Narayani Meluap 11,94 Meter di Devghat, Korban Hujan Deras Nepal Tambah Jadi 21 Jiwa

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Narayani Meluap 11,94 Meter di Devghat, Korban Hujan Deras Nepal Tambah Jadi 21 Jiwa
BAGIKAN:

Sungai Narayani di dataran rendah tengah-selatan Nepal meluap pada Minggu (27/9) dan menerjang permukiman warga, memaksa lebih dari 1.500 orang mengungsi serta menambah jumlah korban jiwa nasional menjadi 21 orang. Peristiwa ini terjadi di tengah cuaca ekstrem yang mengguyur negara tersebut sejak Kamis, menciptakan krisis ganda bagi infrastruktur dan masyarakat yang masih trauma.

Tren kenaikan air di sungai tersebut tercatat drastis dan memecahkan rekor lokal. Permukaan Sungai Narayani berdiri di angka 9,23 meter pada pukul 05.15 waktu setempat. Dalam waktu kurang dari 9 jam, curah hujan deras mendorong volume air naik signifikan hingga mencapai 11,94 meter pada pukul 14.10. Data hidrologi ini menandai ketinggian tertinggi dalam sejarah pencatatan resmi di stasiun pantau Devghat.

Keracauan hulu sungai bukan satu-satunya ancaman yang memicu pengungsian massal. Hujan deras yang tak henti menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor di berbagai wilayah terpencil. Laporan resmi pemerintah pada Senin (28/9) mengonfirmasi bahwa total korban tewas akibat serangkaian cuaca ekstrem tersebut kini mencapai 21 orang. Angka ini mencakup korban dari berbagai distrik yang terdampak simultan.

Kondisi ini memperparah situasi kemanusiaan yang belum pernah pulih sepenuhnya. Nepal masih dalam fase pemulihan kritis setelah bencana banjir bandang pada 26 Agustus lalu. Peristiwa bulan sebelumnya menewaskan hampir 1.500 orang dan menyebabkan ribuan lainnya hilang tanpa jejak. Kapasitas logistik dan psikologis masyarakat setempat kini terkuras habis di tengah datangnya gelombang bencana baru.

Respon darurat darurat kini difokuskan pada evakuasi cepat dari wilayah dataran rendah. Ribuan warga terdampak diarahkan ke tempat pengungsian sementara sambil menunggu air surut. Otoritas Nepal menghadapi tekanan berat untuk mengelola krisis ini tanpa membiarkan tumpang tindih bencana Agustus dan September membuat penanganan menjadi kacau. Koordinasi antarlembaga menjadi kunci agar korban jiwa tidak terus bertambah saat air masih pasang.

Analisis Redaksi

Secara geologis, rekor ketinggian Sungai Narayani di Devghat menjadi sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan. Pola cuaca ekstrem yang kembali melanda setelah satu bulan jeda singkat menunjukkan kegagalan sistem peringatan dini dalam memitigasi risiko berulang. Bagi sektor kewaspadaan bencana, fakta bahwa Nepal belum pulih dari trauma Agustus membuat kerentanan struktural dan psikologis negara ini menjadi lebih rapuh saat menghadapi guncangan kedua.

Kemungkinan langkah selanjutnya adalah desentralisasi bantuan darurat ke tingkat distrik karena jalur logistik nasional masih tersendat. Ancaman terbesar saat ini bukan hanya dari air yang belum surut, tetapi potensi tanah longsor susulan di lereng bukit yang sudah jenuh air. Tanpa intervensi cepat dari pemerintah pusat dan dukungan internasional, siklus bencana ini berpotensi berkepanjangan, menguras anggaran cadangan dan memperdalam jurang kesenjangan antara kapasitas negara dengan kebutuhan lapangan.

Meow! Tanya Nesi!
😸