Test Drive Mitsubishi Xforce Ultimate Bensin: Efisiensi 12,6 Km/L di Kemacetan Jakarta
Pakar modifikasi kendaraan dan tren pasar motor di Asia Tenggara.

Mitsubishi Xforce Ultimate versi bensin membuktikan dirinya sebagai opsi rasional bagi konsumen yang menolak teknologi hybrid namun tetap menginginkan fitur premium. Melalui uji coba langsung di rute perkotaan padat dengan pola stop and go, SUV ini mencatatkan konsumsi bahan bakar sebesar 12,6 kilometer per liter berdasarkan Multi Information Display (MID). Angka tersebut dicapai menggunakan mesin konvensional 4A91 1.5L MIVEC bertransmisi CVT, yang menghasilkan tenaga 104 hp dan torsi maksimum 140 Nm.
Tampilan eksterior varian bensin ini nyaris identik dengan saudaranya yang berteknologi Hybrid Electric Vehicle (HEV). Perbedaan kosmetik hanya terletak pada absennya emblem HEV, hilangnya aksen silver pada gril depan, serta penggunaan lampu belakang tanpa sentuhan smoke. Namun, ketiadaan label elektrifikasi tidak mengurangi kesan modern dari desain bodi yang tajam dan proporsional. Bagi pasar Indonesia yang masih sangat bergantung pada infrastruktur BBM, pendekatan visual minimalis ini justru menawarkan estetika bersih tanpa gimmick teknis berlebihan.
Memasuki ruang kabin, nuansa elegan langsung menyapa berkat dominasi material serba hitam yang konsisten. Tata letak dasbor mempertahankan identitas desain dari varian hybrid, lengkap dengan panoramic roof tanpa bingkai yang dilengkapi tirai elektrik untuk privasi maksimal. Sistem hiburan ditunjang oleh layar sentuh berukuran 12,3 inci yang terhubung dengan audio Yamaha delapan speaker, sementara kenyamanan penumpang dijaga melalui AC dual zone dan teknologi pemurnian udara NanoeX. Fitur keselamatan pun tak main-main, dengan penyediaan enam airbag, sistem ADAS, serta Active Yaw Control yang membantu stabilitas manuver.
Kombinasi mesin dan transmisi CVT terasa pas saat mengikuti ritme lalu lintas Kota Jakarta yang terkenal macet. Respons tenaga memang tidak agresif, namun cukup nyaman untuk menghadapi kondisi stop and go maupun ketika membutuhkan akselerasi mendadak saat berpindah jalur. Penyetelan ulang suspensi memberikan karakter bantingan yang lebih lembut tanpa mengorbankan kestabilan mobil secara keseluruhan. Ground clearance setinggi 222 milimeter menambah kepercayaan diri pengemudi saat melewati jalan bergelombang atau permukaan aspal yang tidak rata, sebuah keunggulan vital di banyak wilayah Indonesia.
Dari total jarak tempuh sekitar 100 kilometer dalam pengujian, efisiensi bahan bakar menjadi sorotan utama meskipun hasil ini dipengaruhi oleh gaya berkendara dan kondisi rute spesifik. Mitsubishi membanderol Xforce Ultimate bensin seharga Rp399 juta, jauh lebih terjangkau dibandingkan varian Hybrid yang dijual Rp460 juta. Selisih harga Rp61 juta ini menjadi pertimbangan ekonomis signifikan bagi calon pembeli. Performa mesin ok untuk mobilitas harian di perkotaan, sekaligus mumpuni untuk diajak keluar kota tanpa rasa malu-maluin, menjadikannya kandidat kuat untuk keluarga muda di Indonesia.
Analisis Redaksi
Keputusan Mitsubishi mempertahankan varian bensin murni di tengah tren elektrifikasi adalah strategi cerdik untuk menjangkau segmen pasar yang sensitif terhadap harga namun haus akan fitur. Dengan bandrol Rp399 juta, Xforce Ultimate bensin menawarkan nilai jual unik: teknologi keselamatan canggih dan kemewahan interior setara varian hybrid, namun dengan kompleksitas mekanis yang lebih rendah dan biaya perawatan yang diprediksi lebih terjangkau. Ini bukan sekadar produk sisa, melainkan jawaban atas keraguan konsumen terhadap kesiapan ekosistem charging dan resale value kendaraan listrik/hybrid di masa kini.
Poin kritis yang perlu dicermati adalah konsistensi kualitas produksi massal versus unit test drive. Meskipun angka 12,6 km/l terlihat impresif untuk ukuran SUV, realita di lapangan bisa bervariasi drastis tergantung beban muatan dan medan. Konsumen harus menyadari bahwa selisih harga Rp61 juta antara varian bensin dan hybrid juga berarti kehilangan potensi penghematan BBM jangka panjang jika mayoritas perjalanan dilakukan di luar kota dengan kecepatan konstan. Pilihan jatuh pada preferensi prioritas: efisiensi operasional jangka panjang (hybrid) atau investasi awal yang lebih ringan (bensin).


