Prabowo Lantik Pratikno dan Hatta Rajasa Pimpin Wantimpres, Isi Kekosongan Dua Tahun

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Prabowo Lantik Pratikno dan Hatta Rajasa Pimpin Wantimpres, Isi Kekosongan Dua Tahun
BAGIKAN:

Presiden Prabowo Subianto resmi mengisi kekosongan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dengan melantik Pratikno sebagai ketua dan Hatta Rajasa sebagai wakil ketua di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (2/10). Pelantikan ini mengakhiri masa vakum lembaga penasihat presiden yang berlangsung hampir dua tahun sejak berakhirnya era Presiden ke-7 Joko Widodo periode 2019-2024. Keputusan strategis tersebut tertuang secara resmi dalam Keputusan Presiden Nomor 107/P/2026 tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia.

Prabowo memimpin langsung pembacaan sumpah seluruh anggota Wantimpres yang baru dilantik. Ia meminta setiap pejabat yang diambil sumpahnya untuk mengikuti prosesi tersebut sesuai dengan agama masing-masing. Langkah ini menegaskan bahwa komposisi dewan yang terbentuk mencerminkan keberagaman latar belakang kepercayaan di Indonesia.

Selain Pratikno dan Hatta Rajasa, struktur kepengurusan dilengkapi oleh Muhammad Qodari yang ditunjuk menempati posisi sekretaris. Total terdapat 21 nama yang masuk dalam jajaran anggota Wantimpres periode ini. Komposisinya merentang dari tokoh politik, purnawirawan militer, hingga pemuka agama dan pengusaha nasional.

Berikut daftar lengkap anggota Wantimpres bentukan Prabowo: Pratikno (Ketua), Hatta Rajasa (Wakil Ketua), Muhammad Qodari (Sekretaris), Budi Gunawan, Djamari Chaniago, Rocky Gerung, Said Aqil Siradj, Jusuf Hamka, Agum Gumelar, Letjen TNI (Purn) Ida Bagus Purwalaksana, Philip Kuntjoro Widjaja, Jusuf Wanandi, Chairul Tanjung, Miftahul Akhyar, Anwar Usman, Herman Khaeron, Sinta Nuriyah, Bambang Soesatyo, Quraish Shihab, Salim Segaf Al-Jufri, Yahya Cholil Staquf, dan Ignasius Jonan.

Pembentukan tim penasihat ini menambal kekosongan panjang yang tersisa dari pemerintahan sebelumnya. Pada periode kedua Jokowi, kursi ketua Wantimpres dipegang oleh Wiranto. Saat itu, jajaran anggotanya diisi oleh nama-nama seperti Dato Sri Tahir, Luthfi Ali Yahya, Putri Kus Wisnu Wardani, Agung Laksono, Sidarto Danusubroto, Soekarwo, Djan Faridz, Gandi Sulistiyanto Soeherman, Muhamad Mardiono, serta almarhum Arifin Panigoro.

Kehadiran figur-figur lintas spektrum dalam satu meja memberikan sinyal kuat mengenai arah kebijakan Istana. Publik kini memiliki gambaran lebih jelas soal siapa saja yang akan berbisik langsung di telinga kepala negara saat mengambil keputusan krusial.

Analisis Redaksi

Keputusan Prabowo merekrut 21 nama dari berbagai kutub menunjukkan manuver akomodasi politik berskala besar. Masuknya sosok seperti Rocky Gerung yang selama ini dikenal vokal mengkritik pemerintah, berdampingan dengan nama-nama dari lingkaran koalisi seperti Bambang Soesatyo dan Herman Khaeron, membuktikan upaya meredam potensi friksi sejak dini. Ini bukan sekadar susunan birokrasi biasa. Ini adalah peta kekuatan yang diramu untuk menjaga stabilitas istana.

Kekosongan Wantimpres selama hampir dua tahun meninggalkan celah pada mekanisme konsultasi informal presiden. Dengan aktifnya kembali lembaga ini melalui Keppres Nomor 107/P/2026, arus masukan kebijakan ke tangan Prabowo bakal jauh lebih terstruktur. Yang patut diwaspadai publik adalah efektivitas kerja sebuah dewan dengan jumlah anggota mencapai dua puluhan orang. Terlalu banyak kepala penasihat berpotensi membuat rekomendasi menjadi tumpul atau saling bertabrakan jika tidak ada pembagian fokus yang tegas dari sang ketua.

Secara logis, langkah selanjutnya yang akan kita pantau adalah bagaimana Pratikno membagi portofolio pengawasan di antara para anggota. Apakah mereka akan disebar ke klaster ekonomi, hukum, pertahanan, dan sosial-keagamaan, ataukah bekerja secara kolektif tanpa spesialisasi. Keberhasilan Wantimpres edisi baru ini sangat bergantung pada kemampuan Hatta Rajasa dan Muhammad Qodari mengelola dinamika internal agar saran yang sampai ke meja Prabowo Subianto benar-benar tajam dan membumi.

Meow! Tanya Nesi!
😸