Akademisi Desak Revitalisasi Tekstil untuk Tegakkan Fondasi Manufaktur Nasional

Ekonomi
Hendra GunawanHendra Gunawan
Sumber: Antara News
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Akademisi Desak Revitalisasi Tekstil untuk Tegakkan Fondasi Manufaktur Nasional
BAGIKAN:

Revitalisasi industri tekstil dipandang sebagai kunci untuk meneguhkan fondasi manufaktur nasional, sebuah argumen tajam yang dilontarkan Sarlina Sari, akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI). Di tengah gencarnya narasi digitalisasi, sentuhan fisik pada sektor hulu ini justru dinilai vital untuk menghidupkan ekosistem produksi dalam negeri. Kritik ini bukan sekadar pendapat academic, melainkan peringatan keras bahwa kelangkaan bahan baku lokal akibat ketergantungan impor adalah bom waktu bagi kemandirian ekonomi kita. Jika kita tidak memperbaiki mata rantai ini, klasi atas daya saing global hanyalah ilusi yang mengambang tanpa pijakan nyata.

Sarlin menekankan bahwa tanpa penguatan di sektor tekstil, industri hilir seperti garmen dan otomotif akan terus bergantung pada volatilitas harga bahan baku luar negeri. Ini bukan masalah teknis semata, melainkan arsitektur ekonomi yang timpang. Ketika fondasi manufaktur keriput, seluruh struktur bangunan industri akan goyah. Oleh karena itu, revitalisasi ini harus dilihat sebagai prasyarat mutlak, bukan sekadar pelengkap. Tanpa fondasi yang kokoh di sektor tekstil, ambisi menciptakan supermelteri baru dalam jangka panjang adalah sandiwara yang mahal harganya bagi pembayar pajak.

Ketergantungan terhadap bahan baku impor menciptakan kerentanan struktural yang serius. Fluktuasi kurs dan kebijakan negara produsen dapat langsung menghantam margin keuntungan produsen domestik. Kondisi ini memperlemah daya tawar industri nasional di pasar internasional. Dalam konteks geopolitik yang tidak stabil, negara yang tidak mampu memproduksi bahan baku dasarnya sendiri akan selalu berada di posisi subordinat. Inilah sisi gelap dari pertumbuhan yang hanya berfokus pada hilir, sementara hulu dibiarkan layu. Konsekuensinya, keuntungan ekonomi lari ke pihak luar, meninggalkan hanya limbah dan utang jangka panjang.

Relevansi UBSI dalam menyoroti hal ini menunjukkan mulai pergeseran paradigma di kalangan akademisi muda. Mereka tidak lagi hanya menjadi pengamat, tetapi mulai terlibat langsung dalam mendeskalasi masalah struktural negara. Ini adalah sinyal positif bahwa sektor pendidikan tinggi mulai menyelaraskan risetnya dengan kebutuhan darurat ekonomi nasional. Namun, tantangan terbesarnya ada pada eksekusi. Teori revitalisasi hanya akan menjadi sampah akademik jika tidak diiringi oleh kebijakan protektif yang konsisten dan investasi infrastruktur yang serius di sektor hulu. Kita butuh jembatan yang menghubungkan teori Sarlina dengan tindakan nyata pemerintah, bukan hanya retorika di podium.

Dampak dari pengabaian revitalisasi tekstil akan terasa secara eksistensial dalam satu dekade mendatang. Sektor-sektor terkait seperti logistik, energi, dan teknologi material akan kehilangan penggerak utama. Lapangan kerja di sektor manufaktur, yang merupakan tulang punggung penyerap tenaga kerja, akan mengalami kontraksi. Ini adalah ancaman nyata terhadap stabilitas sosial di tingkat akar rumput. Oleh karena itu, mendefinisikan ulang prioritas pembangunan nasional dengan menempatkan manufaktur hulu sebagai prioritas satu bukanlah pilihan ideologis, melainkan keharusan strategis untuk bertahan. Kita sedang bermusuh dengan waktu, dan setiap tahun penundaan akan membuat harga koreksinya semakin mahal.

Analisis Redaksi

Peringatan akademisi UBSI ini membuka mata kita pada blind spot strategis dalam policy-making kita. Selama ini, narasi pembangunan Indonesia sering kali terlalu terpesona dengan ekonomi digital dan jasa, sementara sektor manufaktur fisik dibiarkan terpelanting. Padahal, kekuatan sejati sebuah ekonomi negara berkembang terletak pada kemampuannya mengubah bahan mentah menjadi barang jadi. Tekstil adalah salah satu dari sedikit sektor yang memiliki nilai tambah signifikan di hulu. Jika kita gagal merevitalisasi ini, kita hanya akan menjadi pengemis di pasar global, membeli bahan baku dengan harga tinggi dan menjual produk jadi dengan margin tipis. Ini adalah siklus kemiskinan struktural yang harus diputus sekarang juga.

Langkah logis berikutnya adalah mengintegrasikan insentif fiskal khusus bagi investasi di industri tekstil hulu. Pemerintah tidak boleh lagi membedakan perlakuan antara industri hilir yang sudah mapan dan industri hulu yang sekarat. Dukungan harus berbentuk infrastruktur, bukan sekadar janji. Selain itu, kolaborasi antara universitas, seperti UBSI, dan industri perlu dipacu agar riset pengembangan material lokal bisa diterapkan secara komersial. Tanpa sinergi ini, kita akan tetap terjebak dalam jebakan komoditas. Kemandirian ekonomi adalah konsep yang abstrak, tetapi revitalisasi tekstil adalah langkah konkret pertama untuk mewujudkan kemandirian tersebut. Jangan sampai anak cucu kita mewarisi utang teknologi dan bahan baku yang tidak bisa kita bayar.

Meow! Tanya Nesi!
😸