Airlangga Targetkan 40 Persen Investasi Rp2.900 Triliun untuk Hilirisasi Mineral 2027
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa mineral dan batu bara akan menjadi ujung tombak strategi hilirisasi pemerintah pada tahun 2027. Penekanan ini disampaikannya dalam acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta pada Selasa (6/10), saat ia memaparkan peta jalan ambisius ekonomi nasional di depan para pelaku industri dan investor.
Pemerintah memproyeksikan target investasi nasional tahun depan sebesar Rp2.900 triliun. Dari total tersebut, Airlangga memperkirakan sekitar 40 persen akan dialokasikan khusus untuk sektor hilirisasi. "Tahun depan kan target investasinya sekitar Rp2.900 triliun, itu termasuk mungkin 40 persen dari hilirisasi. Ya pasti mineral dan batu bara termasuk persiapan yang untuk logam lain," ujarnya, memastikan bahwa sektor tambang tetap menjadi pilar utama kerangka investasi negara.
Langkah ini merupakan bagian dari dorongan sistematis pemerintah untuk memproses 28 komoditas strategis yang tersebar di delapan sektor ekonomi. Airlangga menjelaskan bahwa program masif ini menuntut modal awal sebesar US$618 miliar, atau setara dengan Rp11.065 triliun dengan asumsi kurs Rp17.910 per dolar AS. Dana ini ditujukan untuk memperluas kapasitas produksi domestik dan mengerek nilai ekspor nasional secara eksponensial.
Dalam pidato kuncinya, Airlangga membeberkan proyeksi keuntungan yang diharapkan dari suntikan dana tersebut. Ia memperkirakan investasi ini akan menggenjot nilai ekspor menjadi US$857 miliar serta menghasilkan nilai tambah sebesar US$235,9 miliar. Perhitungan ini didasarkan pada kondisi saat ini di mana nilai ekspor Indonesia telah mendekati angka US$500 miliar, sehingga hilirisasi diproyeksikan mampu menggandakan besaran tersebut.
Perlu dicatat bahwa fokus hilirisasi tidak terbatas pada tambang saja. Airlangga menekankan bahwa komoditas sumber daya alam terbarukan seperti kelapa sawit, karet, dan kelapa, serta sektor pertanian, juga menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi ini. Pengembangan industri hilir ini menjadi instrumen kunci untuk meningkatkan kontribusi manufaktur terhadap perekonomian nasional sekaligus mengunci nilai tambah dari kekayaan alam Indonesia.
