Kamis, 5 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

MUI Palu Dorong Penguatan Literasi Agama untuk Cegah Provokasi Tafsir Sepihak di Era Digital

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: Antara Terkini
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

MUI Palu Dorong Penguatan Literasi Agama untuk Cegah Provokasi Tafsir Sepihak di Era Digital
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Zainal Abidin , Ketua MUI Kota Palu, mengingatkan bahwa di era digital, kemudahan akses informasi justru membuka celah bagi manipulasi narasi agama yang berpotensi memecah belah persatuan.
  • Ia menekankan bahwa Al-Quran sebagai wahyu dari Allah SWT dan pemahaman manusia terhadap teks suci tersebut adalah dua entitas yang berbeda, sehingga perbedaan interpretasi harus dihormati.
  • Kondisi ini sering memicu kebingungan di tengah masyarakat akibat munculnya penafsiran keliru dan pemotongan ayat tanpa konteks utuh.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, menegaskan urgensi penguatan literasi keagamaan yang utuh bagi umat Islam agar tidak mudah terprovokasi oleh tafsir ayat Al-Quran yang dipenggal dan disebarkan secara sepihak di media sosial. Zainal Abidin, Ketua MUI Kota Palu, mengingatkan bahwa di era digital, kemudahan akses informasi justru membuka celah bagi manipulasi narasi agama yang berpotensi memecah belah persatuan.

"Di era digital informasi apa saja dengan mudah diperoleh, termasuk memanfaatkan memenggal ayat-ayat Al Quran dan ditafsirkan secara sepihak untuk memprovokasi umat dengan tujuan tertentu," ujar Zainal di Palu, Kamis (21/1). Ia menekankan bahwa Al-Quran sebagai wahyu dari Allah SWT dan pemahaman manusia terhadap teks suci tersebut adalah dua entitas yang berbeda, sehingga perbedaan interpretasi harus dihormati.

Tantangan Metodologis di Era Informasi Instan

Zainal menjelaskan bahwa era digital menghadirkan tantangan kompleks karena siapa pun dapat berbicara, mengakses terjemahan instan, dan menyebarkan konten tafsir tanpa landasan metodologis yang memadai. Kondisi ini sering memicu kebingungan di tengah masyarakat akibat munculnya penafsiran keliru dan pemotongan ayat tanpa konteks utuh. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa penafsiran agama tidak boleh dilepaskan dari perangkat keilmuan yang sah, antara lain:

  • Penguasaan tata Bahasa Arab.
  • Studi ulumul Quran dan asbab nuzul (sebab-sebab turunnya ayat).
  • Merujuk pada pandangan para ulama dan mazhab yang diakui.

"Mazhab bukan agama, tetapi cara ulama dalam memahami teks ajaran agama (nash) dengan kapasitas ilmu yang mereka miliki," kata Zainal yang juga menjabat sebagai Guru Besar UIN Datokarama Palu.

Peran Strategis Ulama dalam Membina Umat

Untuk mengatasi polarisasi pemahaman, Zainal mengingatkan umat untuk senantiasa mengedepankan sikap moderat dan menjunjung tinggi prinsip tabayyun atau verifikasi kebenaran informasi. Keragaman pemahaman harus diposisikan sebagai kekayaan intelektual umat Islam, bukan sumber permusuhan. "Perbedaan tidak perlu dipaksakan harus sama, karena perbedaan datangnya dari sang Pencipta alam semesta Allah SWT," tegasnya. Ia menutup dengan menekankan tanggung jawab moral imam masjid dan ulama dalam membina umat melalui majelis dan pertemuan rutin, guna memastikan pemahaman agama yang holistik dan mendalam.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ