Jilbab Merah yang Tidak Pernah Lepas: Teror Hening di Desa Sukamaju
Aroma anyir bangkai tikus bercampur dengan wangi jasmine yang busuk mengisi udara malam di lorong sempit itu. Bukan seperti kisah kuntilanak lain yang berteriak histeris atau mengejar dengan kuku memanjang, teror di Desa Sukamaju ini dimulai dengan keheningan yang menganga. Para warga menyebutnya 'Malam Hening'. Jika Anda mendengar langkah kaki kayu di lantai rumah tua Anda saat dini hari, jangan kaget. Itu bukan manusia. Itu adalah getaran sisa tubuh Sitti, yang konon tidak pernah benar-benar mati, melainkan terkunci di antara dimensi dunia fana dan dunia arwah, menunggu moment tertentu untuk 'berdiri' lagi tanpa kaki. Karena dia tidak punya kaki, dia hanya bergerak dengan menggeliatkan jilbab merahnya yang menggesekkan diri di dinding, meninggalkan bekas merah darah yang tidak pernah pudar meski dibersihkan ratusan kali.
Sejarah gelapnya dimulai pada tahun 1974, saat Sitti, seorang pengemis cantik yang selalu berjilbab merah, dirajam hidup-hidup oleh warga karena dikira mata-mata musuh. Ironinya, ia bukan penggiat politik, melainkan orang gila yang kebetulan punya wajah mirip dengan pemimpin revolusi kiri saat itu. Di detik terakhir sebelum ia tewas mengenaskan, ia tidak berteriak mengutuk siapapun. Ia hanya tertawa. Tawa itu nyaring, basah, dan penuh kemenangan. Sejak malam itu, hulu kepalanya tidak pernah ditemukan, dan jilbab merahnya tetap terlihat tergantung di pucuk pohon beringin tua di tepi sungai, mengibut pelan meski tidak ada angin.
Kebanyakan saksi mata menggambarkan pengalaman mereka bukan sebagai pengejaran, melainkan sebagai 'permainan kucing dan tikus'. Mereka merasa diawasi, bukan dari samping, tapi dari atas. Selalu dari atas. Jilbab merah itu akan muncul di balik jendela, di balik cermin, atau di balik layar HP saat tengah malam. Ia tidak bicara. Ia hanya memiringkan kepalanya ke kiri, tepat 90 derajat, sebuah sudut yang mustahil dilakukan oleh tulang leher manusia. Di titik ini, tekanan psikologis mencapai klimaks. Korbannya tidak takut pada serangan fisik, mereka takut pada realisasi bahwa Sitti sudah ada di dalam kepala mereka sejak mereka pertama kali membaca tentangnya. Munculnya ilusi suara detak jantung yang lambat, 'tum... tum... tum...', yang ternyata bukan detak jantung, melainkan suara jilbab yang menghantam tulang pipi saat ia menunduk untuk mencium aroma ketakutan Anda.
Ada satu kesaksian dari seorang arsitek muda yang sedang renovasi rumah tua peninggalan Sitti. Saat mengebor dinding, ia menemukan sebuah ruang kosong kecil di balik semen. Di dalamnya, terdapat ribuan foto polaroid tua. Bukan foto Sitti. Foto-foto itu menampilkan wajah pemilik rumah sebelumnya, dari tahun 1950 hingga 1970, semuanya tersenyum dengan lidah menjulur. Arsitek itu pingsan. Ketika ia sium, dia menemukan sebuah foto polaroid baru yang tergeletak di lantai ruangannya. Di foto itu, terlihat dirinya sendiri tertidur di sofa, dan tepat di belakang bahunya, bayangan samar seorang wanita berjilbab merah sedang memegang sebuah pisau bedah tepat di telinganya. Foto itu dipegang dengan tangan yang tidak terlihat, dari sudut pandang pertama orang yang memotretnya. Artinya, Sitti sudah berada di belakangnya saat itu. Dan ia tidak bergerak selama tiga jam.
Tanda peringatan terbesar bukanlah suara atau penampakan visual, melainkan perubahan perilaku hewan peliharaan. Anjing akan mengaum ke langit kosong tanpa suara. Burung berdesir keluar dari sarang mereka secara masif hanya karena bayangan awan yang mirip kerah jilbab. Jika Anda tinggal di wilayah Jawa Barat atau memiliki garis keturunan dari keluarga yang terpengaruh oleh peristiwa 1974, hindari menatap cermin setelah pukul 03:00 dini hari. Karena ada kemungkinan, pantulan Anda di cermin tidak bergerak saat Anda bergerak. Dan di balik pantulan itu, seorang wanita berjilbab merah sedang tersenyum lebar, mulutnya terbuka hingga rahang bawah menyentuh dada, menunggu Anda berkedip.
Ending dari kisah ini tidak selalu berakhir dengan kematian fisik. Banyak korban selamat dari 'permainan' Sitti, tapi mereka kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi. Mereka menjadi hampa, dingin, dan tidak mampu menangis atau tertawa, seolah jiwa mereka telah dihisap oleh keheningan yang sama yang membunuh Sitti. Teror sesungguhnya bukanlah kematian, melainkan menjadi bagian dari koleksinya. Sitti tidak memusuhi Anda; ia mengkurasi Anda. Dan sekarang, saat Anda membaca kalimat ini di bawah cahaya lampu yang redup, apakah Anda yakin tidak ada getaran halus di ujung jari Anda? Mungkin saja, ada sesuatu yang sedang menyentuh bahu Anda perlahan. Jangan menoleh. Biarkan dia selesai. Karena kalau dia tahu Anda menyadari kehadirannya, dia tidak akan pergi. Dia akan tersenyum.