Paradoks Cuaca 2026: Hujan Ekstrem dan Kekeringan Berjalan Beriringan, BMKG Jelaskan Dinamika Atmosfernya
Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

- Indonesia sedang menghadapi fenomena cuaca yang membingungkan pada awal November 2026, di mana hujan ekstrem di satu sisi dan kondisi kering di sisi lain terjadi secara bersamaan.
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa meskipun beberapa wilayah diguyur hujan sangat lebat, ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap nyata.
- Hal ini dipicu oleh kekuatan El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif yang masih aktif, sehingga menekan pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Tanah Air.
Indonesia sedang menghadapi fenomena cuaca yang membingungkan pada awal November 2026, di mana hujan ekstrem di satu sisi dan kondisi kering di sisi lain terjadi secara bersamaan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa meskipun beberapa wilayah diguyur hujan sangat lebat, ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap nyata. Hal ini dipicu oleh kekuatan El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif yang masih aktif, sehingga menekan pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Tanah Air.
Kondisi tersebut tercermin dari data 543 titik pengamatan yang masih mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam kategori sangat panjang hingga ekstrem. Namun, dinamika atmosfer lokal membuat situasi tidak seragam; bukan berarti seluruh wilayah kering. Aktivitas gelombang atmosfer justru memicu hujan deras di beberapa titik tertentu.
Rekor Hujan Ekstrem di Jawa Timur dan Bali
Secara spesifik, Jawa Timur mencatatkan rekor curah hujan harian tertinggi mencapai 358 milimeter pada periode 1-4 November 2026, disusul Bali dengan 300 mm/hari. Angka ini jauh melampaui rata-rata, sementara Aceh dan Kalimantan Barat juga mengalami hujan lebat 167 mm dan 101 mm per hari. Fenomena ini terjadi karena aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang terpantau aktif di Kalimantan Selatan, Sulawesi, dan wilayah timur Indonesia, serta gelombang Rossby dan Kelvin di kawasan utara.
Berdasarkan data BMKG, rincian cuaca ekstrem ini berlaku untuk periode tersebut:
- Jawa Timur: 358 mm/hari
- Bali: 300 mm/hari
- Aceh: 167 mm/hari
- Kalimantan Barat: 101 mm/hari
Risiko Karhutla dan Imbauan Waspada
Meskipun hujan lebat diprediksi untuk periode 6-12 November di berbagai wilayah, risiko karhutla belum hilang. BMKG mendeteksi hotspot berkepercayaan tinggi terkonsentrasi di Papua Selatan sebanyak 615 titik, diikuti Kalimantan Tengah (255 titik) dan Kalimantan Timur (223 titik). Kerentanan ini meningkat karena masih adanya HTH panjang di sebagian wilayah yang membuat vegetasi mengering.
Untuk mengantisipasi bencana ganda ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk hemat air dan menghindari praktik pembakaran terbuka, khususnya di lahan gambut. Sumatera Utara bahkan masuk kategori awas dengan potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem pada 9-12 November, disertai risiko angin kencang di Papua Selatan. Peringatan dini menjadi krusial karena hujan ekstrem di satu daerah tidak serta-merta menghilangkan risiko kekeringan di daerah lain.
BERITA TERKAIT (Teknologi)

Fosil Tinja Viking Umur 1.100 Tahun Ungkap Rahasia Mitos Sanitasi dan Penyakit Zaman Kuno

Honor Win2 Tahtakan Diri sebagai HP Android Tercepat Dunia Oktober 2026, Gantikan Xiaomi 18 Fold

Kampanye ShopeePay 11.11: Makan KFC Cuma Rp11.000, Saldo Kaget Harian, dan Diskon SPayLater 60%
