Jumat, 6 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Pasang Surut Geopolitik AS: Bank Danamon Proyeksikan Harga Minyak Dunia Anjlok ke US$85 pada 2027

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Market & Saham
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Pasang Surut Geopolitik AS: Bank Danamon Proyeksikan Harga Minyak Dunia Anjlok ke US$85 pada 2027
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Proyeksi Bank Danamon memperkirakan dinamika ekonomi global akan mengalami pergeseran signifikan dalam dua tahun ke depan, terutama di sektor energi.
  • Irman Faiz , Kepala Ekonom Bank Danamon, memprediksi harga minyak mentah dunia akan mengalami koreksi tajam, turun dari estimasi rerata US$100 per barel pada 2026 menjadi US$85 per barel pada 2027.
  • Penurunan harga ini dinilai menjadi katalis utama bagi meredanya inflasi global yang telah menjadi beban ekonomi internasional selama beberapa waktu terakhir.

Proyeksi Bank Danamon memperkirakan dinamika ekonomi global akan mengalami pergeseran signifikan dalam dua tahun ke depan, terutama di sektor energi. Irman Faiz, Kepala Ekonom Bank Danamon, memprediksi harga minyak mentah dunia akan mengalami koreksi tajam, turun dari estimasi rerata US$100 per barel pada 2026 menjadi US$85 per barel pada 2027. Penurunan harga ini dinilai menjadi katalis utama bagi meredanya inflasi global yang telah menjadi beban ekonomi internasional selama beberapa waktu terakhir.

Perkiraan ini didasarkan pada pembacaan data terkini bahwa harga minyak Brent tahun 2026 akan bertahan di level US$95 hingga US$100 per barel. Namun, angin segar dari sektor politik Amerika Serikat (AS) mengubah lanskap pasar energi. Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan sela 2026 dinilai Irman sebagai faktor penentu yang mengubah sentimen pasar dari eskalasi konflik menjadi stabilitas.

Kemenangan Demokrat sebagai Rem Eskalasi Geopolitik

Irman menjelaskan bahwa kendalinya atas mayoritas di House of Representatives dan Senate oleh Partai Demokrat membatasi ruang manuver Presiden AS Donald Trump dalam membiayai operasi militer. Dengan mekanisme anggaran yang harus melewati Kongres, dukungan finansial untuk melanjutkan konflik di Timur Tengah, khususnya antara AS dan Iran, menjadi semakin sulit didapat.

Kondisi ini menciptakan efek instan di pasar energi. Tercatat pada 5 November 2026, harga minyak acuan Brent berada di posisi US$96,95 per barel, mengalami penurunan 17,6% dari puncak US$117,64 pada akhir Oktober. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$89,44 per barel atau turun 14,1% dari level tertinggi US$104,12. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa pasar sedang memperhitungkan probabilitas meredanya ketegangan geopolitik secara signifikan.

Antisipasi Kelebihaaan Pasokan dan Normalisasi Pasar 2027

Selain faktor politik AS, ekspektasi penurunan harga juga dipengaruhi oleh langkah strategis OPEC. Organisasi negara produsen minyak dunia ini menyatakan akan menjaga tingkat produksi agar tidak turun pada 2027. Kebijakan ini berpotensi menciptakan kondisi kelebihan pasokan (oversupply) di pasar global, sebuah dinamika yang juga menjadi sorotan dalam koordinasi strategis lepas cadangan minyak bersama IEA untuk menstabilkan harga energi dunia.

Irman merinci skenario pasar 2027 sebagai berikut:

  • Merembetnya konflik geopolitik memungkinkan pabrik penghilangan minyak (refineries) yang sebelumnya ditutup kembali beroperasi.
  • Negara anggota OPEC Plus akan menyesuaikan (catch up) produksi untuk mengembalikan kepatuhan kuota.
  • Kombinasi kedua faktor tersebut akan mendorong tekanan harga ke bawah secara struktural.

"Ini yang kita expect di tahun depan itu harusnya kondisi membaik karena faktor utamanya tadi midterm election-nya sudah sesuai dengan perkiraan," tambah Irman. Dengan de-eskalasi konflik dan normalisasi produksi OPEC, pasar minyak dunia diprediksi akan menemukan keseimbangan baru yang lebih menguntungkan bagi konsumen global pada tahun 2027.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ