cekik Produksi Lokal di Korea Selatan
Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

- Di balik gemerlap kesuksesan global, industri drama Korea Selatan tengah menghadapi krisis eksistensial yang mendalam.
- Belasan asosiasi pelaku industri pertelevisian membongkar fakta pahit bahwa ekosistem produksi domestik justru 'berdarah-darah' di negara asalnya sendiri.
- Data asosiasi menunjukkan volume produksi drama terjun bebas sekitar 30 persen hanya dalam dua tahun, merosot dari 141 judul pada 2022.
Di balik gemerlap kesuksesan global, industri drama Korea Selatan tengah menghadapi krisis eksistensial yang mendalam. Belasan asosiasi pelaku industri pertelevisian membongkar fakta pahit bahwa ekosistem produksi domestik justru 'berdarah-darah' di negara asalnya sendiri. Dalam konferensi pers di Korea Press Center, Seoul, pada Rabu (4/11), para pelaku industri menyoroti ironi di mana suntikan modal raksasa dari platform asing tidak lagi menjamin keuntungan, melainkan menciptakan struktur finansial yang mencekik para sineas lokal.
Song Byeong-joon, Presiden Asosiasi Produksi Drama Korea, mengungkapkan bahwa kenaikan biaya produksi dan menyusutnya kapasitas investasi telah menciptakan dilema: semakin banyak perusahaan berinvestasi, semakin besar pula kerugian yang diderita. Data asosiasi menunjukkan volume produksi drama terjun bebas sekitar 30 persen hanya dalam dua tahun, merosot dari 141 judul pada 2022. Stasiun televisi siaran bebas raksasa seperti KBS, MBC, dan SBS turut terdampak, dengan jatah tayang yang jeblok dari 91 judul pada 2012 menjadi hanya 32 judul pada 2025, diperparah oleh lesunya perolehan iklan.
Dampak Monopoli Platform Streaming dan Ancaman AI
Para pelaku industri secara tegas menunjuk platform streaming bermodal besar seperti Netflix dan Disney+ sebagai penyebab utama rusaknya standar ongkos produksi. Netflix, yang meluncurkan layanannya di Korea Selatan pada 2016, berkomitmen menginvestasikan US$2,5 miliar di pasar tersebut selama empat tahun hingga 2023. Namun, monopoli ini dinilai merampas kemampuan perusahaan lokal untuk mempertahankan hak kekayaan intelektual (IP) mereka sendiri. Selain itu, gempuran tren tayangan format pendek dan otomatisasi AI semakin memperburuk situasi dengan menyapu ketersediaan lapangan kerja.
Kim Jong-chang, Presiden Asosiasi Produser Drama Korea, menyoroti hilangnya ruang bagi talenta muda. "Tidak ada lapangan pekerjaan. Maraknya konten format pendek dan AI semakin memperburuk masalah ini," paparnya. Hal ini sejalan dengan keluhan Park Hae-young, penulis naskah serial hit *My Mister*, yang menyebutkan bahwa para asisten penulis kini kehilangan pekerjaan karena proyek-produk baru tidak lagi tersedia. "Kita tidak boleh membiarkan industri ini menjadi terus bergantung dan dikendalikan oleh modal asing raksasa," desaknya.
Respons Pemerintah dan Desakan Strategi Pemulihan
Ironisnya, jeritan pekerja kreatif ini ditanggapi dingin oleh pemerintah. Kementerian Kebudayaan justru berencana memangkas rancangan anggaran sektor ini dari 91,8 miliar won menjadi 87,3 miliar won pada 2027. Pemangkasan ini dinilai jomplong mengingat ekspor Korean Wave pada 2025 sukses meraup US$18,98 miliar, dengan US$1,25 miliar di antaranya berasal dari industri penyiaran. Sebagai perbandingan, Jepang justru agresif menyuntik dana lima kali lipat untuk mengejar target ekspor konten US$1,6 miliar pada 2033.
Menghadapi jalan buntu ini, para sineas mendesak pemerintah untuk segera merumuskan strategi taktis guna memulihkan ritme produksi. Tuntutan utama mereka adalah pembentukan dana investasi jangka menengah dan panjang senilai 1 triliun won yang dialokasikan khusus untuk produksi lokal. Song Byeong-joon menegaskan pentingnya pemulihan volume produksi, bukan sekadar mengejar satu drama yang meledak di pasaran. "Jika ada 100 drama yang diproduksi, 99 drama lainnya jauh lebih penting... Sebab dari 99 produksi itulah para kreator bisa tumbuh dan berkembang," pungkasnya.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Sutradara Godzilla Minus Zero Buka Peluang Sekuel Ketiga, Tolak Narasi Perpisahan

Signal 2 Tetap Tayang 7 Desember Meski Cho Jin-woong Pensiun, tvN Gagal Ganti Aktor dengan AI

Di Balik Gemerlap Hallyu: Industri Drakor Korea Kritis Akibat Serbuan AI dan Modal Asing
