BI Catat Pertumbuhan Terbatas Harga Properti Residensial Triwulan III 2026, Penjualan Pasar Primer Tetap Terkontraksi

- Bank Indonesia (BI) melalui hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) mengonfirmasi bahwa pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan III 2026 mengalami perlambatan.
- Perlambatan pertumbuhan indeks secara umum ini didorong oleh dinamika spesifik pada segmen rumah tipe menengah dan besar.
- Kedua kategori tersebut menunjukkan tren pelemahan laju kenaikan harga jika dibandingkan kuartal sebelumnya.
Bank Indonesia (BI) melalui hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) mengonfirmasi bahwa pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan III 2026 mengalami perlambatan. Hal ini tecermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang tumbuh sebesar 0,58 persen secara tahunan (year on year/yoy), angka yang sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan II 2026 yang tercatat sebesar 0,69 persen (yoy). Data ini disampaikan oleh Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, dalam keterangan resmi yang diterima di Kota Sabang, Aceh, Jumat kemarin, menandakan sentimen pasar yang masih membutuhkan penstabilan kebijakan moneter dan perbankan.
Perlambatan pertumbuhan indeks secara umum ini didorong oleh dinamika spesifik pada segmen rumah tipe menengah dan besar. Kedua kategori tersebut menunjukkan tren pelemahan laju kenaikan harga jika dibandingkan kuartal sebelumnya. Sebaliknya, performa rumah tipe kecil justru menunjukkan penguatan tipis, mengindikasikan pergeseran preferensi atau daya tarik nilai investasi pada segmen perumahan berskala lebih terjangkau bagi sebagian investor dan konsumen primer.
Perbedaan Laju Pertumbuhan Berdasarkan Tipe Properti
Menurut data survei, perlambatan terpusat pada rumah tipe menengah dan besar yang masing-masing mencatatkan indeks sebesar 114,15 dan 108,50. Laju pertumbuhan keduanya melambat dibandingkan triwulan II 2026, dengan rincian sebagai berikut:
- Rumah tipe menengah tumbuh 0,63 persen (yoy), melambat dari 0,83 persen (yoy) pada triwulan II.
- Rumah tipe besar tumbuh 0,57 persen (yoy), melambat dari 0,68 persen (yoy) pada triwulan II.
- Rumah tipe kecil tumbuh 0,55 persen (yoy) dengan indeks 114,14, meningkat dari 0,49 persen (yoy) pada triwulan II.
Tekanan Penjualan dan Struktur Pembiayaan Pasar
Di sisi pasokan dan permintaan, hasil survei mengindikasikan bahwa penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan III 2026 menurun di seluruh tipe rumah. Secara agregat, penjualan masih terkontraksi sebesar 8,43 persen (yoy), menunjukkan bahwa daya beli konsumen masih tertekan meskipun harga relatif stabil. Dari sisi struktur modal, BI mencatat sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial oleh pengembang bersumber dari dana internal perusahaan dengan pangsa sebesar 73,94 persen dari total kebutuhan. Sementara itu, mayoritas pembelian rumah oleh konsumen dilakukan melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan pangsa mencapai 70,68 persen dari total skema pembelian, menegaskan dominasi sektor perbankan dalam ekosistem properti Indonesia.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

BRI Gandeng Komunitas Sneaker di USS Jakarta 2026, Hadirkan Diskon hingga Voucher Belanja

Tiongkok Jadi Magnet Impor Global: Laporan Terbaru Ungkap Peluang Ekspor dan Tekanan Proteksionisme

TPT Jawa Barat Mereda Jadi 6,67%, Sektor Perdagangan Masih Jadi Penyerap Tenaga Kerja Terbesar
