Ditjen Pesantren Kemenag Dorong UIN Buka Prodi Kepesantrenan untuk Kaji Tradisi Keilmuan Islam
Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

- Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama resmi mengusulkan agar Universitas Islam Negeri (UIN) dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) lainnya membuka program studi baru tentang kepesantrenan.
- Usulan ini diajukan dengan pertimbangan adanya ruang terbuka kajian pesantren dari sisi pendidikan yang belum tergali maksimal di perguruan tinggi saat ini.
- Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal, Mastuki , menyatakan bahwa inisiatif ini dapat diwujudkan melalui pengajuan naskah akademik dan penilaian pakar kepada Kemenag.
Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama resmi mengusulkan agar Universitas Islam Negeri (UIN) dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) lainnya membuka program studi baru tentang kepesantrenan. Usulan ini diajukan dengan pertimbangan adanya ruang terbuka kajian pesantren dari sisi pendidikan yang belum tergali maksimal di perguruan tinggi saat ini. Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal, Mastuki, menyatakan bahwa inisiatif ini dapat diwujudkan melalui pengajuan naskah akademik dan penilaian pakar kepada Kemenag.
Mastuki menegaskan bahwa sejarah dan tradisi keilmuan pesantren memiliki nilai akademis tinggi karena didukung oleh sumber daya lengkap serta referensi ilmiah yang melimpah. Secara historis, pesantren merupakan entitas pendidikan yang lahir lebih awal daripada madrasah pada awal abad ke-20, dan sebelum munculnya perguruan tinggi Islam pada 1960-an. Oleh karena itu, pesantren seharusnya menjadi bagian organik dari sistem pendidikan tinggi keagamaan Islam.
Refleksi Akademis dan Kekayaan Sejarah
Keterbatasan kajian kepesantrenan di berbagai UIN, IAIN, dan STAIN saat ini menyisakan potensi besar yang belum terpetakan. Meskipun beberapa institusi telah memiliki pusat studi kepesantrenan, aktivitasnya dinilai belum mampu mengungkap kekayaan warisan intelektual yang dimiliki pesantren secara utuh. Mastuki mendorong agar institusi tersebut lebih agresif dalam mengembangkan kurikulum yang mengakomodasi etape sejarah panjang pesantren di Indonesia.
- Sumber Daya: Pesantren memiliki referensi dan rujukan ilmiah yang melimpah.
- Dimensi Sejarah: Pesantren memiliki etape sejarah panjang dalam pendidikan nasional.
- Rekomendasi Kebijakan: Pembukaan prodi melalui naskah akademik dan expert judgement.
Pesantren sebagai Sentra Ekonomi dan Subkultur
Di luar aspek akademik, Mastuki juga menyoroti peran pesantren sebagai 'holding company' yang mengelola berbagai aktivitas produktif, termasuk unit-unit bisnis yang mendukung kemandirian ekonomi umat. Mengutip esai Abdullah Wijaya (Gus Dur), pesantren dikategorikan sebagai subkultur; sebuah sistem kehidupan mandiri yang memiliki nilai, norma, dan tradisi khas berbeda dari budaya dominan namun tetap terintegrasi dalam masyarakat. Langkah ini diharapkan memperkuat posisi pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pilar ekonomi kerakyatan.
BERITA TERKAIT (Berita Nasional)

Krisna Bayu Kritik Sistem SEA Games 2027: Reformasi Mendesak untuk Menjaga Keadilan Olahraga

Di Tengah Badai Flu, Gol Istimewa Ivan Mamut Jadi Pembeda Persija vs Persebaya

Fusi Budaya Sunda-Betawi dan Teknologi Canggih Tandai Pembukaan Porprov XV Jawa Barat 2026
