TPT Jawa Barat Mereda Jadi 6,67%, Sektor Perdagangan Masih Jadi Penyerap Tenaga Kerja Terbesar
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Barat menunjukkan tren positif dengan penurunan tipis menjadi 6,67 persen pada Agustus 2026.
- Angka ini mengalami perbaikan dari periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 6,77 persen.
- Menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat , perbaikan ini didorong oleh penurunan TPT pada pria sebesar 0,13 poin dan wanita sebesar 0,05 poin dibandingkan Agustus 2025.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Barat menunjukkan tren positif dengan penurunan tipis menjadi 6,67 persen pada Agustus 2026. Angka ini mengalami perbaikan dari periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 6,77 persen. Menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, perbaikan ini didorong oleh penurunan TPT pada pria sebesar 0,13 poin dan wanita sebesar 0,05 poin dibandingkan Agustus 2025.
Secara geografis, disparitas antara wilayah perkotaan dan perdesaan masih terlihat. TPT di perkotaan tercatat lebih tinggi yakni 6,98 persen, namun mengalami penurunan sebesar 0,21 poin. Sebaliknya, TPT di perdesaan yang tadinya lebih rendah (5,14 persen) justru mengalami kenaikan tipis sebesar 0,22 poin. Pola pendidikan tertinggi yang ditamatkan juga menunjukkan dinamika tertentu, di mana tamatan SMK masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi.
Detail Data: SMK Masih Terpapar Pengangguran Tinggi, Diploma Kena
"Pada Agustus 2026, TPT dari tamatan Sekolah Menengah Kejuruan masih merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 12,19 persen," ujar Margaretha Ari Anggorowati, Kepala BPS Jawa Barat, dalam acara Rilis Berita Resmi Statistik di Kantor BPS Jabar, Kamis (5/11). Meskipun tren keseluruhan turun, TPT tamatan SMK mengalami perbaikan dengan penurunan 0,62 poin.
Sementara itu, terdapat fakta menarik terkait kenaikan TPT pada kelompok tamatan Diploma I/II/III yang meningkat signifikan sebesar 1,82 poin. Di sisi lain, kelompok dengan TPT terendah adalah tamatan SD ke bawah, yaitu 2,80 persen. Rincian komposisi pengangguran berdasarkan jenjang pendidikan ini menunjukkan bahwa lulusan vokasi dan diploma menjadi segmen yang paling rentan terhadap fluktuasi pasar kerja saat ini.
Dampak Ekonomi: Jumlah Pekerja Naik, 45% Berada di Sektor Formal
Penurunan TPT ini sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk yang bekerja di Jawa Barat. Sebanyak 24,77 juta orang tercatat bekerja, naik 0,26 juta orang dibandingkan Agustus 2025. Lapangan pekerjaan dengan penyerapan tenaga kerja terbesar masih didominasi oleh sektor Perdagangan Besar dan Eceran yang menyerap 5,71 juta orang atau 23,04 persen dari total pekerja.
Dari sisi formalitas pekerjaan, sebanyak 11,15 juta orang atau 45,02 persen bekerja di kegiatan formal, meningkat 0,11 juta orang. Sisanya, 13,62 juta orang (54,98 persen) bekerja di sektor informal. Mayoritas pekerja tercatat sebagai pekerja penuh waktu dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu, yakni 74,39 persen, sementara 25,61% merupakan pekerja tidak penuh waktu. Penguatan ini menandakan adanya pemulihan kualitas tenaga kerja di Jawa Barat meski tantangan pengangguran pada lulusan SMK masih menjadi fokus utama.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

BRI Gandeng Komunitas Sneaker di USS Jakarta 2026, Hadirkan Diskon hingga Voucher Belanja

Tiongkok Jadi Magnet Impor Global: Laporan Terbaru Ungkap Peluang Ekspor dan Tekanan Proteksionisme

BI Catat Pertumbuhan Terbatas Harga Properti Residensial Triwulan III 2026, Penjualan Pasar Primer Tetap Terkontraksi
