Mendagri Tito Apresiasi Groundbreaking Museum Bahasa Nasional di Pulau Penyengat
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian secara resmi melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Kamis (24/9). Langkah ini menegaskan komitmen negara dalam merawat jejak sejarah bahasa Indonesia yang berakar kuat dari bahasa Melayu.
Tito menekankan bahwa fasilitas tersebut bukan sekadar destinasi wisata. Lebih dari itu, museum ini dirancang sebagai ruang edukasi vital bagi generasi mendatang untuk memahami asal-usul identitas kebangsaan. "Saat ini bahasa Melayu sudah menjadi bahasa Indonesia dan menjadi kurikulum wajib. Dari Sabang sampai Merauke, bukan hanya di rumpun Melayu, Sumatera, ataupun di Kalimantan, tapi di Bali, di Papua," ujar Tito saat menyampaikan pidato singkatnya.
Konteks historis pemilihan lokasi di Pulau Penyengat sangat kental dengan peran tokoh besar Raja Ali Haji. Menurut Gubernur Kepri Ansar Ahmad, pulau ini memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan bahasa Melayu klasik. Ansar mencatat bahwa pada tahun 2004, Presiden memberikan gelar pahlawan nasional kepada Raja Ali Haji khusus di bidang bahasa, sebuah pengakuan formal atas kontribusi intelektualnya terhadap persatuan bangsa.
Dari sisi teknis, Ansar Ahmad merinci bahwa proyek ambisius ini menelan anggaran sekitar Rp101 miliar. Pemerintah Provinsi Kepri menargetkan penyelesaian konstruksi fisik hingga akhir 2027. Dana tersebut dialokasikan untuk membangun struktur yang mampu menyimpan arsip, artefak, dan informasi sistematis mengenai evolusi bahasa dari dialek lokal menuju bahasa persatuan.
Tito mengingatkan pentingnya keberlanjutan pasca-pembangunan. Ia khawatir jika tidak ada perawatan serius dari pemimpin berikutnya, museum ini hanya akan berhenti sebagai monumen mati. "Inilah pemersatu kita. Museum ini dan monumen ini akan menjadi pemersatu kita," tegasnya, seraya mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga nilai-nilai persatuan yang tercermin dalam bahasa Indonesia.
Analisis Redaksi
Pembangunan Museum Bahasa Nasional di Pulau Penyengat merupakan strategi politik budaya yang cerdas namun penuh risiko eksekusi. Secara simbolis, mematrikan akar bahasa Indonesia di tanah Melayu tua memperkuat narasi sentralisasi identitas nasional yang sering kali terpinggirkan oleh wacana otonomi daerah. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada konten kuratorial. Jika museum hanya menampilkan papan nama tanpa interaktivitas digital atau konteks linguistik yang mendalam bagi anak muda zaman now, ia berpotensi gagal menarik minat generasi Z yang lebih akrab dengan layar gawai daripada vitrin kaca.
Angka Rp101 miliar bukanlah jumlah kecil untuk infrastruktur budaya non-ekonomi langsung. Publik perlu waspada terhadap potensi mangkraknya proyek jika terjadi pergantian kepemimpinan daerah atau pusat sebelum target 2027 tercapai. Keberhasilan proyek ini tidak hanya diukur dari kemegahan bangunan fisik, tetapi dari seberapa efektif ia mengubah persepsi publik tentang bahasa Melayu—bukan sebagai bahasa 'daerah', melainkan fondasi mutlak keindonesiaan. Tanpa dukungan kebijakan pendidikan yang selaras, museum ini hanyalah gudang artefak sunyi di tengah hiruk-pikuk pariwisata bahari Batam dan Bintan.
