Kemdiktisaintek-BPOM Akselerasi Hilirisasi Riset Obat Herbal: Dari Laboratorium Menuju Produksi Massal
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Kolaborasi strategis antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi memperkuat hilirisasi riset obat berbasis bahan alam.
- Langkah ini didorong oleh keyakinan bahwa sektor akademik nasional telah memiliki fondasi riset yang kokoh, namun masih membutuhkan jembatan infrastruktur untuk mencapai pasar global.
- Dengan menyelaraskan standar akademis dan regulasi keamanan pangan, kedua lembaga ini berupaya menciptakan ekosistem yang mendukung komersialisasi teknologi tepat guna di bidang farmasi herbal.
Kolaborasi strategis antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi memperkuat hilirisasi riset obat berbasis bahan alam. Inisiatif ini bertujuan mengakselerasi transisi hasil penelitian dari tahap laboratorium menuju pengembangan dan produksi industrial, memastikan potensi kekayaan alam Indonesia dapat diekspor dalam bentuk produk bernilai tambah tinggi, bukan sekadar bahan mentah.
Langkah ini didorong oleh keyakinan bahwa sektor akademik nasional telah memiliki fondasi riset yang kokoh, namun masih membutuhkan jembatan infrastruktur untuk mencapai pasar global. Dengan menyelaraskan standar akademis dan regulasi keamanan pangan, kedua lembaga ini berupaya menciptakan ekosistem yang mendukung komersialisasi teknologi tepat guna di bidang farmasi herbal.
Menjembatani Kesenjangan Riset Akademik dan Kebutuhan Industri
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bahwa institusi pendidikan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia telah menguasai kemampuan riset dan pengembangan teknologi yang relevan. Namun, ada gap signifikan antara ketersediaan data ilmiah dan kesiapan fasilitas produksi. Oleh karena itu, Kemdiktisaintek secara proaktif menjajaki komunikasi dengan sektor industri untuk mengoptimalkan fasilitas ekstraksi bahan alam yang saat ini belum terpakai secara maksimal.
- Penelitian komoditas unggulan seperti kratom telah berhasil dikembangkan hingga tahap pilot plant di beberapa kampus.
- Perluasan ke skala produksi masal membutuhkan intervensi berupa akses ke fasilitas industri dan pemenuhan standar teknis yang ketat.
- Integrasi peneliti, industri, dan regulator menjadi kunci untuk menjamin produk akhir memiliki nilai tambah dan memenuhi persyaratan hukum yang berlaku.
Peran BPOM dalam Standarisasi dan Pendampingan Teknis
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyatakan bahwa sinergi lintas sektor tidak dapat ditawar dalam pengembangan produk berbasis bahan alam. Peran BPOM tidak hanya sebatas pengawas, tetapi juga fasilitator yang memastikan seluruh proses hilirisasi berjalan selaras dengan aspek keamanan, mutu, dan standarisasi produk internasional. Pembahasan teknis telah mencakup pemanfaatan fasilitas produksi, mekanisme sertifikasi, hingga ketentuan ekspor yang menjadi penghalang utama bagi produk dalam negeri.
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia, kedua institusi merencanakan program coaching clinic bagi para peneliti dan profesor untuk memperlancar transisi ke hilirisasi. Aspek pembuktian ilmiah, termasuk karakterisasi senyawa dan uji klinis, akan difasilitasi agar data ilmiah dapat dibekukan dalam sertifikat legal yang diakui, membuka jalan lebar bagi industri farmasi herbal Indonesia untuk bersaing di kancah global.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Presiden Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar Asing di Istana Merdeka

Istana Gerak Cepat Bersihkan Lingkaran Terdekat, 4 Jenderal Polri Resmi Jadi Tersangka

Kementerian ATR/BPN Perkuat Manajemen Talenta Berbasis Meritokrasi untuk 33.000 ASN
