Kapolri Sigit dan Gus Baha Bahas Kolaborasi Ulama-Umara dalam Mengawal Pembangunan Nasional

Hukum
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kapolri Sigit dan Gus Baha Bahas Kolaborasi Ulama-Umara dalam Mengawal Pembangunan Nasional
BAGIKAN:

Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa keamanan merupakan fondasi vital agar pembangunan nasional dapat bergerak maju. Pernyataan ini ia kemukakan dalam perkenalan langsung dengan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha pada Sabtu, 26 September, di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Agenda tersebut diberi nama "Ngaji Kebangsaan", sebuah forum yang menyatukan pemimpin sipil dan tokoh agama untuk menyelaraskan visi ke depan.

Dalam dialog yang berlangsung hangat namun serius, Sigit membedah peran dua entitas utama negara. Ia menggunakan analogi yang tajam: ulama berfungsi sebagai kompas yang memberikan arah, nasihat, dan doa bagi bangsa. Sementara itu, institusi kepolisian berperan layaknya lentera, tugasnya adalah menjaga ketertiban, memberikan perlindungan, serta pengayoman agar ruang sosial masyarakat tetap terjaga.

Sejarah mencatat bahwa ulama dan umara pernah berdampingan dalam perebutan dan pertahanan kemerdekaan. Sigit menyatakan bahwa semangat juang historis tersebut kini harus diterjemahkan menjadi tanggung jawab kolektif. "Ulama memberikan arah dan tuntutan, sedangkan Polri menjaga keamanan agar masyarakat dapat beraktivitas dan pembangunan terus berjalan," kata Sigit. Kata-kata itu bukan sekadar retorika seremonial, melainkan penegasan bahwa kedua pilar tersebut saling menguatkan satu sama lain.

Menyadari kompleksitas tantangan global saat ini, Sigit menekankan bahwa tugas menjaga ketertiban umum dan keamanan masyarakat (kamtibmas) bukanlah beban satu sektor saja. Ikhtiar untuk menciptakan kondisi yang mendukung kemajuan bangsa adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Keberagaman yang melekat di Indonesia harus dikelola dengan cermat. "Perbedaan harus dikelola dengan baik agar tidak berkembang menjadi konflik yang dapat merugikan masyarakat dan negara," ucapnya mengingatkan.

Peringatan Kapolri ini membawa implikasi langsung bagi struktur keamanan di daerah. Dengan adanya penguatan kolaborasi formal antara aparat penegak hukum dan tokoh agama, masyarakat di Kabupaten Rembang dan wilayah lain diproyeksikan mendapat sentuhan rasa aman yang lebih komprehensif. Kehadiran ulama sebagai penyeimbang moral di sisi kebijakan keamanan menjadi penanda bahwa strategi keamanan Indonesia tidak lagi bertumpu pada pendekatan fisik saja, melainkan juga mencakup dimensi spiritual dan sosial yang lebih dalam.

Analisis Redaksi

Pilihan Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk berdiskusi langsung dengan figur ulama karismatik seperti Gus Baha di Rembang bukan langkah rutin. Dalam konteks birokrasi kepolisian yang dikenal vertikal dan formal, langkah ini mengindikasikan pergeseran strategi komunikasi publik menuju pendekatan yang lebih kultural dan dialogis. Analisa logis menunjukkan bahwa di tengah polarisasi sosial yang tinggi, institusi keamanan membutuhkan legitimasi moral yang valid secara agama untuk memitigasi potensi gesekan di akar rumput.

Metafora 'kompas' dan 'lentera' yang dipergunakan oleh Kapolri mengandung pesan strategis yang kuat. Di balik kehangatan itu, terdapat peringatan keras bahwa 'kompas' tanpa 'lentera' akan tersesat, dan sebaliknya. Ini berarti, setiap arahan atau tuntutan yang dilontarkan oleh pihak non-pemerintah (ulama) harus dibarengi dengan kesiapan aparat negara dalam memfasilitasi dan melindungi. Jika arah yang diminta masyarakat tidak bisa dijamin keamanannya oleh negara, maka kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum akan tergerus.

Ke depan, keberhasilan strategi ini akan diuji pada implementasi di lapangan, bukan sekadar pada tataran forum. Kita perlu mengawasi apakah kolaborasi ini akan diterjemahkan menjadi mekanisme pencegahan konflik nyata di daerah-daerah rawan sentimen keagamaan. Bagi publik, ini berarti bahwa standar keamanan di lingkungan lokal akan semakin terintegrasi dengan nilai-nilai moral, memberikan lapisan perlindungan tambahan bagi aktivitas harian masyarakat yang sebelumnya hanya bergantung pada kehadiran aparat fisik semata.

Meow! Tanya Nesi!
😸