Jumat, 6 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Skandal Keluarga Pro‑Jepang Ha Young Bikin Netizen Geger! Apa Sebenarnya?

SelebritiRio DewantaraRio DewantaraSumber: CNN Selebriti
Rio Dewantara
Rio Dewantara
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Skandal Keluarga Pro‑Jepang Ha Young Bikin Netizen Geger! Apa Sebenarnya?
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Aktris Ha Young terjerat kontroversi karena kakek buyutnya, Ahn Sang-ho , pernah jadi simbol kolaborasi Jepang pada era kolonial.
  • Awal gosip muncul saat Ha Young muncul di acara KBS "Problem Child in House" dan membanggakan warisan medis keluarganya.
  • Agensi Bistus Entertainment sempat menolak, lalu akhirnya mengakui fakta dan meminta maaf secara terbuka.

Ringkasan Singkat

  • Aktris Ha Young terjerat kontroversi karena kakek buyutnya, Ahn Sang-ho, pernah jadi simbol kolaborasi Jepang pada era kolonial.
  • Awal gosip muncul saat Ha Young muncul di acara KBS "Problem Child in House" dan membanggakan warisan medis keluarganya.
  • Agensi Bistus Entertainment sempat menolak, lalu akhirnya mengakui fakta dan meminta maaf secara terbuka.

Siapa sangka, di balik senyum manis Ha Young yang baru saja kembali ke layar kaca lewat drama Our Sticky Love, ada cerita sejarah yang bikin heboh netizen Korea. Pada 7 Agustus lalu, aktris yang dikenal lewat The Trauma Code: Heroes on Call tampil di program bincang‑bincang KBS "Problem Child in House". Di sana, ia dengan bangga mengungkapkan bahwa kakek buyutnya menempuh pendidikan kedokteran Barat di Jepang, mendirikan klinik pertama di Seoul, bahkan pernah merawat Kaisar Gojong.

Namun, para netizen cepat‑cepat menelusuri arsip dan menemukan nama Ahn Sang‑ho—pria Korea pertama yang memperoleh lisensi medis Jepang pada 1902. Lebih mengejutkan lagi, Ahn Sang‑ho tercatat dalam surat kabar kolonial Maeil Sinbo (Desember 1918) mengaku keluarganya sudah "berasimilasi sepenuhnya": memakai pakaian Jepang, menikah dengan wanita Jepang, dan melarang bahasa Korea di rumah. Ia bahkan menjadi anggota Asosiasi Persahabatan Daejeong, organisasi kolaborator yang dibentuk pada 1916.

Tak berhenti di situ, kritik juga diarahkan pada mendiang kakek Ha Young, Ahn Boo‑ho, mantan profesor kedokteran yang pernah bekerja di Rumah Sakit Nasional Sorokdo pada akhir 1940‑an. Pada masa itu, rumah sakit tersebut dikenal dengan pelanggaran hak asasi manusia terhadap pasien kusta, meski belum ada bukti langsung keterlibatan Ahn Boo‑ho.

Setelah sorotan memuncak, Bistus Entertainment pada 10 Agustus membantah tuduhan bahwa kakek buyut Ha Young adalah kolaborator. Namun, satu hari kemudian, agensi mengeluarkan pernyataan baru yang mengakui kebenaran fakta sejarah dan meminta maaf karena terlalu cepat menolak tuduhan tersebut.

"Verifikasi lanjutan mengonfirmasi bahwa nama kakek buyutnya, Ahn Sang‑ho, memang tercantum dalam daftar penasihat tahun 1916 di Asosiasi Persahabatan Daejeong," ujar pernyataan resmi. Ha Young pun menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, menegaskan bahwa ia tidak berniat menimbulkan kontroversi.

Dengan permintaan maaf yang mengalir, Ha Young berjanji akan lebih berhati‑hati dalam menyampaikan fakta sejarah ke publik. Sementara itu, kariernya yang sedang naik daun—dari debut di Dr. Prisoner (2019) hingga peran utama di Extraordinary Attorney Woo (2022) dan The Trauma Code: Heroes on Call (2025)—tetap menjadi sorotan utama para penggemar.

Analisis Pakar

Kontroversi ini mengungkap betapa sensitifnya isu sejarah kolonial di Korea Selatan, terutama yang melibatkan kolaborasi dengan Jepang. Meskipun Ha Young hanyalah keturunan ketiga, publikasi tentang kakek buyutnya menimbulkan reaksi emosional yang kuat karena masih ada luka kolektif yang belum sepenuhnya sembuh. Dalam konteks budaya pop, selebriti sering dijadikan “cermin” nilai‑nilai nasional; oleh karena itu, setiap detail latar belakang keluarga mereka dapat menjadi bahan perdebatan publik.

Langkah agensi yang awalnya menolak fakta, lalu berubah menjadi pengakuan, mencerminkan dinamika krisis komunikasi di era digital. Kecepatan penyebaran rumor di media sosial menuntut verifikasi yang ketat, namun tekanan untuk melindungi citra artis sering membuat manajemen mengambil keputusan impulsif. Kesalahan ini menjadi pelajaran penting: transparansi dan riset mendalam harus menjadi prioritas sebelum mengeluarkan pernyataan resmi.

Dari sudut pandang historiografi, peran Ahn Sang‑ho sebagai “contoh keberhasilan kebijakan kolonial” memang tercatat dalam arsip Jepang. Namun, penting untuk diingat bahwa identitas individu pada masa itu sangat dipengaruhi oleh kondisi politik yang keras. Menyematkan label kolaborator tanpa konteks dapat menimbulkan simplifikasi berbahaya. Sebagai penulis budaya pop, saya melihat peluang untuk mengangkat narasi yang lebih nuansa, mengajak publik memahami kompleksitas sejarah tanpa mengorbankan rasa hormat terhadap korban kolonial.

Akhirnya, kasus ini menegaskan bahwa selebriti tidak dapat memisahkan diri dari warisan sejarah mereka. Ha Young kini berada di persimpangan: harus menavigasi karier yang sedang menanjak sambil menanggapi pertanyaan publik tentang identitas keluarganya. Bagaimana ia mengelola hal ini akan menjadi contoh bagi artis‑artis lain yang mungkin memiliki latar belakang serupa.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Siapa sebenarnya Ahn Sang‑ho?
  • A: Ahn Sang‑ho adalah kakek buyut Ha Young yang menjadi dokter pertama berlisensi Jepang pada 1902 dan pernah menjadi anggota Asosiasi Persahabatan Daejeong, organisasi kolaborator Jepang.
  • Q: Apakah Ha Young terlibat dalam tindakan kolaborasi?
  • A: Tidak. Ha Young hanya merupakan keturunan ketiga; ia tidak memiliki peran politik atau tindakan kolaboratif pada masa kolonial.
  • Q: Mengapa agensi Bistus Entertainment mengubah pernyataannya?
  • A: Setelah melakukan verifikasi lebih lanjut, agensi menemukan bahwa tuduhan sebelumnya tidak berdasar dan memutuskan untuk mengakui fakta serta meminta maaf.
Meow! Tanya Nesi!
😸