Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.
Kisah Urban Legend

Terowongan Casablanca: Tempat di Mana Bayangan Menelan Jiwa Pengemudi

Terowongan Casablanca: Tempat di Mana Bayangan Menelan Jiwa Pengemudi

Hujan tidak pernah benar-benar berhenti di kawasan itu; ia hanya berganti bentuk, dari rintik dingin yang menusuk tulang menjadi uap putih yang menggelapkan visibilitas. Terowongan Casablanca, nama yang diberikan oleh para pedagang tua yang masih hidup sebelum era modern menghapus identitas asli struktur beton itu, berdiri sebagai nisan raksasa di tepi jurang hutan lindung. Bukan karena kemegahannya, melainkan karena kesunyian absolut yang mengurung setiap jiwa yang berani masuk ke kegelapan beton panjangnya. Pengemudi lokal percaya bahwa terowongan itu bukan sekadar jalur penghubung, melainkan kerongkongan tanah yang menelan apa pun yang bergerak terlalu cepat saat jam 11 malam, waktu di mana batas antara dunia fana dan yang lain menjadi setipis kertas basah.

Dalam catatan ojek motor yang tersisa, terdapat satu kesaksian yang menggetarkan: seorang pemuda yang mengaku melihat bayangan sosok gemuk berseragam polisi berdiri di tengah terowongan, tanpa sumber cahaya, hanya dengan lampu senyap yang berkedip setiap dua detik. Ketika pemuda itu mendekat, bayangan itu tidak berbalik, melainkan meregang, seolah menarik ke dalam beton seperti tinta yang masuk ke celah retak. Pemuda itu kemudian melaporkan bahwa ia kehilangan rasa di kedua kakinya selama tiga hari, dan setiap kali ia menutup mata, ia mencium bau karet bakar bercampur darah basi yang tidak pernah ada di jalannya.

Tekanan psikologis dari rute ini bekerja secara subliminal; banyak yang melaporkan hilangnya hitungan detik di dalam terowongan, seolah waktu bergerak lambat atau berhenti. Ada teori lokal bahwa terowongan itu dibangun di atas tempat pemujaan tua yang terkubur, dan fondasi betonnya menyerap aura negatif selama puluhan tahun hingga menjadi magnet bagi entitas yang tidak memiliki bentuk fisik, namun memiliki massa yang berat. Entitas ini tidak muncul sebagai hantu yang menangis atau mengancam, melainkan sebagai rasa berat di dada dan ilusi optik di mana kaca spion memperlihatkan pemandangan yang tidak sesuai dengan apa yang ada di belakang, seperti melihat cermin yang tertunda.

Klimas penyesalan ini mencapai puncaknya saat seorang sopir truk pengangkut gas melintas dengan kecepatan 60 km/jam saat hujan deras tiba-tiba reda. Ia merasa ada yang 'salah' dengan hening yang mendadak; lalu, di kaca spionnya, ia melihat sosok anak perempuan kecil berambut basah berdiri di antara dua truk yang sedang terbelok, tanpa cahaya piringan, hanya dengan mata yang menyala redup. Sosok itu mengangkat tangan, bukan untuk berlari, melainkan untuk menekan kaca dari dalam. Kaca tidak pecah, tetapi terdengar bunyi 'thud' tumpul dari dalam, seolah sesuatu telah masuk ke dalam ruang kaca dan menempel di bagian dalam. Sopir itu membanting rem, truknya oleng, dan ia melihat bayangan itu kini duduk di kursi penumpangnya, basah kuyup, dengan air yang menetes dari jubahnya ke jok mobil, meninggalkan bau lumpur dan formalin yang memuakkan.

Truk itu tetap melaju, bukan karena sopirnya berani, tapi karena pedal remnya macet. Setiap kali ia melirik ke samping, sosok itu tidak ada, hanya kebasahan di jok dan bau yang semakin memekat. Di keluaran terowongan, ia langsung memuntahkan isi perutnya, menemukan darah segar di antara muntahnya. Sejak hari itu, sopir itu tidak pernah bisa tidur sendiri; ia selalu tidur dengan mata terbuka, meyakini bahwa bayangan itu mengikuti setiap jeda antara kelipan matanya. Ia kini hidup dalam isolasi total di desa terpencil, dengan semua jendela dan cermin dicat hitam, karena ia tahu bahwa bayangan di Terowongan Casablanca tidak membutuhkan lampu untuk melihatmu.

Cerita ini bukan sekadar urban legend; itu adalah peringatan tentang batasan antara logika dan paranoia di jalanan malam. Terowongan itu masih berdiri, betonnya retak dengan lumut hitam, dan setiap pengendara yang melintas di waktu fajar yang kabut akan merasakan getaran di lantai kendaraan yang bukan berasal dari mesin. Jika Anda mendengar bunyi ketukan halus dari dalam spion saat melintas di terowongan tua di pedalaman Indonesia itu, jangan lihat. Jangan merespon. Karena di sana, di antara beton dan kegelapan, sesuatu sedang menghitung jumlah penumpang yang tersisa.

Bikin temanmu merinding juga!

Bagikan cerita ini ke WhatsApp sebelum jam 12 malam.

Bagikan ke WhatsApp
Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ