Ledakan Depot Nasi di Surabaya Diduga Akibat Bocor Pipa 3 Tabung LPG 50 Kg, 5 Orang Luka

Kriminal
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ledakan Depot Nasi di Surabaya Diduga Akibat Bocor Pipa 3 Tabung LPG 50 Kg, 5 Orang Luka
BAGIKAN:

Empat tabung gas LPG 50 kilogram diduga menjadi pemicu ledakan dahsyat yang menghancurkan Depot Nasi Tempong Sri Dewi di kompleks Ruko San Antonio, Pakuwon City, Surabaya, Selasa (6/10). Kombes Luthfie Sulistiawan, Kapolrestabes Surabaya, memastikan indikasi kuat kebocoran gas berasal dari bagian pipa, bukan karena meledaknya tabung itu sendiri. Insiden ini menelan korban lima orang, yang kini tengah dirawat intensif di Rumah Sakit Haji.

Temuan ini merujuk pada hasil olah tempat kejadian perkara oleh tim Penjinak Bom dan keterangan para saksi di lapangan. Dua tabung berwarna oranye dan satu tabung putih ditemukan di lokasi kejadian. Luthfie menyatakan, sekitar pukul 07.00 WIB, seorang koki mencium bau gas ketika sedang memasak. Dalam hitungan detik, bau gas itu berubah menjadi ledakan kuat yang menggebrak ruko tersebut. "Kemungkinan besar dari keterangan saksi-saksi yang ada juga menyatakan diduga keras dari akibat kebocoran gas tersebut," ujar Luthfie di lokasi kejadian.

Tim Gegena Satuan Brigade Mobil Kepolisian Daerah Jawa Timur langsung menyisir area sekitar untuk memastikan keamanan. Kompol Dyan Vicky Sandi, Komandan Detasemen Gegana Satbrimob Polda Jatim, menegaskan tidak ada unsur bahan peledak atau bom dalam peristiwa ini. Dyan menjelaskan bahwa ledakan terjadi akibat tekanan gas yang terkumpul dalam satu ruangan sempit dan sempit, yang kemudian memicu reaksi kimia keras saat terpicu api atau api kecil dari kompor. "Karena ada tekanan gas yang terkumpul dalam satu ruangan, sehingga setelah terpemicu itu akan meledak," kata Dyan.

Keputusan penggunaan tiga tabung LPG besar di ruang dapur ruko menjadi sorotan utama. Standar keamanan pangan biasanya melarang penggunaan tabung kapasitas besar di area kerja tertutup tanpa ventilasi memadai. Dyan Vicky Sandi menambahkan, sementara dugaannya, kebocoran berasal dari sambungan pipa yang mungkin sudah mengalami keausan. Kelalaian dalam pemeriksaan rutin sambungan gas menjadi pertanyaan yang belum terjawab, mengingat tabung-tabung tersebut tidak pecah, melainkan bocor perlahan hingga akumulasi gas mencapai titik ledak.

Lima korban, terdiri dari empat laki-laki dan satu perempuan, mengalami luka dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Haji untuk penanganan medis. Hingga berita ini diturunkan, kondisi mereka dilaporkan stabil namun masih dalam pengawasan ketat. Insiden ini menjadi peringatan keras bagi pelaku usaha kuliner di kawasan komersial Surabaya untuk mematuhi protokol keselamatan penggunaan bahan bakar gas.

Analisis Redaksi

Insiden di Pakuwon City ini menyoroti celah serius dalam pengawasan keselamatan kerja di sektor usaha pangan urban. Dugaan kebocoran dari pipa, bukan ledakan tabung, mengindikasikan kemungkinan kegagalan pada instalasi internal ruko. Ketidakhadiran sistem deteksi gas otomatis atau ventilasi memadai di ruang dapur komersial menjadi faktor pemicu utama akumulasi gas hingga ke titik ledak. Kelalaian dalam perawatan peralatan dapur berkapasitas besar seperti tiga tabung 50 kg perlu menjadi evaluasi standar keselamatan bagi seluruh pelaku usaha di kompleks ruko.

Mengingat ledakan bersifat murni efek gas, potensi terjadinya kecelakaan serupa di lokasi lain dengan pola penggunaan gas yang sama sangat besar. Regulator di bidang keamanan kebakaran dan gas perlu memperketat inspeksi rutin terhadap sambungan pipa dan kualitas tabung di zona komersial. Warga dan pelaku usaha wajib meningkatkan kewaspadaan terhadap bau gas, tidak hanya untuk keamanan, tetapi juga untuk preventif menghindari akumulasi gas di ruang tertutup. Kejadian ini seharusnya menjadi pemicu reformasi standar keselamatan di industri kuliner Indonesia.

Meow! Tanya Nesi!
😸