Jumat, 6 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Fenomena 'Chi Ku' di China: Orang Tua Rela Bayar Mahal untuk Melatih Kemandirian Anak dari Gaya Hidup Mewah

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Fenomena 'Chi Ku' di China: Orang Tua Rela Bayar Mahal untuk Melatih Kemandirian Anak dari Gaya Hidup Mewah
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Kamp chi ku bukanlah program baru, melainkan telah beroperasi sejak awal 2000-an, terutama di wilayah barat daya China seperti Sichuan, Yunnan, dan Guizhou.
  • Rincian Kegiatan dan Tantangan Fisik di Lapangan Selama mengikuti program, anak-anak dipaksa keluar dari zona nyaman dengan melakukan serangkaian aktivitas pertanian dan domestik yang menguras tenaga.
  • Kegiatan ini dirancang untuk mematahkan kebiasaan manja yang ditanamkan oleh fasilitas modern.

Fenomena unik kembali mengguncang media sosial di China pada musim panas tahun ini, di mana sejumlah orang tua rela merogoh kocek dalam-dalam untuk mengirim anak-anak mereka ke kamp pelatihan berat yang dikenal dengan istilah "chi ku" atau "makan kepahitan". Program ini dirancang khusus untuk membentuk kemandirian dan ketahanan mental anak-anak berusia enam hingga 16 tahun yang dinilai terlalu nyaman dengan kemewahan kehidupan modern dan kurang terbiasa menghadapi kesulitan. Video-video viral yang memperlihatkan anak-anak menangis sambil melakukan pekerjaan fisik berat, seperti memotong kayu dan mencangkul sawah, justru memicu antusiasme tinggi dari para orang tua lain yang ingin mendaftarkan putra-putri mereka ke program serupa.

Kamp chi ku bukanlah program baru, melainkan telah beroperasi sejak awal 2000-an, terutama di wilayah barat daya China seperti Sichuan, Yunnan, dan Guizhou. Berbeda dengan kegiatan sekolah resmi, program ini dikelola oleh perusahaan swasta melalui tur edukasi dengan biaya yang cukup signifikan, berkisar antara 5.000 yuan (sekitar Rp13 juta) untuk durasi sepuluh hari hingga lebih dari 10.000 yuan (sekitar Rp27 juta) untuk program sebulan. Tingginya minat masyarakat membuat kuota di sejumlah kamp cepat terisi, menandakan pergeseran pola asuh di kalangan kelas menengah-atas China yang kini lebih mengutamakan pembentukan karakter melalui pengorbanan fisik.

Rincian Kegiatan dan Tantangan Fisik di Lapangan

Selama mengikuti program, anak-anak dipaksa keluar dari zona nyaman dengan melakukan serangkaian aktivitas pertanian dan domestik yang menguras tenaga. Kegiatan ini dirancang untuk mematahkan kebiasaan manja yang ditanamkan oleh fasilitas modern. Rincian aktivitas berat yang harus dijalani peserta meliputi:

  • Memetik daun teh selama 30 menit setiap hari, dengan hasil yang dapat ditukar dengan kebutuhan pokok seperti susu dan bubur untuk disumbangkan.
  • Mengumpulkan, mengikat, dan membawa kayu bakar selama 3-4 jam hanya untuk memasak makanan yang dihabiskan dalam waktu 10 menit menggunakan kompor tanah liat.
  • Berjalan kaki melewati jalur pegunungan sepanjang 5 kilometer sambil membawa beban 1 kilogram beras, yang memakan waktu sekitar satu setengah jam.
  • Mengangkut kotoran sapi selama 10-20 menit yang kemudian diproses menjadi pupuk kompos atau bahan bakar biogas.

Salah satu penyelenggara utama adalah Tong Lu, pemilik perusahaan Haoshi Study Tours, yang menggelar program "Swapped Lives" di kawasan pegunungan Lishui, Provinsi Zhejiang. Tong Lu secara terbuka mengkritik kondisi anak-anak saat ini, menyatakan, "Saat ini, anak-anak... semuanya jadi agak manja." Ia menegaskan bahwa tujuan utama kamp adalah menunjukkan bahwa setiap kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan hingga pakaian, menuntut usaha dan kerja keras yang nyata, bukan sekadar hasil dari fasilitas yang disediakan orang tua.

Dampak Emosional dan Refleksi Hubungan Orang Tua-Anak

Di balik tantangan fisik yang berat, terdapat dimensi emosional yang menjadi inti dari program ini. Perancang program, Zhang Hao, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mengenalkan anak pada proses produksi makanan dan menghargai usaha di balik setiap hidangan. Banyak peserta mengalami kerinduan yang mendalam, sering kali menangis saat menelepon orang tua di malam hari, namun mereka didorong untuk bertahan hingga keesokan harinya. Puncak dari proses transformasi ini terjadi pada malam kedua terakhir, ketika surat-surat rahasia yang ditulis orang tua sebelum kamp dimulai dibagikan kepada anak-anak.

Momen pembacaan surat tersebut kerap membuat anak-anak menangis tersedu-sedu, menciptakan jembatan emosional yang kuat antara anak dan keluarga. Zhang Hao menekankan bahwa respons positif terlihat setelah anak-anak pulang; beberapa dari mereka mulai secara spontan mengungkapkan perasaan, berkata, "Bu, aku sayang Ibu, terima kasih." Bagi orang tua, perubahan sikap dan rasa syukur inilah yang menjadi nilai tertinggi dari investasi mahal yang mereka keluarkan, membuktikan bahwa melatih anak untuk hidup susah justru memperkuat ikatan batin dan kemandirian mereka dalam jangka panjang.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ