Prabowo Tekankan Sistem Prestasi di TNI, Amankan Wilayah yang Luas Sepenuh Eropa
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa sistem kerja di dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI) wajib berlandaskan prestasi, bukan sekadar senioritas atau loyalitas sempit perangkatan.
Amanat tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin upacara HUT ke-81 TNI di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (5/10). Pada hari yang sama, Prabowo menekankan bahwa institusi militer harus menjadi kekuatan yang profesional, responsif, modern, dan inovatif untuk menghadapi tantangan zaman.
"Sekali lagi saya tekankan, TNI yang hebat adalah TNI yang mengutamakan prestasi. Sistem yang berlaku di TNI harus sistem prestasi, bukan sistem sekadar senioritas, apalagi sistem-sistem yang sempit, loyalitas sempit, loyalitas perangkatan, dan sebagainya," tegas Prabowo dalam pidatonya.
Prabowo juga mengingatkan bahwa luasnya wilayah Indonesia seperti benua Eropa dengan lebih dari 30 negara, menjadikan tugas TNI sangat berat namun tetap mampu. "Kita satu TNI. Tugas Saudara berat, tapi saya yakin Saudara mampu," ujar dia.
Di samping tuntutan profesionalisme, Prabowo menegaskan bahwa prajurit TNI harus mampu bersinergi dengan berbagai pihak. "Kekuatan dan kemampuan TNI harus dapat mempercepat pelaksanaan program-program pemerintah, mengatasi berbagai kesulitan nyata yang dihadapi rakyat," ucapnya.
Pemerintah berkomitmen memperhatikan kesejahteraan prajurit, pendidikan anak, dan pelayanan kesehatan. "Tetapi sekali lagi saya tegaskan, TNI sebagai tentara rakyat, tingkat kehidupan TNI tidak boleh terlalu jauh dari tingkat kehidupan rakyat kita seluruhnya," pungkas Prabowo.
Analisis Redaksi
Pernyataan kepala negara ini menjadi sinyal kuat bahwa ada pergeseran paradigma dalam struktur komando militer. Tekanan pada prestasi dan loyalitas yang tidak terikat pada perangkatan tertentu mengindikasikan upaya memutus praktik feodalisme dan klanis yang kerap menghambat mobilitas karier personel yang kompeten. Ini adalah langkah krusial untuk memastikan TNI tetap relevan dalam menghadapi ancaman modern.
Analogi Indonesia dengan Eropa sangat relevan untuk menyadarkan bahwa beban operasional TNI jauh lebih besar dibanding negara-negara di benua tersebut. Dengan satu institusi militer yang harus menjaga ribuan pulau dan perbatasan panjang, efisiensi dan sinergi antar-lembaga menjadi kunci keberhasilan. Sinergi yang diminta Prabowo, mulai dari tingkat pusat hingga kepala suku, menunjukkan bahwa TNI diposisikan sebagai ujung tombak eksekusi kebijakan pemerintah di lapangan, bukan sekadar penjaga kedaulatan.
Yang perlu diwaspadai adalah implementasi dari janji kesejahteraan tersebut. Prabowo secara tegas menyatakan bahwa taraf hidup TNI tidak boleh terlalu jauh dari rakyat. Ini adalah pengingat keras bahwa setiap tambahan anggaran atau manfaat bagi prajurit harus diimbangi dengan pengabdian nyata. Jika profesionalisme yang ditagih tidak dibarengi dengan transparansi dalam hal kesejahteraan, maka potensi friksi sosial bisa muncul. Publik akan terus mengawasi bagaimana TNI menjalankan misi ganda ini dalam dua tahun ke depan.