Sabtu, 7 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Revolusi Demokrat di Kongres AS Dibatalkan: Laju Adopsi AI Diperkirakan Melambat, Peluang Naik untuk Raksasa Teknologi Tiongkok

TeknologiFitriani NingsihFitriani NingsihSumber: CNN Teknologi
Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Revolusi Demokrat di Kongres AS Dibatalkan: Laju Adopsi AI Diperkirakan Melambat, Peluang Naik untuk Raksasa Teknologi Tiongkok
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Meskipun isu ini belum sedesak biaya hidup, dominasi Demokrat diperkirakan akan menciptakan hambatan regulasi baru bagi ekspansi pusat data dan penelitian AI mutakhir.
  • "Perlambatan di AS bisa menjadi kemenangan bagi China.
  • Hasil pemilu tidak akan menghentikan pembangunan pusat data total, tetapi lajunya pasti melambat," ujar Ng.

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) membawa imbas geopolitik dan teknologi yang signifikan, di mana para analis memprediksi laju pengembangan kecerdasan buatan (AI) di Negeri Paman Sam akan mengalami perlambatan. Pengambilalihan kedua kamar Kongres oleh Demokrat dinilai akan menggeser dinastika kebijakan teknologi, tidak hanya memengaruhi peta persaingan AI global antara AS dan China, tetapi juga mengubah narasi investasi infrastruktur digital di tingkat nasional. Meskipun isu ini belum sedesak biaya hidup, dominasi Demokrat diperkirakan akan menciptakan hambatan regulasi baru bagi ekspansi pusat data dan penelitian AI mutakhir.

Gejolak Regulasi dan Dampak pada Kapasitas Komputasi

Ekonom Gary Ng Cheuk-yan dari Natixis Corporate and Investment Bank menilai perlambatan pembangunan pusat data di AS justru menjadi kemenangan strategis bagi China. "Perlambatan di AS bisa menjadi kemenangan bagi China. Hasil pemilu tidak akan menghentikan pembangunan pusat data total, tetapi lajunya pasti melambat," ujar Ng. Kontrol Demokrat di Kongres dinilai akan memperketat pengawasan, yang secara tidak langsung menjaga harga token AI tetap tinggi. Ini membuka celah bagi China untuk mengekspor layanan inferensi hemat biaya yang didukung pasokan listrik melimpah, sehingga menggeser posisi dominasi AS dalam ekonomi komputasi.

Dinamika ini diperkuat oleh data survei NBC News yang menunjukkan 56% pemilih menganggap AI dan pusat data sebagai faktor penentu suara mereka. Selain itu, jajak pendapat Reuters/Ipsos menegaskan bahwa pembatasan pusat data adalah isu krusial bagi mayoritas pemilih. Respons pasar juga terlihat dari kemunculan rencana perusahaan awan seperti Amazon Web Services dan Google untuk mempertimbangkan pembangunan pusat data di luar negeri, termasuk di negara-negara Asia, guna menghindari birokrasi regulasi di AS.

Manuver Eksekutif Trump dan Masa Depan Kompetisi AS-China

Terlepas dari dominasi legislatif Demokrat, peran Presiden Donald Trump tetap krusial. Kepala investasi global Lombard Odier, Michael Strobaek, menyatakan jalur paling mungkin adalah regulasi yang diawasi secara mandiri oleh industri, karena Trump masih memiliki hak veto untuk menggagalkan larangan nasional terhadap pusat data. Hal ini sejalan dengan pernyataan mantan Wakil Jaksa Agung Rod Rosenstein yang menekankan bahwa kekuasaan eksekutif dan keputusan presiden tetap menjadi alat utama dalam mempertahankan posisi AS dalam perlombaan teknologi. "Kongres kemungkinan menggunakan pengaruhnya melalui sidang pengawasan, namun hal itu tidak akan mengubah pendirian Trump dalam perlombaan AI dengan China," jelas Rosenstein. Sementara itu, pendiri Tech Buzz China, Rui Ma, menambahkan bahwa penundaan pembangunan pusat data sudah diprediksi oleh para investor, mengingat penolakan publik yang masif terhadap infrastruktur AI yang dianggap mengancam privasi dan lingkungan secara lokal.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ