Bakom RI: Presiden Minta Komunikasi Jadi Alat Persatuan Nasional

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Bakom RI: Presiden Minta Komunikasi Jadi Alat Persatuan Nasional
BAGIKAN:

Presiden Republik Indonesia secara tegas meminta agar seluruh lini komunikasi pemerintah diarahkan sebagai instrumen pemersatu bangsa. Arahan itu disampaikan melalui Badan Komunikasi (Bakom) RI yang menegaskan bahwa narasi publik harus mampu merajut kembali kohesi sosial di tengah masyarakat.

Bakom RI menggarisbawahi instruksi kepala negara tersebut sebagai pedoman utama kerja komunikasi kementerian dan lembaga. Pesan presiden tidak sekadar imbauan retoris, melainkan cetak biru tata kelola informasi yang wajib dijalankan seluruh aparatur negara tanpa terkecuali.

Langkah ini diambil ketika ruang publik kerap diwarnai polarisasi akibat arus informasi yang saling berbenturan. Pemerintah menyadari betul bahwa fragmentasi narasi berpotensi melemahkan fondasi kebangsaan jika dibiarkan tanpa arah yang jelas dari pusat komando komunikasi negara.

Seluruh jajaran Bakom RI kini dituntut mengubah paradigma kerja mereka. Mereka tidak lagi hanya berfungsi sebagai corong program kementerian, tetapi harus bertindak aktif menyaring dan merumuskan pesan yang memprioritaskan kepentingan nasional di atas ego sektoral masing-masing instansi.

Bagi lebih dari 270 juta penduduk Indonesia, kebijakan ini berdampak langsung pada kualitas informasi yang mereka terima setiap hari. Masyarakat berhak mendapatkan penjelasan pemerintah yang utuh, tidak terpecah belah oleh perbedaan versi antar-lembaga yang selama ini kerap membingungkan publik.

Komitmen Bakom RI menjalankan mandat presiden akan menjadi ujian nyata bagi profesionalisme birokrasi komunikasi negara. Keberhasilan mengarahkan seluruh kanal resmi untuk menyuarakan persatuan akan menentukan seberapa efektif pemerintah mengelola kepercayaan rakyat di masa-masa kritis.

Analisis Redaksi

Arahan Presiden melalui Bakom RI menandai pergeseran strategi komunikasi negara dari pendekatan reaktif menuju orkestrasi proaktif. Selama bertahun-tahun, tumpang tindih pernyataan antar-kementerian sering kali menciptakan kebingungan yang justru dimanfaatkan pihak ketiga untuk memperlebar jarak sosial. Permintaan agar komunikasi menjadi alat persatuan adalah pengakuan implisit bahwa disonansi informasi dari dalam tubuh pemerintah sendiri merupakan ancaman serius bagi stabilitas politik.

Yang patut diwaspadai adalah batas tipis antara upaya membangun persatuan dan potensi penyeragaman suara yang mematikan kritik konstruktif. Komunikasi pemerintah yang sehat tetap membutuhkan ruang bagi dialektika dan transparansi data, bukan sekadar slogan harmoni yang hampa substansi. Jika Bakom RI gagal membedakan keduanya, narasi persatuan hanya akan menjadi kosmetik politik yang rapuh saat berhadapan dengan krisis riil di lapangan.

Secara logis, langkah selanjutnya yang harus ditempuh Bakom RI adalah menyusun protokol komunikasi terpadu yang mengikat seluruh juru bicara kementerian. Tanpa mekanisme penegakan aturan main yang ketat dan terukur, arahan presiden ini berisiko menguap menjadi wacana seremonial belaka. Evaluasi berkala terhadap keseragaman pesan di berbagai platform resmi akan menjadi indikator paling jujur apakah mandat persatuan ini benar-benar dieksekusi atau hanya berhenti di meja rapat pimpinan.

Meow! Tanya Nesi!
😸