Retno Kusumastuti Dorong Bakom RI jadi Hub Adaptif Berpusat pada Masyarakat
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Retno Kusumastuti, seorang Konsultan Komunikasi Senior dari REQComm Strategic Consultant, menegaskan harapannya agar Badan Komunikasi (Bakom) RI bertransformasi menjadi citizen-centric hub yang adaptif.
Harapan ini muncul dari keyakinan bahwa di masa depan, lembaga komunikasi negara tidak boleh lagi menjadi menara gading yang hanya berbicara ke publik, melainkan harus menjadi ruang di mana aspirasi warga bisa didengar secara dua arah. Retno menilai, agar relevan, Bakom harus mampu membaca denyut nadi masyarakat secara real-time dan meresponsnya dengan kebijakan yang tepat sasaran.
Transformasi menjadi hub yang berpusat pada masyarakat ini menuntut adanya perubahan fundamental dalam struktur kerja birokrasi komunikasi. Jika selama ini arus informasi bersifat satu arah, dari negara ke rakyat, kini tuntutan untuk mendengarkan, memproses, dan menindaklanjuti masukan warga menjadi prioritas utama. Ini bukan sekadar perubahan slogan, melainkan pergeseran paradigma yang memaksa setiap divisi untuk bekerja dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan berbasis data.
Dalam konteks ini, adaptivitas menjadi kunci utama. Kemampuan untuk berubah di tengah situasi yang dinamis, baik itu krisis sosial maupun pergeseran preferensi media, akan menentukan keberlangsungan pengaruh lembaga tersebut. Retno Kusumastuti menggarisbawahi bahwa tanpa kemampuan adaptif, sebuah lembaga komunikasi akan dengan cepat menjadi tidak relevan di mata publik.
Langkah ini sebenarnya selaras dengan tren global di mana institusi publik semakin dituntut untuk transparan dan akuntabel secara proaktif. Dengan menjadi citizen-centric hub, Bakom RI tidak hanya bertugas menyampaikan kebijakan pemerintah, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan penghubung yang memperkuat ikatan antara negara dan warga negara. Ini adalah fondasi penting untuk menjaga legitimasi dan kepercayaan publik di era informasi yang cepat berubah.
Analisis Redaksi
Pernyataan Retno Kusumastuti ini membuka ruang diskusi serius tentang efektivitas lembaga komunikasi negara dalam menghadapi era disrupsi informasi. Jika 'citizen-centric hub' benar-benar diimplementasikan, maka indikator keberhasilan Bakom RI tidak lagi diukur dari jumlah berita yang tersiar, melainkan dari tingkat engagement dan responsivitas terhadap masukan masyarakat. Ini adalah pergeseran dari kuantitas ke kualitas, yang akan memaksa seluruh ekosistem internal untuk melakukan reformasi budaya kerja secara menyeluruh.
Apa yang perlu diwaspadai adalah jebakan birokrasi di mana konsep adaptif ini akhirnya hanya menjadi jargon tanpa substansi di lapangan. Tanpa mekanisme yang jelas untuk memproses 'centrictas' pada warga, lembaga berisiko terjebak dalam retorika modernitas namun tetap menjalankan operasional dengan kaku lama. Kemungkinan langkah selanjutnya secara logis adalah pembentukan unit khusus yang bertugas menganalisis sentimen publik dan menerjemahkannya menjadi strategi komunikasi jangka pendek, bukan sekadar menunggu kebijakan turun dari atas.