Target PLTN 2032: BRIN Tekankan Kesiapan SDM dan Infrastruktur Riset Nuklir
Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

- Indonesia resmi menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertamanya pada tahun 2032.
- Ia menekankan bahwa pembangunan PLTN merupakan langkah esensial untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan dan mengamankan daya saing industri nasional di kancah global.
- Transformasi ini sejalan dengan arah transisi berkelanjutan yang mendorong berbagai sektor, termasuk kelistrikan, untuk beralih ke sumber energi bersih.
Indonesia resmi menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertamanya pada tahun 2032. Merespons ambisi strategis tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa kesiapan tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga pada penguatan riset, teknologi, dan sumber daya manusia (SDM) yang andal. Pernyataan ini disampaikan dalam Seminar Nasional bertema "PLTN 2032: Siap Dibangun, Siap Dibiayai, Siap Diawasi?" yang merupakan kolaborasi antara BRIN, Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI), dan Majalah Listrik Indonesia.
Dalam forum tersebut, Direktur Kebijakan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam dan Ketenaganukliran BRIN, Ratih Damayanti, menyatakan bahwa energi nuklir telah bertransformasi menjadi enabler utama untuk mencapai net zero emission, bukan lagi sekadar opsi alternatif. Ia menekankan bahwa pembangunan PLTN merupakan langkah esensial untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan dan mengamankan daya saing industri nasional di kancah global. Transformasi ini sejalan dengan arah transisi berkelanjutan yang mendorong berbagai sektor, termasuk kelistrikan, untuk beralih ke sumber energi bersih.
Bukti Empiris Penguasaan Teknologi Nuklir Domestik
Ratih memaparkan bahwa Indonesia telah memiliki fondasi teknologi yang teruji secara internasional melalui tiga fasilitas reaktor nuklir yang beroperasi saat ini. Keberadaan fasilitas tersebut menjadi bukti empiris penguasaan teknologi, budaya keselamatan, dan operasional reaktor dalam negeri yang solid:
- Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy berdaya 30 MW di Serpong.
- Reaktor Triga 2000 di Bandung.
- Reaktor Kartini di Yogyakarta.
Selain itu, BRIN telah memetakan puluhan tapak potensial PLTN dari perspektif geologi, keekonomian, dan keselamatan. Untuk menjamin operasional yang aman di sisi hilir, BRIN juga mengoperasikan fasilitas pengelolaan limbah radioaktif sebagai jaminan perlindungan kelestarian lingkungan.
Prioritas SDM dan Kolaborasi Lintas Sektor
Menurut Ratih, inovasi teknologi setinggi apa pun tidak akan berjalan tanpa SDM yang berkelanjutan, sehingga penyiapan ahli dan teknokrat nuklir menjadi prioritas utama. Hal ini didukung oleh inisiatif BRIN berupa program beasiswa riset dan pendidikan teknik nuklir lintas universitas serta edukasi melalui Science Festival 2026. Ketua Umum HIMNI, Djarot Sulistio Winubroto, menambahkan bahwa target 2032 menuntut aksi nyata kolaboratif lintas sektor, bukan hanya bergantung pada pemerintah. "Target kita tidak hanya soal swasembada pangan saja, tapi bagaimana energi kita juga mandiri. Energi nuklir adalah salah satu opsi bagi Indonesia," ujar Djarot. BRIN juga mengakselerasi kolaborasi global dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memperkuat standar kepatuhan regulasi dan pengawasan.
BERITA TERKAIT (Teknologi)

Lotus C-01 hingga Veloce Aperion: Tiga Motor Ikonik dengan Spektakuler Tak Masuk Akal

Efek Bumerang Apple: Rilis iPhone Duo Justru Dorong Lonjakan Penjualan Galaxy Z Fold8 di Korea Selatan

Strategi Agresif SpaceX: Rakit Jaringan 5G Berskala Nasional untuk Saingi Operator Raksasa AS
