Ekspor Jabar Tembus US$31,22 Miliar, Surplus Neraca Dagang Capai US$22,09 Miliar hingga September 2026
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

- Neraca perdagangan luar negeri Jawa Barat mencatatkan kinerja impresif dengan surplus sebesar US$22,09 miliar untuk periode Januari hingga September 2026.
- Capaian ini didorong oleh lonjakan nilai ekspor yang menyentuh US$31,22 miliar , sementara nilai impor berada di angka US$9,13 miliar .
- Menurut Margaretha, pertumbuhan positif terjadi di seluruh sektor ekonomi.
Neraca perdagangan luar negeri Jawa Barat mencatatkan kinerja impresif dengan surplus sebesar US$22,09 miliar untuk periode Januari hingga September 2026. Capaian ini didorong oleh lonjakan nilai ekspor yang menyentuh US$31,22 miliar, sementara nilai impor berada di angka US$9,13 miliar. Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menegaskan bahwa total ekspor provinsi tersebut melonjak 8,06 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025, menandakan pemulihan kuat dalam sektor perdagangan internasional.
Menurut Margaretha, pertumbuhan positif terjadi di seluruh sektor ekonomi. "Kinerja ekspor sektoral Januari-September 2026 tumbuh positif di seluruh sektor. Sektor Migas naik 21,97 persen, Pertanian naik 19,66 persen, Pertambangan naik 11,07 persen, dan Industri Pengolahan naik 7,90 persen," ujar Margaretha saat merilis Berita Resmi Statistik di Bandung, Senin (2/11). Secara rinci, ekspor nonmigas menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi US$30,97 miliar atau naik 7,97 persen, diikuti ekspor migas yang mencapai US$244,48 juta atau naik 21,97 persen.
Detail Komoditas dan Destinasi Ekspor Utama
Dari sisi komoditas, Golongan Mesin dan Peralatan Mekanis mencatatkan kenaikan ekspor tertinggi melonjak US$515,04 juta atau 21,72 persen. Sebaliknya, penurunan terbesar terjadi pada Golongan Karet dan Barang dari Karet yang terkoreksi US$151,32 juta atau menurun 13,06 persen. Amerika Serikat tercatat sebagai negara tujuan ekspor nonmigas terbesar Jabar dengan nilai US$5,28 miliar, disusul Filipina (US$2,64 miliar) dan Jepang (US$2,20 miliar). Gabungan ketiga negara ini menyumbang 32,67 persen dari total ekspor nonmigas, sementara ekspor ke kawasan ASEAN mencapai US$8,08 miliar dan gabungan kawasan Amerika serta Eropa menembus US$11,67 miliar.
Dinamika Impor dan Dominasi Rantai Pasok Global
Di sisi impor, total nilai tercatat US$9,13 miliar atau turun 1,25 persen secara tahunan. Penurunan ini dipengaruhi oleh merosotnya impor migas sebesar 48,66 persen menjadi US$554,20 juta, meskipun impor nonmigas masih tumbuh 8,04 persen menjadi US$8,58 miliar. China tetap mendominasi sebagai negara asal impor nonmigas terbesar dengan nilai US$3,66 miliar (42,65 persen), diikuti Jepang (US$1,03 miliar) dan Korea Selatan (US$998,58 juta). Berdasarkan golongan penggunaan barang, impor Barang Konsumsi naik 12,67 persen dan Bahan Baku/Penolong naik 0,94 persen, sementara impor Barang Modal justru menurun sebesar 5,16 persen, mengindikasikan pergeseran pola investasi atau produksi di Jawa Barat.
BERITA TERKAIT (Ekonomi)

Indef Ungkap 4 Faktor Kunci: Stok Beras Melimpah Tak Cukup Tekan Harga di Pasar
Kanada Pertahankan Jalur Perundingan Dagang dengan AS Pasca Pemilu Sela, Fokus pada Eksekutif Trump

Agora dan Carousell Soroti Ledakan Pasar Video Commerce Indonesia dengan Pertumbuhan 90 Persen
