Pramono Anugerahkan Embung Baru di Jakbar: Antisipasi Banjir di Titik Topografi Terendah
Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

- Pramono mengungkapkan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan bersama TNI, yang secara proaktif mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana hidrometeorologi tersebut.
- Ia menekankan bahwa sinergi lintas sektoral ini bertujuan untuk memastikan respons cepat dan efektif saat musim hujan tiba, mengingat Jakarta Barat diprediksi akan menjadi episentrum curah hujan tinggi.
- Penanganan Titik Rawan: Dari Tanggul Kali Angke hingga Rawa Buaya Secara teknis, penanganan banjir difokuskan pada beberapa lokasi krusial.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi potensi curah hujan tertinggi yang diprakirakan terjadi pada awal 2027, khususnya di wilayah Jakarta Barat. Melalui rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Balai Kota, Pramono menegaskan kesiapan pembenahan infrastruktur, termasuk pembangunan embung baru dan penanganan titik-titik rawan banjir yang telah lama menjadi masalah kronis di ibu kota.
Komitmen ini bukan tanpa dasar. Pramono mengungkapkan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan bersama TNI, yang secara proaktif mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana hidrometeorologi tersebut. Ia menekankan bahwa sinergi lintas sektoral ini bertujuan untuk memastikan respons cepat dan efektif saat musim hujan tiba, mengingat Jakarta Barat diprediksi akan menjadi episentrum curah hujan tinggi.
Penanganan Titik Rawan: Dari Tanggul Kali Angke hingga Rawa Buaya
Secara teknis, penanganan banjir difokuskan pada beberapa lokasi krusial. Pramono meninjau langsung pembangunan tanggul Kali Angke Segmen Permata Buana, Kembangan Utara, yang progresnya telah mencapai 90 persen. Namun, ia mengingatkan bahwa segmen ini tetap berisiko banjir karena kondisi tanahnya yang lebih rendah dibandingkan wilayah sekitarnya. Oleh karena itu, Pemprov DKI menyetujui pembangunan embung baru di Jakarta Barat untuk menambah daya tampung air, mengingat kebutuhan infrastruktur penampung air di wilayah ini dinilai masih sangat kurang.
Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ika Agustin, merinci bahwa Rawa Buaya dan Cengkareng merupakan dua wilayah dengan topografi paling rendah di Jakarta Barat. Berikut adalah rencana penanganan spesifik yang dipaparkan:
- Penanganan banjir di Rawa Buaya akan dilakukan secara simultan dengan penyelesaian pembangunan Kali Angke.
- Pembangunan Polder Apuran di kawasan Cengkareng telah direncanakan, disertai penertiban lokasi oleh Pemkot Jakarta Barat.
- Proyek penanganan banjir di Rawa Buaya dan Kali Angke akan dilaksanakan secara multiyears, dimulai dari 2027 hingga akhir 2028.
Proyeksi Jangka Panjang: Pengerjaan Bertahap hingga 2029
Langkah-langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pemprov DKI untuk menekan risiko banjir secara struktural. Ika Agustin menambahkan bahwa pengerjaan penanganan banjir di kawasan-kawasan topografi rendah tersebut tidak akan selesai dalam waktu singkat, melainkan dilakukan secara bertahap hingga tahun 2029. Pendekatan multiyears ini diharapkan mampu menciptakan sistem drainase dan penampungan air yang lebih robust, sehingga dampak curah hujan tinggi dapat diminimalkan secara signifikan bagi warga Jakarta Barat.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Pemprov Jateng Luncurkan Program 'Cashback' Harian untuk Wajib Pajak Kendaraan Patuh hingga Akhir 2026

Bayang-Bayang OTT: Ancaman AI Menggerus Trafik Media dan Model Bisnis Jurnalisme

Dubes Australia Dorong Persepsi Ekonomi ASEAN di Washington: Melampaui Narasi Geopolitik
