Dana Kekayaan Negara Norwegia Rugi Rp540 Triliun pada Kuartal III-2026 Akibat Tekanan Obligasi
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Dana kekayaan negara terbesar di dunia milik Norwegia mencatat kerugian investasi hampir US$30 miliar atau sekitar Rp540 triliun sepanjang kuartal III-2026. Norges Bank Investment Management (NBIM), lembaga pengelola dana senilai US$2,3 triliun tersebut, melaporkan imbal hasil akuntansi negatif sebesar 278 miliar kroner Norwegia atau setara US$29,7 miliar.
Menurut keterangan NBIM, kerugian ini terutama dipicu oleh kenaikan suku bunga global yang menekan kinerja portofolio obligasi. Investasi pendapatan tetap lembaga itu mencatatkan imbal hasil negatif 3,5%. Sekitar 70% dari portofolio pendapatan tetap NBIM ditempatkan pada obligasi pemerintah dan sisanya pada surat utang korporasi, dengan total kepemilikan mencakup 1.664 obligasi di 51 negara. Wakil CEO NBIM Trond Grande menyatakan bahwa imbal hasil dana hampir mendatar, namun berakhir sedikit negatif karena kenaikan suku bunga melemahkan instrumen pendapatan tetap mereka.
Tekanan pada pasar obligasi terjadi seiring dimulainya siklus kenaikan suku bunga oleh sejumlah bank sentral utama, termasuk Federal Reserve Amerika Serikat. Kekhawatiran terhadap inflasi dan membengkaknya utang pemerintah turut memperburuk sentimen pasar. Sebagai respons, NBIM bulan lalu mengungkapkan rencana untuk mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah AS sebagai bagian dari strategi memangkas porsi investasi pada surat utang yang diterbitkan pemerintah.
Berbeda dengan obligasi, portofolio saham yang menyumbang sekitar 72% dari total investasi NBIM justru menghasilkan imbal hasil positif 0,5% pada periode yang sama. Lembaga ini memiliki kepemilikan minoritas di sekitar 7.100 perusahaan, yang mencakup sekitar 1,5% dari seluruh perusahaan tercatat di dunia. Beberapa investasi terbesarnya meliputi saham Nvidia senilai US$65,4 miliar serta kepemilikan di Apple, Alphabet, dan Microsoft.
Grande menjelaskan bahwa terdapat perbedaan besar antarsektor di pasar saham. Perusahaan energi mencatatkan kenaikan tertinggi karena diuntungkan oleh lonjakan harga minyak di tengah berlanjutnya perang antara AS dan Iran. NBIM sendiri memegang saham di Exxon Mobil, Shell, dan Chevron. Sebaliknya, sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti utilitas dan properti mengalami penurunan.
Kinerja tiga indeks utama Wall Street hingga akhir September juga bergerak beragam. Indeks S&P 500 menguat 2,03%, Nasdaq Composite naik 2,2%, sementara Dow Jones Industrial Average turun 1,9%. Rata-rata perubahan ketiga indeks tersebut hanya mencapai 0,6%, menandakan perlambatan setelah sebelumnya mencatatkan kenaikan dua digit.
Kerugian pada kuartal III-2026 ini kontras dengan capaian rekor pada semester I-2026, ketika NBIM meraih laba hampir US$185 miliar dengan imbal hasil 12,95%. CEO NBIM Nicolai Tangen sebelumnya telah mengingatkan agar investor tidak mengharapkan kekuatan reli yang sama berlanjut ke paruh kedua tahun ini. Selain saham dan obligasi, NBIM juga berinvestasi pada properti dan infrastruktur energi terbarukan, yang masing-masing mencatatkan imbal hasil positif 0,4% dan 7,5% pada kuartal III-2026. Dana kekayaan negara ini dibentuk Norwegia pada 1998 untuk menginvestasikan pendapatan dari sektor minyak.


