Harga Cabai Rawit di Pasar Gudang Tigaraksa Tembus Rp85 Ribu Berdampak Kemarau Ekstrem

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Sumber: CNN Ekonomi
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Harga Cabai Rawit di Pasar Gudang Tigaraksa Tembus Rp85 Ribu Berdampak Kemarau Ekstrem
BAGIKAN:

Soleh (46) merasakan langsung dampaknya. Pedagang cabai di Pasar Gudang Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, ini melihat harga jual cabai rawit merahnya melonjak drastis ke angka Rp85 ribu per kilogram. Angka tersebut naik tajam dari kisaran normal Rp60 ribu per kilogram yang bertahan beberapa waktu sebelumnya. Bagi Soleh, lonjakan harga ini bukan kejadian dadakan, melainkan hasil dari dinamika pasar yang terganggu oleh faktor cuaca di hulu rantai pasokan.

Kondisi kemarau ekstrem menjadi pemicu utama gangguan produksi cabai di daerah pemasok utama, khususnya wilayah Jawa Barat. Soleh menegaskan bahwa fenomena ini sudah berlangsung selama beberapa pekan terakhir. "Kenaikannya beberapa minggu lalu dan itu drastis banget kenaikan harga dari pasar induknya," ujar Soleh, Senin (28/9). Ia menjelaskan bahwa musim kemarau membuat proses budidaya menjadi sulit, bahkan mengakibatkan sejumlah tanaman mati dan gagal panen. Gagal panen ini membuat pasokan ke pasar induk menipis, sehingga harga langsung naik.

Lonjakan harga tidak hanya menyasar cabai rawit. Harga cabai merah keriting juga naik signifikan dari kisaran Rp40 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram. Dampak kemarau ekstrem ini membuat petani di wilayah Jawa Barat, yang dikenal sebagai sentra pemasok cabai, mengalami kesulitan dalam proses tanam dan panen. Akibatnya, volume barang yang masuk ke pasar-pasar tradisional, termasuk Pasar Gudang Tigaraksa, menurun drastis. Penurunan pasokan ini otomatis menekan harga di pasar eceran.

Kenaikan harga komoditas ini menciptakan dilema bagi pedagang dan konsumen. Soleh mengakui pendapatannya turun sekitar 30 persen karena konsumen mengurangi jumlah pembelian. "Permintaannya kalau lagi mahal itu turun. Ya orang yang biasa belinya sekilo, sekarang kuatnya paling beli seperempat, setengah kilo. Enggak kuat beli banyak," ucapnya. Ia berharap pemerintah mengambil langkah untuk menjaga pasokan dan membantu menstabilkan harga cabai selama kemarau ekstrem berlangsung.

Di sisi lain, konsumen juga merasakan beban ekonomi. Tanti (37), seorang pembeli di pasar yang sama, mengungkapkan kebingungannya dengan lonjakan harga kebutuhan pokok. "Kalau bisa mah dikurangin harganya karena kebutuhan juga banyak, belum buat anak-anak, belum buat yang lain," tuturnya. Tanti menilai harga cabai yang tinggi membuat pengeluaran rumah tangga menjadi lebih berat. Kondisi ini memicu diskusi luas tentang peran negara dalam menstabilkan harga pangan di tengah anomali cuaca.

Analisis Redaksi

Kenaikan harga cabai di Pasar Gudang Tigaraksa ini merupakan manifestasi langsung dari rantai pasokan yang terputus akibat faktor cuaca ekstrem. Permasalahan tidak hanya sebatas lonjakan harga di tingkat akhir, melainkan dampak kegagalan panen di wilayah Jawa Barat yang merupakan sumber utama pasokan. Pola ini menunjukkan kerentanan sektor pertanian Indonesia yang masih sangat bergantung pada iklim. Ketika kemarau ekstrem terjadi, produktivitas anjlok dan efeknya langsung terasa di kantong konsumen hingga pedagang eceran.

Dari sisi ekonomi makro, penurunan permintaan cabai secara signifikan—yang diaku oleh Soleh—menjadi sinyal peringatan dini mengenai daya beli masyarakat yang terpangkas. Ketika pendapatan pedagang turun 30 persen, ini mengindikasikan efek domino: daya beli rumah tangga menurun, omzet usaha kecil dan menengah tergerus. Ini bukan sekadar masalah "cabai mahal", melainkan indikasi tekanan ekonomi pada segmen masyarakat menengah ke bawah yang sangat bergantung pada pangan segar.

Ke depan, diperlukan strategi jangka pendek dan panjang. Jangka pendek, perlu ada intervensi pemerintah untuk menstabilkan harga, baik melalui operasi pasar atau impor komoditas strategis. Jangka panjang, diversifikasi tanaman dan infrastruktur pengendalian iklim di sentra produksi harus diprioritaskan. Tanpa aksi nyata, fenomena serupa akan terus berulang setiap kemarau ekstrem datang. Konsumen dan pelaku usaha akan terus menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya dalam bentuk pengurangan konsumsi dan pendapatan.

Meow! Tanya Nesi!
😸