Wamenag: Kurikulum Madrasah dan Ponpes Bakal Dikawal Literasi Mitigasi Bencana Sejak Dini
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Penegasan tersebut disampaikan Romo Syafi’i saat meninjau pameran karya riset kebencanaan santri di Dayah/Pesantren Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) di Aceh Besar, Jumat.
- Ia menyoroti bahwa bentang geografis Indonesia yang dinamis dan rawan bencana menuntut adanya respons cepat dari ekosistem pendidikan keagamaan.
- Oleh karena itu, penguatan kurikulum ini dianggap mendesak agar lembaga pendidikan Islam dapat membekali santri dengan pemahaman lingkungan yang terstruktur serta keterampilan penyelamatan diri yang aplikatif.
Romo Muhammad Syafi’i, Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, menegaskan komitmen pemerintah untuk mengintegrasikan materi edukasi dan mitigasi bencana ke dalam kurikulum resmi di seluruh madrasah dan pondok pesantren. Langkah strategis ini diambil guna menanamkan literasi kebencanaan sejak dini, memastikan para santri tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki naluri kesiapsiagaan serta keterampilan teknis untuk menyelamatkan diri dan sesama saat bencana melanda.
Penegasan tersebut disampaikan Romo Syafi’i saat meninjau pameran karya riset kebencanaan santri di Dayah/Pesantren Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) di Aceh Besar, Jumat. Ia menyoroti bahwa bentang geografis Indonesia yang dinamis dan rawan bencana menuntut adanya respons cepat dari ekosistem pendidikan keagamaan. Oleh karena itu, penguatan kurikulum ini dianggap mendesak agar lembaga pendidikan Islam dapat membekali santri dengan pemahaman lingkungan yang terstruktur serta keterampilan penyelamatan diri yang aplikatif.
Integrasi Kurikulum dan Pembentukan Tim "Kemenag Peduli"
Dalam upaya operasionalisasi kebijakan ini, Kementerian Agama telah membentuk tim koordinasi penanganan darurat bernama Kemenag Peduli. Tim ini dirancang tidak hanya untuk memberikan respons cepat ketika bencana terjadi, tetapi juga untuk mendukung langkah-langkah preventif serta edukatif di lingkungan satuan pendidikan agama. Romo Syafi’i menjelaskan, "Kita rancang integrasi kurikulum ini agar madrasah dan pesantren punya kesiapan yang baik dalam menanggulangi bencana. Ini sejalan dengan agenda kita di kementerian untuk terus memperkuat edukasi keselamatan bagi anak-anak didik."
Pendekatan kurikulum baru ini juga mencakup pembaruan cara pandang akademis dengan menghapus dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama. Romo Syafi’i memaparkan bahwa disiplin sains memiliki keterkaitan langsung dengan pendidikan keagamaan, seperti yang tercantum dalam poin-poin materi yang akan diperkuat:
- Geologi kebencanaan sebagai studi lingkungan.
- Matematika, fisika, kimia, dan biologi sebagai bagian integral.
- Keterampilan sains kebencanaan untuk analisis risiko.
Meniadakan Dikotomi Ilmu dan Perkuat Kesiapsiagaan Santri
Implementasi kurikulum mitigasi bencana ini diharapkan dapat mengubah paradigma pendidikan di pondok pesantren dan madrasah menjadi lebih adaptif terhadap risiko bencana nasional. Dengan memasukkan unsur sains dan kebencanaan secara struktural, santri tidak hanya disiapkan menjadi tokoh spiritual, tetapi juga agen keselamatan yang kompeten di masyarakat. Langkah ini menjadi bagian dari agenda besar Kementerian Agama untuk memperkuat ketahanan sosial melalui jalur pendidikan, memastikan bahwa pengetahuan tentang penyelamatan diri dan tanggap darurat menjadi DNA baru dari sistem pendidikan Islam di Indonesia.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Kemenbud Jadwalkan Penganugerahan Maestro Seni pada Desember 2026

Mendagri Tito Karnavian Perintahkan Pemda Percepat Registrasi Perlinsos Digital untuk Akurasi Bansos

Dewan Pers Dorong Skema Hibrid LMK-B2B untuk Jamin Hak Ekonomi Karya Jurnalistik dalam RUU Hak Cipta
