Prabowo Lantik Sinta Nuriyah, Quraish Shihab, dan Rocky Gerung Jadi Anggota Wantimpres

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Prabowo Lantik Sinta Nuriyah, Quraish Shihab, dan Rocky Gerung Jadi Anggota Wantimpres
BAGIKAN:

Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Sinta Nuriyah, M. Quraish Shihab, hingga Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Pelantikan ini menandai langkah strategis kepala negara dalam merangkul berbagai spektrum pemikiran untuk mendampingi arah kebijakan pemerintah ke depan.

Tiga nama tersebut mewakili latar belakang yang sangat berbeda. Sinta Nuriyah dikenal luas sebagai tokoh perempuan dan aktivis kemanusiaan. Sementara itu, M. Quraish Shihab membawa bobot otoritas keilmuan tafsir agama Islam yang dihormati lintas kalangan. Kehadiran Rocky Gerung tentu memancing perhatian lebih tajam. Filsuf dan pengamat politik ini selama bertahun-tahun kerap menyuarakan kritik pedas terhadap kekuasaan melalui argumen logika yang tak kenal kompromi.

Dewan Pertimbangan Presiden merupakan lembaga yang diatur langsung dalam konstitusi. Tugas utamanya memberikan nasihat dan pertimbangan kepada presiden terkait penyelenggaraan pemerintahan. Komposisi anggotanya sepenuhnya menjadi hak prerogatif presiden tanpa campur tangan parlemen. Pilihan figur-figur ini menunjukkan Prabowo sedang membangun ruang konsultasi yang tidak monoton.

Langkah ini bukan sekadar formalitas ketatanegaraan biasa. Memasukkan sosok seperti Rocky Gerung ke dalam lingkaran istana adalah manuver politik yang jarang terjadi di republik ini. Biasanya, kursi Wantimpres diisi oleh politikus senior yang sudah lama berkarier di dalam sistem atau purnawirawan jenderal. Menggandeng pemikir independen yang vokal mengindikasikan adanya upaya mengubah tradisi penunjukan penasihat presiden.

Bagi publik, susunan baru ini membuka ekspektasi sekaligus pertanyaan besar. Masyarakat kini menunggu apakah perbedaan pandangan yang tajam di antara para anggota Wantimpres akan menghasilkan perdebatan substansial atau justru membeku dalam seremonial belaka. Kualitas nasihat yang sampai ke meja presiden akan menentukan seberapa relevan lembaga ini di mata rakyat banyak.

Analisis Redaksi

Pelantikan Wantimpres dengan komposisi heterogen ini memperlihatkan kalkulasi politik Prabowo yang matang. Merangkul mantan kritikus keras seperti Rocky Gerung sekaligus duduk bersama tokoh agama sekaliber M. Quraish Shihab adalah strategi meredam polarisasi. Istana seolah mengirim sinyal bahwa pintu dialog terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki kapasitas intelektual, terlepas dari riwayat sikap politik mereka sebelumnya.

Namun, kewaspadaan tetap diperlukan. Jabatan penasihat presiden sering kali terjebak dalam zona nyaman tanpa daya tekan nyata terhadap kebijakan. Tantangan terbesarnya terletak pada apakah Prabowo Subianto benar-benar siap menerima kritik internal yang sama tajamnya dengan ketika Rocky Gerung berbicara di ruang publik. Jika nasihat hanya dianggap angin lalu, pelantikan ini hanya akan menjadi etalase toleransi semu.

Secara logis, langkah selanjutnya yang patut ditunggu adalah dinamika kerja internal dewan tersebut. Publik perlu mengamati apakah ada rekomendasi konkret yang lahir dari perpaduan perspektif aktivisme, teologi, dan filsafat politik ini. Efektivitas Wantimpres periode ini akan diukur bukan dari siapa yang duduk di dalamnya, melainkan dari jejak kebijakan apa yang berhasil mereka pengaruhi secara nyata di masa mendatang.

Meow! Tanya Nesi!
😸