Aqib, Siswa SD di Pemalang Tewas Usai Dirundung Tiga Kakak Kelas, Polisi Lakukan Autopsi

Kriminal
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Aqib, Siswa SD di Pemalang Tewas Usai Dirundung Tiga Kakak Kelas, Polisi Lakukan Autopsi
BAGIKAN:

Aqib (7), siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, meninggal dunia pada Rabu (30/9) sore dalam perjalanan menuju rumah sakit setelah bertahan sembilan hari menjalani perawatan akibat dugaan perundungan oleh tiga kakak kelasnya. Bocah warga Kebondalem, Pemalang, Jawa Tengah itu menghembuskan napas terakhir tanpa pernah pulih dari luka fisik dan trauma yang membekukan keceriaannya.

Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M Wildan Umar, mengonfirmasi kematian tragis tersebut saat ditemui di RSUD M Azhari, Kamis (1/10). "Ya, kami Sat Reskrim bersama Polsek Pemalang Kota menerima laporan dari masyarakat atau adanya informasi bahwa ada seorang anak meninggal dunia yang diduga akibat adanya tindakan kekerasan," ujarnya. Pihak kepolisian telah meminta keterangan awal dari sejumlah saksi, termasuk orang tua korban sejak Rabu (30/9). "Dan hari ini, kami sedang melaksanakan autopsi kepada korban untuk mengetahui penyebab kematian dari korban," ucap Wildan.

Ibu korban, Diah Indriyanti (36), mengaku sangat terpukul atas kematian anak ketiganya tersebut. Aqib sempat dirawat intensif di RSUD M Azhari selama sembilan hari sejak Kamis (17/9). Keluarga sempat membawa pulang bocah itu selama tiga hari sebelum akhirnya memutuskan kembali ke rumah sakit karena kondisinya memburuk. "Hari Kamis tanggal 17 kemarin, selama 9 hari dirawat di rumah sakit. Pulang dari rumah sakit 3 hari, kemudian kemarin berniat dibawa ke rumah sakit kembali, tapi seperti itu (meninggal)," kata Diah di rumah duka.

Perubahan drastis pada perilaku Aqib menjadi petunjuk kuat bagi keluarganya. Diah mengungkapkan anaknya yang semula periang dan doyan makan mendadak berubah pendiam. Korban baru membuka mulut soal perundungan yang dialaminya setelah diperiksa oleh dokter. "Cuma saya merasa udah beda, dari pola makan sama pola setiap hari. Anak itu biasanya ceria tapi berubah pendiam," katanya. "Dia baru bercerita itu setelah diperiksa sama dokter, baru dia cerita," imbuh Diah.

Dari pengakuan Aqib semasa hidupnya, dugaan penganiayaan terjadi saat jam istirahat sekolah. "Dipukul perut, ada yang menendang pakai sepatu. Dan itu pun saya pertama enggak tahu kalau anak itu udah dipukul. Saya baru tahu itu kemarin-kemarin," ujar Diah. Ia melihat sendiri luka memar berwarna biru-biru lebam di perut dan kaki putranya. Selama tiga hari di rumah, Aqib terus mengeluhkan rasa sakit di perutnya hingga sulit berjalan. "Kalau diangkat juga mengeluh sakit," kata Diah. Suami Diah, Nurwandi (43), sempat mendatangi pihak sekolah untuk meminta penjelasan namun upayanya sia-sia. "Anak saya itu sebelum meninggal sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia, dilihatin foto terus dia nunjuk. Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6. Saya mencoba minta kejelasan sekolah, namun belum ada hasilnya," kata Nurwandi.

Kehilangan buah hati yang sehat secara tiba-tiba meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Diah berharap kasus ini berhenti di Aqib saja. "Harapan kami selaku orang tua udah cukup Aqib saja. Yang lain jangan. Mungkin saya ikhlas enggak ikhlas, karena (anak) enggak sakit nggih. Jadi kan saya merasa, enggak sakit kok tiba-tiba kayak gitu," ungkapnya. Kini keluarga menaruh harapan penuh agar polisi segera mengungkap secara gamblang dugaan kekerasan tersebut demi tegaknya keadilan bagi Aqib.

Analisis Redaksi

Kematian Aqib bukan sekadar insiden kenakalan anak-anak yang berujung sial. Ini adalah kegagalan sistemik pengawasan di lingkungan sekolah dasar. Fakta bahwa perundungan dilakukan oleh tiga siswa kelas 5 dan kelas 6 terhadap anak kelas 2 menunjukkan ketimpangan kekuatan fisik yang sangat jauh. Jam istirahat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi siswa justru berubah menjadi arena kekerasan tanpa ada guru yang mendeteksi lebih awal.

Sikap bungkam sekolah saat didatangi Nurwandi patut disorot tajam. Institusi pendidikan tidak boleh memposisikan diri sebagai penonton pasif ketika nyawa siswanya terancam akibat kelalaian pengawasan mereka. Proses autopsi yang tengah dijalankan kepolisian akan menjadi kunci utama untuk membuktikan korelasi medis antara pukulan dan tendangan di bagian perut dengan kondisi fatal yang merenggut nyawa Aqib.

Langkah selanjutnya yang logis dan wajib ditempuh aparat penegak hukum adalah memanggil ketiga terduga pelaku beserta orang tua mereka, serta memeriksa seluruh guru piket yang bertugas pada hari kejadian. Mengingat pelaku masih di bawah umur, penanganan akan merujuk pada sistem peradilan pidana anak. Namun, status usia muda para pelaku tidak boleh menghapus tanggung jawab institusional sekolah maupun pertanggungjawaban hukum dari pihak-pihak yang terbukti lalai melindungi Aqib.

Meow! Tanya Nesi!
😸