Jumat, 6 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Indef: Stimulus Fiskal Jadi Penopang Utama Konsumsi Rumah Tangga di Kuartal III 2026

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara Terkini
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Indef: Stimulus Fiskal Jadi Penopang Utama Konsumsi Rumah Tangga di Kuartal III 2026
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan akselerasi ekonomi yang positif, dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai 5,47 persen secara tahunan (year-on-year).
  • Angka ini melampaui pertumbuhan triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen serta triwulan III 2025 yang hanya 5,04 persen.
  • Akselerasi Pengeluaran Pemerintah dan Efektivitas Bantuan Sosial Riza menyoroti ketergantungan ekonomi yang semakin tinggi terhadap stimulus fiskal pemerintah pada periode 2025 hingga 2026.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menegaskan bahwa intervensi fiskal pemerintah menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga, yang tercatat sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Riza Annisa Pujarama, menyatakan bahwa dukungan berupa subsidi dan bantuan sosial efektif menopang daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan rendah, di tengah dinamika ekonomi triwulan III 2026.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan akselerasi ekonomi yang positif, dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai 5,47 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini melampaui pertumbuhan triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen serta triwulan III 2025 yang hanya 5,04 persen. Dalam struktur pengeluaran, konsumsi rumah tangga mendominasi dengan kontribusi 51,97 persen terhadap PDB, tumbuh 5,04 persen secara tahunan, dan memberikan sumbangan sebesar 2,62 poin terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Akselerasi Pengeluaran Pemerintah dan Efektivitas Bantuan Sosial

Riza menyoroti ketergantungan ekonomi yang semakin tinggi terhadap stimulus fiskal pemerintah pada periode 2025 hingga 2026. Hal ini terkonfirmasi oleh lonjakan signifikan dalam pengeluaran konsumsi pemerintah untuk individu, termasuk subsidi dan bansos, yang melonjak dari 10,92 persen pada triwulan III 2025 menjadi 30,68 persen pada triwulan III 2026. Peningkatan alokasi anggaran ini dinilai berhasil menahan tekanan inflasi terhadap daya beli masyarakat lapisan bawah.

Untuk menjaga momentum di triwulan IV 2026, pemerintah telah menyiapkan paket stimulus lanjutan yang mencakup:

  • Bantuan beras sebanyak 10 kilogram per bulan selama Oktober-Desember bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat (KPM).
  • Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp300 ribu per bulan selama tiga bulan bagi 13,3 juta pekerja, dengan total anggaran hampir Rp12 triliun.

Imbauan Indef: Perluas Sasaran Stimulus ke Kelas Menengah

Meski pertumbuhan ekonomi terjaga, Riza memberikan catatan kritis agar pemerintah memperluas jangkauan stimulus fiskal. Menurutnya, fokus bantuan tidak boleh hanya tertuju pada kelompok berpendapatan rendah, tetapi juga harus mencakup kelas menengah yang tengah menghadapi tekanan ganda akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan beban pajak.

Perhatian terhadap kelas menengah dinilai esensial untuk menjaga keberlanjutan konsumsi rumah tangga sebagai penggerak utama perekonomian nasional. Jika daya beli kelas menengah melemah, dampak negatifnya akan berimbas pada melambatnya pertumbuhan ekonomi secara agregat. Oleh karena itu, strategi fiskal yang lebih inklusif diperlukan untuk memastikan stabilitas ekonomi Indonesia tetap kokoh hingga akhir tahun 2026.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ