Jumat, 6 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Defisit Transaksi Berjalan RI Ditebak Melebar Jadi 1,6% PDB di 2027 akibat Harga Energi Global

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Market & Saham
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Defisit Transaksi Berjalan RI Ditebak Melebar Jadi 1,6% PDB di 2027 akibat Harga Energi Global
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Peringatan ini disampaikan dalam media briefing Bank Indonesia di Sabang, Aceh, Kamis (5/11/2026).
  • Akar Masalah: Kenaikan Biaya Impor Energi dan Geopolitik Global Kenaikan biaya impor energi menjadi pemicu utama melencengnya defisit neraca perdagangan minyak dan gas.
  • Irman menjelaskan, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran di awal tahun mendorong harga minyak dunia melonjak dan bertahan di level tinggi, atau sticky, di atas US$100 per barrel .

Irman Faiz, Kepala Ekonom Bank Danamon, memproyeksikan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar signifikan, dari 0,1% pada 2025 menjadi 1,5% pada 2026 dan menyentuh 1,6% pada 2027 terhadap produk domestik bruto (PDB). Peringatan ini disampaikan dalam media briefing Bank Indonesia di Sabang, Aceh, Kamis (5/11/2026). Menurutnya, pelebaran defisit tersebut menandakan Indonesia semakin bergantung pada pembiayaan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS), sebuah kondisi yang berisiko menekan nilai tukar rupiah ke depannya.

Akar Masalah: Kenaikan Biaya Impor Energi dan Geopolitik Global

Kenaikan biaya impor energi menjadi pemicu utama melencengnya defisit neraca perdagangan minyak dan gas. Irman menjelaskan, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran di awal tahun mendorong harga minyak dunia melonjak dan bertahan di level tinggi, atau sticky, di atas US$100 per barrel. Kondisi ini membalikkan ekspektasi inflasi global, mengubah risiko inflasi yang tadinya melandai menjadi ancaman yang kembali menguat.

Dampak lanjutannya adalah kenaikan suku bunga bank sentral AS yang memasuki era higher for longer. Meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat aset berdenominasi dolar lebih menarik bagi investor global. Irman Faiz merinci dinamika preferensi investor saat ini sebagai berikut:

  • Ketika risiko (risk off) tinggi, investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
  • Fokus investor kembali ke negara-negara advanced economy (ekonomi maju).
  • Investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Implikasi: Tekanan Arus Modal dan Ancaman Nilai Tukar Rupiah

Kelompok Bank Indonesia mencatat bahwa pergeseran arus modal ke negara maju berpotensi meningkatkan tekanan struktural terhadap rupiah. Ketika investor asing keluar dari pasar saham dan obligasi domestik, permintaan dolar AS akan melonjak sementara pasokan valuta asing di dalam negeri menyusut. Arus keluar modal asing ini langsung memukul neraca transaksi berjalan karena kebutuhan pembayaran impor dan aktivitas ekonomi domestik yang bergantung pada mata uang asing justru meningkat. Dengan demikian, Irman Faiz menegaskan bahwa kombinasi antara naiknya harga energi global dan pengetatan kebijakan moneter AS menjadi faktor struktural yang membuat Indonesia makin 'haus' dolar, memperlebar defisit, dan meningkatkan volatilitas nilai tukar di pasar internasional.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ