Singapura Luncurkan Program Latih Simulasi 113 Juta Rupiah untuk Hadapi Ancaman Siber Modern
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Merespons eskalasi serangan siber yang mengancam infrastruktur vital negara, Singapura mengambil langkah strategis dengan meluncurkan program pelatihan intensif.
- Program ini difokuskan pada personel keamanan siber di organisasi yang mengoperasikan infrastruktur informasi kritis (CII), namun juga terbuka bagi praktisi dari sektor lain.
- Diterbitkan oleh The Edge, inisiatif ini tidak hanya menawarkan teori, tetapi juga simulasi serangan nyata untuk menguji ketahanan sistem dan respons manusia di lapangan.
Merespons eskalasi serangan siber yang mengancam infrastruktur vital negara, Singapura mengambil langkah strategis dengan meluncurkan program pelatihan intensif. Kolaborasi antara Singapuran Telecommunications (Singtel) dan penyedia layanan keamanan siber DART menghadirkan kurikulum lima hari yang dirancang khusus untuk membekali personel keamanan dengan kemampuan deteksi dan respons terhadap serangan canggih yang menargetkan layanan kritis.
Program ini difokuskan pada personel keamanan siber di organisasi yang mengoperasikan infrastruktur informasi kritis (CII), namun juga terbuka bagi praktisi dari sektor lain. Diterbitkan oleh The Edge, inisiatif ini tidak hanya menawarkan teori, tetapi juga simulasi serangan nyata untuk menguji ketahanan sistem dan respons manusia di lapangan.
Arsitektur Kurikulum dan Investasi Sumber Daya Manusia
Pelatihan ini mematok biaya sebesar S$8.000 (sekitar Rp113 juta) per partisipan, dengan skema subsidi yang menurunkan tarif menjadi S$1.000 bagi peserta yang memenuhi syarat tertentu. Peserta dapat memilih jalur pendalaman spesifik sesuai kebutuhan organisasi mereka:
- Jalur Teknologi Informasi (IT): Fokus pada arsitektur jaringan, identifikasi celah keamanan, serta mekanisme deteksi dan respons insiden standar.
- Jalur Teknologi Operasional (OT): Berkonsentrasi pada sistem yang mendukung operasi kritis, mencakup perburuan ancaman, deteksi anomali, serta arsitektur jaringan dan respons insiden industri.
Keduanya mengintegrasikan materi tentang Ancaman Persisten Tingkat Lanjut (APT) dan serangan yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI), mengakhiri sesi dengan simulasi serangan pada jaringan CII di mana peserta harus menyelidiki dan menanggapi insiden secara langsung.
Konteks Krisis Keamanan dan Respons Praktisi
Luncuran program ini terjadi di tengah ketegangan keamanan siber di Singapura. Baru-baru ini, Singapore Airlines melaporkan bahwa sekitar 46.000 data pemesanan tiket berhasil diakses secara ilegal. Selain itu, platform keuangan MoneySmart juga mengalami peretasan pada akhir Oktober lalu yang mengakibatkan pencurian data pribadi pelanggan. Omry Hayon, Wakil Presiden DART Consulting and Training, menegaskan pentingnya transisi dari pengetahuan teoretis ke keterampilan praktis. "Seiring dengan semakin canggihnya ancaman siber, orang-orang yang melindungi infrastruktur penting kita butuh lebih dari pengetahuan teoretis," ujarnya. Melalui simulasi ini, DART bertujuan memberi peluang bagi para praktisi untuk membangun dan menguji kapabilitas mereka di lingkungan yang mendekati kondisi nyata, memastikan kesiapan infrastruktur nasional menghadapi vektor serangan masa depan.
BERITA TERKAIT (Dunia)

MoneySmart Singapura Jadi Korban Peretasan Data Pribadi, Jamin Layanan Tetap Beroperasi

Kemlu RI: Perbedaan Sikap RI-Singapura Soal Asap Lintas Batas Tak Ganggu Persatuan ASEAN

Skandal "Spy Tapes": Bagaimana Penyadapan Hukum Malah Bawa Zuma ke Kursi Presiden Afrika Selatan
